Sabtu, 08 Juni 2013

BAB 4 Teori komunikasi organisasi

Teori–teori Komunikasi Organisasi Teori-teori Komunikasi Organisasi PENDAHULUAN omunikasi adalah sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan ataupun pendapat dari setiap partisipan komunikasi yang terlibat di dalamnya guna mencapai kesamaan makna. Tindakan komunikasi tersebut dapat dilakukan dalam beragam konteks. Kita dapat berkomunikasi dengan orang lain dalam konteks antarpribadi (interpersonal communication), kita bisa pula berbagi pesan dalam konteks kelompok (group communication), dapat juga dalam lingkup organisasi (organizational communication), Berta tindak komunikasi kita dengan memanfaatkan pesan dari media massa (mass communication). Salah satu konteks komunikasi yang menarik untuk dikaji adalah tindakan" komunikasi dalam suatu organisasi, karma pemahaman mengenai peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi di dalamnya, seperti apakah instruksi pimpinan sudah dilaksanakan dengan benar oleh karyawan ataupun bagaimana bawahan mencoba menyampaikan keluhan kepada atasan, memungkinkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai, sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ini hanya satu contoh sederhana untuk memperlihatkan bahwa komunikasi merupakan aspek penting dalam suatu organisasi, baik organisasi yang bertujuan mencari keuntungan ekonomi maupun organisasi yang bersifat social kemasyarakatan. Bahasan yang ada dalam modul ini, akan terdiri dari tiga kegiatan belajar, yaitu pentingnya komunikasi dalam organisasi, memahami komunikasi dalam organisasi dan beberapa pendekatan dalam komunikasi organisasi. Setiap kegiatan belajar akan dibahas secara lebih rinci beberapa aspek penting yang berkaitan dengan kegiatan belajar tersebut. Karenanya, mempelajari materi dari modal ini dengan cermat merupakan langkah terbaik untuk memahami komunikasi yang berlangsung dalam suatu organisasi. Setelah mempelajari modal ini, Anda diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi dalam suatu organisasi K Modul 4 Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 2 Setelah mempelajari masing-masing kegiatan belajar dengan baik, Anda diharapkan mampu: 1. menjelaskan pengertian tenting komunikasi organisasi; 2. menguraikan berlangsungnya suatu proses komunikasi; 3. menjelaskan fungsi komunikasi dalam organisasi; 4. menyebutkan dan menguraikan gaya komunikasi dalam organisasi; 5. menjelaskan upaya memperbaiki kemampuan komunikasi organisasi; 6. mengenal beberapa pendekatan dalam komunikasi organisasi. KEGIATAN BELAJAR 1 Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 3 Pentingnya Komunikasi dalam Organisasi Dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi merupakan suatu tindakan yang memungkinkan kita mampu menerima dan memberikan informasi atau pesan sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Secara teoretis, kita mengenal beragam tindakan komunikasi berdasarkan pada konteks di mina komunikasi tersebut dilakukan, yaitu konteks komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Komunikasi organisasi sangat penting dan layak untuk dipelajari, karena sekarang ini banyak orang yang tertarik dan memberi perhatian kepadanya guna mengetahui prinsip dan keahlian komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan tujuan organisasi, baik organisasi komersial seperti lembaga bisnis dan industri ataupun organisasiorganisasi sosial seperti lembaga rumah sakit maupun institusi pendidikan. Di samping itu penting juga mempelajari arus komunikasi yang berlangsung dalam suatu organisasi, yaitu arus komunikasi vertikal yang terdiri dari arus komunikasi dari atas ke bawah (downward communication) dan arus komunikasi dari bawah ke atas (upward communication) Berta arus komunikasi yang berlangsung antara dan di antara bagian ataupun karyawan dalam jenjang atau tingkatan yang sama. Arus komunikasi ini dikenal dengan nama komunikasi horizontal. A. PENGERTIAN KOMUNIKASI ORGANISASI Sebelum kita membahas pengertian komunikasi organisasi, sebaiknya kita uraikan terminologi yang melekat dalam konteks komunikasi organisasi, yaitu komunikasi dan organisasi. Komunikasi berasal dari bahasa Latin communis atau common dalam bahasa Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita sedang berusaha untuk mencapai kesamaan makna, 'commonness'. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya. Kendala utama dalam berkomunikasi adalah kita Sering kali mempunyai makna yang Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 4 berbeda terhadap lambang yang sama. Oleh karena itu, komunikasi seharusnya dipertimbangkan sebagai aktivitas di mana tidak ada tindakan atau ungkapan yang diberi makna secara penuh, kecuali jika diinterpretasikan oleh partisipan komunikasi yang terlibat, demikian pengertian komunikasi yang diberikan Kathleen K. Reardon dalam buku Interpersonal Communication, Where Minds Meet (1987). Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam buku Human Communication menguraikan adanya 3 model dalam komunikasi. Pertanza, model komunikasi linier, yaitu pandangan komunikasi satu arah (one-way view of communication). Dalam model ini, komunikator memberikan suatu stimuli dan komunikan melakukan respons atau tanggapan yang diharapkan, tanpa mengadakan seleksi dan interpretasi. Contoh dalam model komunikasi linier ini adalah teori jarum suntik (hypodermic needle theory). "Jika saya ingin mempersuasi Anda, maka saya menyuntikkan satu dosis persuasi kepada Anda, sehingga Anda akin 'Iekas sembuh' dan melakukan apa yang saya inginkan", dernikian pandangan dari teori jarum suntik tersebut. Model komunikasi yang kedua adalah interaksional yang merupakan kelanjutan dari Pendekatan linier-"' Pada model komunikasi interaksional, diperkenalkan gagasan tentang umpan balik (Feedback). Dalam model ini, penerima (receiver) melakukan seleksi, interpretasi dan memberikan respons terhadap pesan dari pengirim (sender). Komunikasi dalam model ini, dipertimbangkan sebagai proses dua arah (two-way) ataupun cyclical process, di mana setiap partisipan memiliki peran ganda, dalam arti pada satu saat bertindak sebagai sender, namun pada waktu yang lain berlaku sebagai receiver, penerima pesan. Model yang ketiga adalah transaksional. Dalam pandangan transaksional, komunikasi hanya dapat dipahami dalarn konteks hubungan (relationship) di antara dua orang atau lebih. pandangan ini nieneLnkan bahwa semua perilaku adalah komunikatif, tidak ada satu pun yang tidak dapat dikomunikasikan. Mengenai organisasi, salah satu definisi menyebutkan bahwa organisasi merupakan satu kumpulan atau sistem individual yang melalui satu hierarki jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai tujuan yang ditetapkan (an organization is a collection, or system, of individuals who commonly, through a hierarchy and division of labor, seek to achieve a predetermined goal). Dari batasan tersebut dapat digambarkan bahwa di dalam suatu organisasi mensyaratkan adanya suatu jenjang jabatan ataupun Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 5 kedudukan yang memungkinkan semua individu dalam organisasi tersebut memiliki perbedaan posisi yang sangat jelas, seperti pimpinan, staf pimpinan dan karyawan. Di samping itu, dalam organisasi juga mensyaratkan adanya pembagian kerja, dalam arti setiap orang dalam sebuah institusi baik yang komersial maupun social, memiliki satu biding pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi organisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam konteks organisasi. Atau dengan meminjam definisi dari Goldhaber, komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya soling bergantung satu soma lain (the flow of messages Within network of interdependent relationships). Sebagaimana telah disebut terdahulu, bahwa arus komunikasi dalam organisasi meliputi komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal. Masingmasing arus komunikasi tersebut mempunyai perbedaan fungsi yang sangat tegas. Ronald Adler dan George Rodman dalam buku Understanding Human Communication, mencoba menguraikan masing-masing fungsi kedua arus komunikasi dalam organisasi tersebut. Pertama adalah downward communication. Komunikasi ini berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah: 1. pemberian atau penyampaian instruksi kerja (job instruction); 2. penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job rationale); 3. penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices); 4. pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik. Sedangkan upward communication terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah: 1. penyampaian informasi tentang pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan; 2. penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan; 3. penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan; Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 6 4. penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya. Arus komunikasi berikutnya adalah horizontal communication. Tindak komunikasi ini berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horizontal ini adalah: 1. memperbaiki koordinasi togas; 2. upaya pemecahan masalah; 3. Baling berbagi informasi; 4. upaya memecahkan konflik; 5. membina hubungan melalui kegiatan bersama. B. PROSES KOMUNIKASI Dalam tataran teoretis, paliAg tidak kita mengenal atau memahami komunikasi dari dua perspektif, yaitu perspektif kognitif dan perilaku. Komunikasi menurut Colin Cherry, yang mewakili perspektif kognitif, adalah penggunaan lambang-lambang (symbols) untuk mencapai kesamaan makna atau berbagi informasi tentang satu objek atau kejadian. Informasi adalah sesuatu (fakta, opini, gagasan) dari satu partisipan kepada partisipan lain melalui penggunaan kata-kata atau lambing lainnya. Jika pesan yang disampaikan diterima secara akurat, receiver akan memiliki informasi yang sama seperti yang dimiliki sender, oleh karena itu tindak komunikasi telah terjadi. Sementara B.F. Skinner dari perspektif perilaku memandang komunikasi sebagai perilaku verbal atau simbolik di mana sender berusaha mendapatkan satu efek yang dikehendakinya pada receiver. Masih dalam perspektif perilaku, FEX. Dance menegaskan bahwa komunikasi adalah adanya satu respons melalui lambang-lambang verbal di mana simbol verbal tersebut bertindak sebagai stimuli untuk memperoleh respons. Kedua pengertian komunikasi yang disebut terakhir, mengacu pada hubungan stimulus-respons antara sender dan receiver. Setelah kita memahami pengertian dari dua perspektif yang berbeda, kita mencoba melihat proses komunikasi dalam suatu organisasi khusus diharapkan oleh pengirim (sender) dari setiap pesan yang disampaikannya. Ketika satu pesan mempunyai efek yang dikehendaki, bukan suatu persoalan apakah informasi yang disampaikan tersebut merupakan tindak berbagi informasi atau tidak. Sekarang kita mencoba memahami proses komunikasi antarmanusia Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 7 yang disajikan dalam suatu model berikut: MODEL KOMUNIKASI ANTARMANUSIA Somber : Jerry W. Koehler, Karl W.E. Anatol, Ronald L. Applbaum: organizational Communication, Behavioral Perspectives, hat. 6. Proses komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain. Langkah pertama yang dilakukan sumber adalah ideation yaitu penciptaan satu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk dikomunikasikan. Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan disampaikan. Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud kata-kata, tanda-tanda atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain. Pesan atau message adalah alat-alat di mana sumber mengekspresikan gagasannya dalam bentuk bahasa lisan, bahasa tertulis ataupun perilaku nonverbal seperti bahasa isyarat, ekspresi wajah atau gambar-gambar. Langkah ketiga dalam proses komunikasi adalah penyampaian pesan yang telah disandi (encode). Sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan cara berbicara, menulis, menggambar ataupun mclalui suatu widakan tertentu. Pada langkah ketiga ini, kita mengenal istilah channel it"m saluran, yaitu alat-alat untuk menyampaikan suatu pesan. Info SOURCE RECEIVER CHANNEL Message Transsmitted by Encode Listening Reading Observing Reception by Decode Feedback Words Actions Pictures Ideations Decode Encode Speaking Writing Acting Drawing Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 8 saluran LIMA komunikasi lisan adalah komunikasi tatap muka, radio dan telepon. Sedangkan saluran untuk komunikasi tertulis meliputi setiap materi yang tertulis ataupun sebuah media yang dapat mereproduksi kata-kata tertulis seperti: televisi, kaset video atau OHP (overhead projector). Sumber berusaha untuk membebaskan saluran komunikasi dari gangguan ataupun hambatan, sehingga pesan dapat sampai kepada penerima seperti yang dikehendaki. Langkah keempat, perhatian dialihkan kepada penerima pesan. Jika pesan itu bersifat lisan, maka penerima perlu menjadi seorang pendengar yang baik, karena jika penerima tidak mendengar, pesan tersebut akan hilang. Dalarn proses ini, penerima melakukan decoding, yaitu memberikan penafsiran/interpretasi terhadap pesan yang disampaikan kepadanya. Pemahaman (understanding) merupakan kunci untuk melakukan decoding dan hanya terjadi dalam pikiran penerima. Akhirnya penerimalah yang akan menentukan bagaimana memaharni suatu pesan dan bagaimana pula memberikan respons terhadap pesan tersebut. Tahap terakhir dalam proses komunikasi adalah feedback atau umpan balik yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali pesan yang telah disampaikannya kepada penerima. Respons atau umpan balik dari penerima terhadap pesan yang disampaikan sumber dapat berwujud kata-kata ataupun tindakan-tindakan tertentu. Penerima bisa mengabaikan pesan tersebut ataupun menyimpannya. Umpan balik inilah yang dapat dijadikan landasan untuk mengevaluasi efektivitas komunikasi. 1. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, tindak komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu: fungsi informatif, regulatif, persuasif dan integratif. Kita akan membahas fungsi-fungsi di atas secara terperinci. 1. Fungsi Informatif Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing systems). Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti. Informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 9 kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi kontlik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi untuk melaksanakan pekerjaan, di samping itu juga informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya. 2. Fungsi Regulatif Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini. Pertama, atasan atau orangorang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Di samping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberi instruksi atau perintah, sehingga dalarn struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of authority) supaya perintahperintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya. Namun demikian sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung pada: 1. keabsahan pimpinan dalam menyampaikan perintah, 2. kekuatan pimpinan dalam memberi sanksi, 3. kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi, 4. tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan. Kedua, berkaitan dengan pesan atau message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan. 3. Fungsi Persuasif Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan wring memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya. 4. Fungsi Integratif Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 10 Setiap organisasi berusaha untuk menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan balk. Ada dua saluran komunikasi yang dapat mewujudkan hal tersebut, yaitu saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan kemajuan organisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olah raga ataupun kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi. KEGIATAN BELAJAR 2 Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 11 Memahami Komunikasi dalam Organisasi ersoalan-persoalan mengenai gaya komunikasi, pengaruh kekuasaan dalam organisasi clan upaya memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam organisasi, merupakan bahan-bahan yang akan clibahas dalam Kegiatan Belajar 2 berikut. Gaya komunikasi atau communication style akan memberikan pengetahuan kepada kite tenting bagaimana perilaku orang-orang dalam suatu organisasi ketika mereka melaksanakan tindak berbagi informasi dan gagasan. Sementara pada pengaruh kekuasaan dalam organisasi, kita akan mengkaji jenis-jenis kekuasaan yang digunakan oleh orang-orang dalam tataran manajemen sewaktu mereka mencoba mempengaruhi bawahan. Dan pada bahasan mengenai bagaimana memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam organisasi, kita akan diajak untuk inemikirkan bagaimana mendefinisikan tujuan kita sehubungan dengan tugas dalam organisasi, bagaimana kita memilih orang yang tepat untuk diajak kerja sama clan bagaimana kita memilih saluran yang efektif untuk melaksanakan tugas tersebut. A. GAYA KOMUNIKASI Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of interpersonal behaviors that are used in a given situation). Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respons atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula. Kesesuaian dari situ gaya komunikasi yang digunakan bergantung pada maksud dari pengirim (sender) clan harapan dari penerima (receiver). Ada enam gaya komunikasi yang akan kita bahas dalam Kegiatan Belajar 2 ini, yaitu Controlling Style, Equalitarian Style, Structuring Style, Dynamic Style dan Relinquishing Style Berta Withdrawal Style. 1. The Controlling Style P Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 12 Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communicators. Pihak-pihak yang memakai Controlling Style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para komunikato- satu arch tersebut tidak khav atir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusal..t menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk mernaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya. Pesan-pesan yang berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha menjual gagasan agar dibicarakan bersama, namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya. The Controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi oran,-, lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demikian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula. 2. The Equalitarian Style Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication). Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. The equalitarian style ini akin lebih memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 13 berlangsungnya tindak berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi. 3. The Structuring Style Gaya komunikasi yang terstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut. Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul. 4. The Dynamic Style Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawahi para wiraniaga (salesmen). Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah menstimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut. 5. The Relinguishing Style Gaya komunikasi ini lebili mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain. Pecan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja lama dengan orang-orang yang Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 14 berpengetahuan lugs, berpengalaman, teliti Berta bersedia untuk bertanggung jawab atas sernua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya. 6. The Withdrawal Style Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karma ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut. Dalam deskripsi yang konkret adalah ketika seseorang mengatakan: "Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini". Pernyataan ini bermakna bahwa is inencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya komunikasi ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi organisasi. Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya: structuring, dynamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategic untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling, dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat dan produksi TABEL GAYA KOMUNIKASI Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 15 Gaya Komunikator Maksud Tujuan Controlling Membeh perintah, butuh Mempersuasi Menggunakan perhatian orang lain orang lain kekuasaan dan wewenang Equalitarian Akrab, hangat Menstimulasi orang lain Menekankan pengertian bersama Structuring Objektif, tidak memihak Mensistemisasi lingkungan keda, memantapkan struktur Menegaskan ukuran, prosedur, aturan yang dipakai Dynamic Mengendalikan, agresif Menumbuhkan sikap untuk bertindak Ringkas dan singkat Relinguishing Bersedia menerima Mengalihkan Mendukung gagasan orang lain tanggung jawab kepada orang lain. pandangan orang lain withdrawal Independen/berdiri Menghindad Mengalihkan Sendiri komunikasi Persoalan Sumber: Jerry W Koehler, Kar I W.E. Anatol, Ronald L. Applbaum: Organizational Communication, Behavioral Perspectives.. hal. 48 B. KEKUASAAN DALAM ORGANISASI Orang-orang yang berada pada pucuk pimpinan suatu organisasi seperti: manajer, direktur, kepala dan sebagainya, memiliki kekuasaan (power) dalam konteks mempengaruhi perilaku orang-orang yang secara strukturat organisatoris berada di bawahnya. Sebagian pemimpin menggunakan kekuasaan dengan efektif, sehingga mampu menumbuhkan motivasi bawahan untuk bekerja dan melaksanakan tugas dengan lebih baik. Namun, sebagian pemimpin lainnya tidak mampu memakai Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 16 kekuasaan dengan efektif, sehingga aktivitas untuk melaksanakan pekerjaan dan tugas tidak dapat dilakukan dengan baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita bahas secara terperinci jenisjenis kekuasaan yang Bering digunakan dalam suatu organisasi. Dalam pengertiannya, kekuasaan adalah kualitas yang melekat dalam satu interaksi antara dua atau lebih individu (a quality inherent in an interaction between two or more individuals). Jika setiap individu mengadakan interaksi untuk mempengarAi tindakan satu sama lain, maka Yang muncul dalam interaksi tersebut adalah pertukaran kekuasaan. Menurut French dan Raven, ada lima tipe kekuasaan, yaltil: lewarel, coercive, referent, expert dan legitimate power. 1. Reward Power Tipe kekuasaan ini memusatkan perhatian pada kernampuan untuk memberi ganjaran atau imbalan atas pekerjaan atau tugas yang dilakukan orang lain. Kekuasaan ini akan terwujud melalui suatu kejadian atau situasi Yang memungkinkan orang Twin menemukan kepuasan. Dalam deskripsi konkret adalah "jika Anda dapat menjamin atau memberi kepastian gaji atau jabatan saya meningkat, Anda dapat menggunakan reward power Anda kepada saya". Pernyataan ini mengandung makna, bahwa seseorang dapat melakukan reward power karena ia mampu memberi kepuasan kepada orang lain. 2. Coercive Power Kekuasaan yang bertipe paksaan ini, lebih memusatkan pandangan pada kemampuan untuk memberi hukuman kepada orang lain. Tipe koersif ini berlaku jika bawahan merasakan bahwa atasannya mempunyai 'lisensi' untuk menghukum dengan tugas-tugas yang sulit, mencaci-maki sampai kektiasaannya memotong gaji karyawan. Menurut David Lawless, jika tipe kekuasaan yang koersif ini terlalu banyak digunakan, akan membawa kemungkinan bawahan inclakukan tindakan balas dendam atas perlakuan atau hukuman yang dirasakannya tidak adil, bahkan sangat mungkin bawahan atau karyawan akan meninggalkan pekerjaan yang i-nenjadi tanggung jawabnya. 3. Referent Power Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 17 Tipe kekuasaan ini didasarkan pada satu hubungan 'kesukaan' atau liking, dalam arti ketika seseorang mengidentifikasi orang lain yang mempunyai kualitas atau persyaratan seperti yang diinginkannya. Dalam uraian yang lebih konkret, seorang pimpinan akan mempunyai referensi terhadap para bawahannya yang mampu melaksanakan pekerjaan danbertanung jawab atas pekerjaan yang diberikan atasannya. 4. Expert Power Kekuasaan yang berdasar pada keahlian ini, memfokuskan diri pada suatu keyakinan bahwa seseorang yang mempunyai kekuasaan, pastilah ia memiliki pengetahuan, keahlian dan informasi yang lebih banyak dalam suatu persoalan tertentu. Seorang atasan akan dianggap memiliki expert power tentang pemecahan suatu persoalan tertentu, kalau bawahannya selalu berkonsultasi dengan pi mpinan tersebut dan menerima jalan pemecahan yang diberikan pimpinan. Inilah indikasi dari munculnya expert power. 5. Legitimate Power Kekuasaan yang sah adalah kekuasaan yang sebenarnya (actual power), ketika seseorang melalui suatu persetujuan dan kesepakatan diberi hak untuk mengatur dan menentukan perilaku orang lain dalam suatu organisasi. Tipe kekuasaan ini masih bersandar pada struktur social dalam suatu organisasi, dan terutama pada nilai-nilai kultural. Dalam contoh yang nyata, jika seseorang dianggap lebih tua, memiliki senioritas dalam organisasi, maka orang lain setuju untuk 'mengizinkan' orang tersebut melaksanakan kekuasaan yang sudah dilegitimasi tersebut. Dari lima tipe kekuasaan di atas, mana yang terbaik? Scott dan Mitchell menawarkan satu jawaban. Harus diingat bahwa kekuasaan hampir selalu berkaitan dengan praktik-praktik seperti penggunaan rangsangan (insentio) atau paksaan (coercion) guna mengamankan tindakan menuju tujuan yang telah ditetapkan. Scharusnya orang-orang yang berada di pucuk pimpinan, mengupayakan untuk sedikit menggunakan insentif dan koersif. Sebab secara alamiah cara yang paling efisien dan ekonomis supaya bawahan secara sukarela dan patuh untuk melaksanakan pekerjaan adalah dengan cara mempersuasi mereka. Cara-cara koersif dan insentif ini selalu lebih mahal, dibanding jika karyawan secara spontan termotivasi untuk mencapai tujuan organisasi yang mereka pahami berasal dari kewenangan yang sah (legitimate authority). Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 18 C. MEMPERBAIKI KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Salah satu karakteristik komunikasi antarmanusia (human communication) menegaskan, bahwa tindakan komunikasi akan mempunyai efek yang dikehendaki (intentional effect) dan efek yang tidak dikehendaki (unintentional effect). Pernyataan tersebut bermakna, bahwa apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan pada orang lain tidak selalu diinterpretasikan sama sepern yang kita kehendaki. Kenyataan ini dapat terjadi pada setiap konteks komunikasi, baik konteks komunikasi antarpribadi, kelompok, massa, ataupun komunikasi organisasi. Mengakhiri uraian pada Kegiatan Belajar 2 ini, kita akan membahas prinsip-prinsip umum untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam organisasi. Prinsip yang pertam4 adalah bagaimana mendefinisikan tujuan kita berkomunikasi. Orang berkomunikasi untuk memperoleh hasil yang diharapkan, namun mereka tidak selalu tabu dengan tepat hasil-hasil apa Yang mereka sari. Untuk itulah, memberi batasan terhadap tujuan kita berkomunikasi merupakan faktor yang menentukan keberhasilan kita berkomunikasi dalam suatu organisasi. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mendefinisikan tujuan berkomunikasi, yaitu apa yang kita inginkan untuk terjadi. Artinya pastikan bahwa tujuan kita berkomunikasi sudah spesifik, karena kalau tujuan kita tidak jelas, maka kita tidak akan selalu slap untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Cara kedua yang dilakukan adalah memastikan apakah tujuan kita realistis, dalam arti apa tujuan yang kita harapkan memiliki peluang untuk berhasil atau tidak. Misalnya, apakah atasan kita akan mempromosikan jabatan kita atau menaikkan gaji kita, kalau penampilan dan prestasi kerja kita masih di bawah ukuran normal? Kalau itu yang terjadi, maka tujuan kita tidak realistis. Prinsip kedua dalam memperbaiki kemampuan berkomunikasi dalam organisasi adalah bagaimana memilih audiens yang `terbaik'. Setiap pesan yang kita sampaikan akan mempunyai beberapa audiens yang potensial, karena berkomunikasi dengan setiap orang mensyaratkan satu pendekatan Yang berbcda dan kemungkinan akan mendapatkan hasil yang berbeda pula. Dalam suatu organisasi, Prosedur yang ada biasanya mensyaratkan orang untuk menjelaskan setiap gagasan ataupun persoalannya kepada Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 19 orang lain dengan tegas. Kalau pimpinan suatu organisasi terlalu sibuk, tidak ramah ataupun tidak tertarik dengan gagasan ataupun persoalan yang kita lontarkan, masih ada cara lain untuk menyampaikan keinginan kita, misalnya dalam suatu pertemuan yang diadakan. Oleh karena itu, memilih siapa audiens yang memungkinkan kita dapat menyampaikan persoalan, pendapat ataupun gagasan secara bebas, perlu kita perhatikan kalau kita menginginkan pesanpesan organisasional yang kita sampaikan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Prinsip ketiga adalah menggunakan saluran (channel) yang terbaik. Ada beberapa saluran komunikasi baik secara lisan maupun tertulis yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan organisasional. Memilih satu dari beberapa saluran komunikasi yang ada seharusnya tidak menjadi keputusan yang dilakukan secara sambil lalu, karena setiap saluran komunikasi mempunyai keuntungan sekaligus kerugian. Ada dua jenis saluran, yaitu saluran komunikasi lisan (oral communication) dan saluran komunikasi tertulis (written communication). Keuntungan terbesar dari komunikasi lisan adalah kecepatannya, dalam arti ketika kita melakukan tindak komunikasi dengan orang lain, pesan dapat disampaikan dengan segera. Aspek kecepatan ini akan bermakna kalau waktu menjadi persoalan yang esensial. Keuntungan kedua dari oral communication ini adalah munculnya umpan balik yang segera (instant feedback). Artinya, penerima pesan dapat dengan segera memberi tanggapan alas pesan-pesan Yang kita sampaikan. Dan keuntungan ketiga dari tindak komunikasi lisan adalah memberi kesempatan kepada pengirim pesan untuk mengendalikan situasi, dalam arti sender dapat melihat keadaan penerima pesan pada saat berlangsungnya tindak komunikasi tersebut. Jika kita memiliki kemampuan berbicara yang baik, memungkinkan pesan-pesan yang kita sampaikan akan menjadi lebih jelas dan cukup efektif untuk dapat diterima oleh receiver. Sedangkan pada komunikasi tertulis, keuntungannya adalah bahwa is bersifat permanen, karena pesan-pesan organisasional yang disampaikan dilakukan secara tertulis. Selain itu, catatan-catatan tertulis juga mencegah kita untuk melakukan penyimpangan (distorsi) terhadap gagasan-gagasan yang kita sampaikan. Dengan perkataan lain, ada jaminan bahwa apa yang kita katakan adalah apa yang akan diterima receiver. Mana yang terbaik dari kedua saluran komunikasi di atas? Tidak ada jawaban atas pertanyaan tersebut, karena beberapa pesan hanya akan efektif kalau disampaikan secara lisan dan beberapa pesan lain akan lebih mudah diterima, apabila disampaikan secara tertulis. Oral communication biasanya disarankan untuk dilakukan, kalau pesan yang Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 20 ingin disampaikan bersifat pribadi. la juga berguna kalau kita membutuhkan umpan balik yang cepat. Sementara komunikasi tertulis merupakan pilihan terbaik kalau kita menginginkan pesan yang kita sampaikan menjadi lebih formal atau resmi. Juga saluran tertulis akan lebih baik jika kita harus memilih kata-kata dengan cermat, di samping juga kalau kita ingin mengomunikasikan gagasan-gagasan yang rumit (complicated). Komunikasi Lisan dan Komunikasi Tertulis Komunikasi Lisan Komunikasi Tertulis Lebih personal (pribadi) Efektif untuk gagasan yang relatif sederhana Lebih formal (resmi) Efektif untuk gagasan yang relatif kompleks Memberikan umpan balik segera Memberikan umpan balik yang tertunda Ada catatan resmi Off the record Efektif kalau mencan respons yang cepat dan emosional — - I Efektif kalau mencari respons yang tertunda Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding Human Communication, Second Edition, hal 249 KEGIATAN BELAJAR 3 Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 21 Beberapa Pendekatan dalam Komunikasi Organisasi osiolog Amitai Etzioni mengatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat organisasi. Kita dilahirkan dalam organisasi dan dididik dalam suatu organisasi pula serta sebagian benar dari kita menghabiskan mayoritas hidupnya dengan bekerja untuk organisasi. Dalam Kegiatan Belajar 3 ini, kita akan mempelajari beberapa pendekatan yang berhubungan dengan pelaksanaan komunikasi dalam suatu organisasi. Pendekatan-pendekatan tersebut meliputi struktur dan fiingsi organisasi; hubungan manusiawi (human relations); komunikasi sebagai proses pengorganisasian serta pendekatan organisasi sebagai kultur. A. PENDEKATAN STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANISASI Teori pertama yang memiliki keterkaitan dengan pendekatan ini adalah teori birokrasi yang diperkenalkan oleh Max Weber, seorang teoritisi terkenal sepanjang zaman. la mendefinisikan organisasi sebagai sistem dari suatu aktivitas tertentu yang bertujuan dan berkesinambungan. Intl dari teori Weber mengenai birokrasi adalah konsep mengenai kekuasaan, wewenang dan legitimasi. Menurut Weber, kekuasaan adalah kemampuan seseorang dalam setiap hubungan sosial guna mempengaruhi orang lain. la juga mengemukakan adanya tiga jenis kewenangan (otoritas), yaitu otoritas tradisional, otoritas birokratik (rasional-legal) dan otoritas karismatik. Kewenangan tradisional terjadi ketika perintah atasan dirasakan sebagai sesuatu yang sudah pastas atau sudah benar menurut ukuran tradisi. Sedangkan kewenangan birokratik merupakan bentuk yang paling relevan dalam birokrasi, karena kekuasaan diperoleh dari aturan-aturan birokrasi yang disepakati oleh seluruh anggota organisasi. Dan kewenangan karismatik merupakan kekuasaan yang diperoleh karena karisma dari kepribadian seseorang. Selain itu, Weber juga mengemukakan pandangannya mengenai enam prinsip birokrasi yang terdiri dari: 1. birokrasi didasarkan pads aturan-aturan yang memungkinkan diselesaikannya suave persoalan; 2. birokrasi mengenai pembagian secara sistematis terhadap tenaga kerja. Setiap tenaga kerja memiliki hak dan kekuasaan yang terdefinisikan secara jelas; S Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 22 3. esensi dari birokrasi adalah adanya penjenjangan (hierarki); 4. pimpinan diangkat berdasarkan kemampuan dan pendidikan mereka; 5. birokrasi harus memiliki kebebasan untuk mengalokasikan sumber-sumber yang ada dalam lingkup pengaruhnya; 6. birokrasi mensyaratkan pengelolaan arsip yang rapi. Teori lain yang berhubungan dengan pendekatan struktur dan fungsi organisasi adalah teori sistem. Salah satu teoritisinya adalah Chester Barnard yang merupakan Presiders dari Bell Telephone Company di New Jersey, Amerika Serikat. Barnard mengungkapkan sebuah tesis, bahwa organisasi hanya dapat berlangsung melalui kerja sama antar manusia, dan bahwa kerja sama adalah sarana di mana kemampuan individu dipadukan guna mencapai tujuan bersama atau tujuan yang lebih tinggi. Selain itu, kita juga dapat menyimak karya Daniel Katz dan Robert Kahn yang mengatakan bahwa sebagai suatu sistem sosial, organisasi memiliki keunikan di dalam kebutuhannya guna memelihara berbagai masukan untuk menjaga agar perilaku manusia di dalam organisasi tersebut tetap dalam keadaan terkendali. Dengan perkataan lain, sistem memiliki tujuan-tujuan bersama yang mengharuskannya menomor-duakan kebutuhan individu-individu. B. PENDEKATAN HUBUNGAN MANUSIAWI (HUMAN RELATIONS) Dalam banyak hal, pendekatan struktural dan fungsional mengenai organisasi hanya menekankan pada produktivitas dan penyelesaian tugas, sedangkan faktor manusia dipandang sebagai variabel dalam suatu pengertian yang lebih luas. Menurut Chris Agrys, praktik organisasi yang demikian dipandang tidak manusiawi, karena penyelesaian suatu pekerjaan telah mengalahkan perkembangan individu dan keadaan ini berlangsung secara berulang-ulang. Atau dalam bahasa Agrys, ketika kompetensi teknis tinggi, maka kompetensi antarpribadi dikurangi. Oleh karena itu, munculnya pendekatan human relations ini merupakan kritik terhadap perspektif struktural fungsional. Ada beberapa anggapan dasar dari pendekatan human relations, yaitu: 1. produktivitas ditentukan oleh norma sosial, bukan faktor psikologis; Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 23 2. seluruh imbalan yang bersifat non-ekonomis, sangat penting dalam mernotivasi para karyawan; 3. karyawan biasanya memberikan reaksi terhadap suatu persoalan, lebih sebagai anggota kelompok daripada individu; 4. kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dan mencakup aspek-aspek formal dan informal; 5. penganut aliran human relations menganggap komunikasi sebagai fasilitator penting dalam proses pembuatan keputusan. Teori mengenai human relations lebih terperinci, dikemukakan oleh Rensis Likert dan dikenal dengan Hama Empat Sistem Likert, yaitu sistem exploitative authoritative; sistem benevolent-authoritative; sistem consultative dan sistem participative management. Sistem yang pertama, exploitative authoritative, pimpinan menggunakan kekuasaan dengan Langan besi. Keputusan yang dibuat oleh pimpinan tidak memanfaatkan atau memperhatikan umpan balik dari para bawahannya. Sedangkan sistem kedua, benevolent authoritative, hampir sama dengan sistem yang pertama. Perbedaannya, pada sistem yang kedua, pimpinan cukup memiliki kepekaan terhadap kebutuhan para karyawan. Pada sistem yang ketiga, consultative, pimpinan masih memegang kendali, namun mereka juga mencari masukan-masukan dari bawah. Dan sistem yang keempat, participative management, mernberi kesempatan kepada para karyawan untuk berpartisipasi penuh dalam proses pengambilan keputusan. Sistem ini mengarahkan para bawahan untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan motivasi bekerja yang lebih baik. C. PENDEKATAN KOMUNIKASI SEBAGAI SUATU PROSES PENGORGANISASIAN Salah satu gagasan paling penting dalam referensi tentang komunikasi organisasi adalah, bahwa komunikasi bukan semata-mata sesuatu yang dilakukan oleh para anggota organisasi, bukan pula merupakan alai untuk menyelesaikan suatu persoalan. Namun, komunikasi itu sendiri lebih dipandang sebagai suatu proses pengorganisasian. Dalam bahasan ini, kita akan menyimak dua teori yang dikemukakan oleh Carl Weick dan Marshall Scott Poole mengenai teori pengorganisasian, Berta teori strukturasi dalam organisasi yang merupakan basil pemikiran Robert D. McPhee. Teori pengorganisasian memandang organisasi bukan sebagai struktur atau kesatuan, tetapi suatu aktivitas. Oleh karena itu, lebih sesuai untuk disebut sebagai 'pengorganisasian' dari organisasi, sebab organisasi adalah Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 24 sesuatu yang akan dicapai oleh sekelompok orang melalui proses yang terus-menerus dilaksanakan. Jadi ketika sekelompok orang melakukan apa yang mereka lakukan, dalam arti aktivitas mereka menciptakan organisasi, maka pengorganisasian dilakukan secara berkesinambungan. Esensi dari setiap organisasi adalah bahwa orang bertindak atau beraksi dalam suatu Cara tertentu, sehingga perilaku mereka saling terkait. Dalam deskripsi yang konkret, perilaku seseorang bergantung pada perilaku orang lain. Ukuran dasar dari perilaku yang saling terkait tersebut adalah, bahwa komunikasi inernainkan peran di antara orang-orang dalam organisasi. Jadi aktivitas pengorganisasian terdiri dari interaksi ganda', yaitu suatu tindakan yang diikuti oleh suatu respons dan kemudian tindakan penyesuaian oleh orang pertama. Contoh: seorang pimpinan meminta sekretarisnya untuk melakukan sesuatu (aksi). Ka rena belum paham, sekretaris meminta penjelasan kepada pimpinann~a (interaksi), dan pimpinan tersebut menjelaskan kembali perintahnya tersebut (interaksi ganda). Weick sangat meyakini bahwa seluruh aktivitas pengorganisasian adalah interaksi ganda, karena dari aktivitas seperti yang dicontohkan di atas, suatu organisasi dibangun. Pemikiran strukturasi dalam organisasi yang dikemukakan Poole dan McPhee, dijelaskan bahwa struktur organisasi diciptakan ketika sekelompok orang saling berkomunikasi melalui saluran tertentu. Komunikasi tersebut terjadi dalam tiga tempat atau pusat-ousat dari strukturasi, yaitu konsepsi, implementasi dan penerimaan (reception). Pertania adalah tempat dari `konsepsi' yang meliputi seluruh bagian dari kehidupan organisasi di many orang-orang membuat berbagai keputusan dan pilihan. Contoh: ketika sebuah panitia yang dibentuk oleh pimpinan universitas memutuskan untuk mendirikan sebuah jurusan baru di lingkungan universitas tersebut, maka alur komunikasi selanjutnya dalam fakultas tersebut akan 'distrukturkan' oleh keputusan yang telah dibuat tersebut. Tempat yang kedua dari strukturasi organisasi adalah 'implementasi', yaitu kodifikasi formal dan pemberitahuan mengenai berbagai keputusan dan pilihan. Contoh: sekali keputusan telah diambil untuk mendirikan jurusan baru, maka pimpinan universitas akan mengeluarkan memorandum resmi kepada fakultas yang memberitahukan adanya perubahan. Pemberitahuan resmi itu sendiri akan berguna untuk mempertegas struktur organisasi tersebut di masa mendatang. Strukturasi yang ketiga terjadi di tempat penerimaan (reception), yaitu ketika para anggota kelompok bertindak dengan menyesuaikan diri kepada keputusan-keputusan organisasi. Dalam uraian yang lebih konkret, setelah diambil keputusan untuk mendirikan jurusan baru, maka akan diangkat Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 25 seorang ketua jurusan dan karenanya alur komunikasi dalam fakultas akan mengalami perubahan. Meskipun setiap orang dalam suatu organisasi dapat berpartisipasi pada setiap atau keseluruhan dari ketiga tempat tersebut, namun strukturasi cenderung untuk dikhususkan. Artinya, manajemen tingkat tinggi biasanya terlibat dalam komunikasi konseptual, personal staf melaksanakan pekerjaan implementasi dan karyawan pada umumnya berpartisipasi dalam penerimaan atau reception. D. PENDEKATAN ORGANISASI SEBAGAI KULTUR Ketiga pendekatan yang telah diuraikan di atas, memandang organisasi sebagai struktur togas, dalam arti bahwa organisasi selalu berkaitan dengan upaya pencapaian tujuan. Pada bahasan terakhir kita akan melihat suatu pandangan yang agak berbeda, yaitu organisasi sebagai kultur, dalam arti bahwa organisasi jugs merupakan pandangan hidup (way of life) bagi para anggotanya. Secara khusus kita akan mempelajari teori kultur organisasi sebagai suatu penampilan (performance) sebagaimana dikemukakan oleh Michael Pacanowsky dan Nick O'Donnell-Trujillo. Menurut Pacanowsky dan Trujillo, ada lima bentuk penampilan organisasi, yaitu ritual, hasrat (passion), sosialitas, politik organisasi dan enkulturasi. Ritual merupakan suatu penampilan yang diulang-ulang secara teratur, suatu aktivitas yang dianggap oleh suatu kelompok sebagai sesuatu yang sudah biasa dan rutin. Ritual merupakan bentuk penampilan yang penting, karena secara tetap akan memperbarui pemahaman kita mengenai pengalaman bersama dan memberikan legitimasi terhadap sesuatu yang kita pikirkan, rasakan dan kita lakukan. Missing Text Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 26 Kategori ketiga dari penampilan adalah `sosialitas'. Bentuk penampilan ini akan memperkuat suatu pengertian bersarna mengenai kebenaran ataupun norma-norma dan penggunaan aturan-aturan dalam organisasi, seperti tata susila dan sopan santun. Aspek lain dari sosialitas ini adalah privacy, yaitu penampilan sosialitas yang dikomunikasikan dengan penuh perasaan dan bersifat sangat pribadi. Pengakuan, memberi nasihat dan penyampaian kritik merupakan wujud dari privacy tersebut. Politik organisasi merupakan bentuk penampilan yang keempat. Bentuk penampilan tersebut menciptakan dan memperkuat minas terhadap kekuasaan dan pengaruh, seperti memperlihatkan kekuatan diri, kekuatan untuk mengadakan proses tawar-menawar (bargaining power) dan sebagainya. Kategori terakhir dari penampilan adalah 'enkulturasi' atau proses mengajarkan budaya kepada Para anggota organisasi. Contoh bentuk penampilan ini adalah learning the ropes yang terdiri dari urut-urutan penampilan ketika orang mengajarkan kepada orang lain tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, Meskipun hal tersebut dapat dilakukan melalui instruksi secara langsung, namun sering kali jenis belajar semacam ini terjadi ketika orang berbicara mengenai sesuatu yang terjadi, dalam upaya untuk membantu orang lain belajar mengartikan suatu kejadian tertentu. KEGIATAN BELAJAR 4 Teori Integratif dalam Komunikasi Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 27 Organisasi eori sistem dalam komunikasi organisasi biasanya dipandang pula sebagai struktural-fungsionalisme, seperti yang telah sedikit dibahas pada bagian awal Kegiatan Belajar 3. Berangkat dari kerangka pikir klasik yang dikemukakan oleh Weber mengenai struktur dan fungsi organisasi, teori-teori sistem yang antara lain dikemukakan oleh Chester Barnard, Daniel Katz dan Robert Kahn, Herbert Simon dan James March, dianggap telah memberikan semacam otot dan daging bagi kerangka yang telah disusun oleh Weber. Teori-teori sistem yang mereka kemukakan telah memberikan lebih' banyak substansi, kompleksitas, dan reliabilitas mengenai organisasi daripada yang dilakukan oleh aliran klasik. Pada bagian berikut kita akan membahas lebih lanjut suatu pendekatan sistem yang menekankan pada proses integratif dari konsep-konsep sistem. A. TEORI INTEGRATIF Teori yang dikemukakan oleh Richard Farace, Peter Monge, dan Hamish Russel ini menunjukkan suatu pandangan umum yang sangat menarik mengenai konsep-konsep sistem dari organisasi. karya mereka merupakan integrasi dari berbagai gagasan terbaik ke dalam suatu bentuk yang secara internal telah memberikan suatu sintesis mengenai pandangan sistem. Sebagai tambahan, karya mereka jUga menyatukan sejumlah besar pemikiran yang didasarkan atas penelitian, dan terakhir mereka menempatkan komunikasi sebagai pusat dari struktur organisasi. Mereka mendefinisikan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang setidaknya terdiri dari dua orang (atau lebih), ada saling ketergantungan, input, proses dan output. Kelompok ini berkomunikasi dan bekerja sama untuk menghasilkan suatu hasil akhir dengan menggunakan energi, informasi, dan bahan-bahan lain dari lingkungan. Salah satu sumber daya penting dalam organisasi adalah informasi. Dengan menggunakan teori informasi sebagai dasar, Farace dan rekannya mendefinisikan informasi dalam pengertian untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika orang mampu untuk memperkirakan pola-pola terjadi dalam aliran tugas yang terjadi dalam aliran tugas dan hubungan-hubungannya, maka ketidakpastian dapat dikurangi dan informasi berhasil diperoleh. Komunikasi sendiri, sebagian merupakan pengurangan T Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 28 ketidakpastian melalui informasi, pencygunaan 'bentUk-bentuk simbolis' umum karena komunikasi mencakup yang saling dimengerti oleh para partisipannya. Dalam teorinya mereka mengemukakan dua bentuk komunikasi-komunikasi yang mengemukakan dengan dua bentuk informasi. Pertama adalah informasi absolut' yang terdiri dari keseluruhan kepingan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam sistem. Jadi keseluruhan informasi yang dikomunikasikan dalam suatu organisasi adalah komunikasi absolut. Sebaliknya informasi yang didistribusikan adalah informasi yang telah disebarkan melalui organisasi. Kenyataa bahwa informasi ada dalam suatu organisasi tidak menjamin bahwa informasi tersebut cukup dikomunikasikan di dalam sistem. Pertanyaan mengenai informasi absolute berkaitan dengan apa Yang diketahui sedangkan pertanyaan mengenai distribusi berkenaan dengan siapa yang mengetahuinya. Implikasi praktis dari perbedaan teoritis ini adalah bahwa kegagalan dalam kebijakan distribusi informasi disebabkan oleh kegagalan manajer untuk mengenali kelompok mana yang perlu mengetahui suatu hal tertentu atau kesalahan untuk mengarahkan di mana seharusnya kelompok-kelompok tersebut dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Kerangka structural fungsional bagi komunikasi organisasi terletak pada tiga dimensi analisis. Pertama adalah `system level' yang terdiri atas empat sublevel: individual, dyadic, kelompok, dan organisasional, dalam suatu prinsip hierarki sistem. Individu berkomunikasi satu dengan yang yang lain dalam dyad; beberapa dyad berkerumun bersama-sama ke dalam berkelompok. Organisasi sebagai suatu keseluruhan adalah suatu sistem dari kelompok-kelompok yang saling berhubungan dan membentuk suatu jaringan kerja makro. Pada setiap level analisis, kita dapat mengamati fungsi-fungsi komunikasi yang sekaligus juga merupakan dimensi analisis yang kedua. Di antara berbagai fungsi komunikasi yang ada, Farace menekankan pada tiga fungsi, yaitu produksi, inovasi, dan pemeliharaan. Produksi mengacu pada pengarahan, koordinasi dan kontrol terhadap aktivitas organisasi. Inovasi membangkitkan atau mendorong perubahan dan gagasan barn dalam sistem. Sedangkan pemeliharaan diartikan untuk melindungi nilai-nilai individual dan hubungan antarpribadi yang dibutuhkan untuk mempertahankan system. Dimensi ketika adalah struktur. Jika fungsi berkaitan dengan isi pesan, maka struktur berkaitan dengan tumbuhnya pola-pola atau aturan-aturan dalam penyampaian pesan. Pada setiap level organisasi Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 29 (individual, dyadic, kelompok, dan organisasional) kita dapat meneliti cara-cara bagaimana komunikasi dapat berfungsi dan distrukturkan. Selanjutnya, Farace mengemukakan secara terperinci masing-masing dari keempat level pengorganisasian. Tetapi, pada bagian berikut kita hanya akan membahas level individu, dyad, dan kelompok secara ringkas, sekedar untuk memperoleh gambaran umum sebagai latar belakang. Oleh karna fokus perhatian Farace lebih kepada jaringan kerja makro, sebagai kontribusi terpenting teori ini, maka kita akan lebih banyak memusatkan perhatian pada masalah tersebut. Konsep kunci yang berhubungan dengan komunikasi individual dalam organisasi adalah 'beban' (load). Beban/muatan komunikasi adalah tingkatan dan kompleksitas dari masukan informasi terhadap seseorang. Tingkatan adalah kuantitas dari masukan seperti pesan-pesan atau permintaanpermintaan, sedangkan kompleksitas adalah jumlah faktor-faktor yang harus diperhitungkan dalam memproses informasi. Ada dua lingkup persoalan berkaitan dengan muatan tersebut, yaitu underload dan overload. Underload terjadi ketika aliran pesan kepada seseorang berada di bawah kapasitas orang tersebut untuk memprosesnya. Overload terjadi ketika muatan melampaui kapasitas seseorang. Sementara pengertian mengenai load, underload, dan overload berhubungan secara optimal dengan komunikasi yang diterima oleh individu tunggal, sehingga konsep ini juga dapat diterapkan pada seluruh level lainnya, termasuk dyadic, kelompok, dan organisasional. Jadi, ada kemungkinan suatu keseluruhan organisasi dapat menjadi underloaded atau overloaded. Konsep kunci yang dapat diterapkan pada level dyad adalah aturanaturan (rules). Para anggota dyad saling berhubungan sesuai dengan polapola harapan/tuntutan, di camping aturah-aturan eksplisit, maupiin iffiplis'it untuk berkomunikasi. Aturan-aturan ini secara eksplisit dan implicit menunjukkan kebijakan komunikasi dari organisasi. Isinya mengajarkan pada anggota organisasi bagaimana harus berkomunikasi, kapan harus berkomunikasi, kepada siapa harus berkomunikasi, dan hal-hal yang harus dikomunikasikan. Beberapa topik umum mengenai aturan-aturan tersebut antara lain meliputi siapa yang berinisiatif untuk berinteraksi, bagaimana memperlakukan penundaan, topik-topik apa yang dibicarakan dan bagaimana menyeleksinya, bagaimana menangani perubahan topik, bagaimana mengakhiri interaksi, dan seberapa sering komunikasi terjadi. Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 30 Melalui kontak setiap hari antar anggota organisasi, individu-individu dalam berbagai kelompok cenderung untuk bekerja, berinteraksi, dan berkomunikasi secara bersama-sama. Kenyataan menunjukkan bahwa struktur dari keseluruhan organisasi tergantung pada pengelompokan ini. Sejak orang bekerja bersama-sama dalam kelompok dan fungsi yang berbeda, maka muncul berbagai jenis kelompok yang berbeda dalarn suatu organisasi. Dan seseorang secara bersama dapat menjadi anggota dari beberapa kelompok sekaligus. Dengan menganalisis lebih jauh, kita harus menyadari bahwa organisasi terdiri dari banyak struktur (multiple structures). Misalnya: struktur dapat dibentuk berdasarkan hubungan tugas, hubungan kekuasaan, kesukaan dan sebagainya. Kita akan kembali pada struktur organisasional kemudian, namun sebelumnya kita akan melihat pada beberapa aspek dari berbagai kelompok individual. Kita menyadari bahwa kelompok-kelompok itu cenderung untuk memiliki struktur internal, yang menurut Farace dapat dibagi menjadi tiga. Pertama, struktur komunikasi; atau jaringan kerja mikro, yaitu pola-pola interaksi di dalarn k°Iompok. Pertanyaan yang muncul di sini adalah siapa berkomr iikasi dengan siapa di dalam kelompok? Jenis struktur kedua adalah struktur kekuasaan. Di sini pertanyaannya adalah siapa memiliki kekuasaan atas siapa? Jenis struktur ketiga yang ditekankan dalam teori ini adalah kepernimpinan. Struktur kepemimpinan berkaitan dengan distribusi peran di dalarn kelompok, terutama distribusi dari, peran-peran yang berhubungan dengan pengaruh antarpribadi dari para anggota kelompok. Kembali pada jaringan kerja makro, Farace mengemukakan bahwa jaringan kerja makro adalah suatu pola yang berulang-ulang dari transmisi informasi di antara kelompok-kelompok dalam suatu organisasi. Jenis-jenis jaringan kerja 'dapat terjadi dalam suatu organisasi, clan masing-masing mempunyai fungsi tersendiri bagi organisasi. Mungkin jaringan kerja yang biasanya mudah dipahami adalah label atau diagram susunan organisasi formal, yang menjabarkan jaringan tugas. Meskipun demikian terjadi pula sejumlah jaringan tidak resmi atau informal networks, di mana setiap jaringan aringan terdiri dari dua bagian pokok yaitu: para anggota dan rantai/pertautan/kaitan yang menghubungkannya. Rantai (links) ditandai oleh lima sifat. Pertama adalah 'simetri' atau tingkat yang menghubungkan para anggota, umumnya berupa suatu rantai interaksi atas dasar keseimbangan/kesejajaran. Dalam suatu hubungan yang simetris, para anggota memberi dan rnencrima informasi secara seimbang. Sedangkan rantai yang asimetris sifatnya searah, artinya memisahkan secara tegas pengirim dan penerima informasi. Ciri kedua Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 31 adalah 'kekuatan' (strength) yang mengacu pada frekuensi interaksi. Orang yang lebih sering berkomunikasi akan memiliki rantai yang lebih kuat dari pada orang yang jarang berkomunikasi. Sifat ketiga adalah 'resiprositas' (timbal-balik), yaitu tingkat kesepakatan para anggota mengenai hubungan mereka, jika seseorang merasa yakin bahwa dia sering berkomunikasi dengan orang lain, tetapi orang lain menyangkalnya, maka rantai hubungannya tidak resiprokal. Ciri keempat adalah `isi' (content) yang merupakan esensi dari interaksi. Hal ini menyangkut apakah komunikasi yang dilakukan terutama mengenai pekerjaan, masalah social, atau materi lainnya. Dengan mengamati isi dari berbagai rantai dalam suatu jaringan, kita dapat mengenai fungsi keseluruhan dari jaringan. Sifat kelima adalah 'cara' (mode), di sini pertanyaannya adalah bagaimana komunikasi dapat dicapai clan melalui saluran apa. Caranya dapat berupa pembicaraan langsung, pertemuan kelompok, atau komunikasi melalui surat/telepon. Suatu jaringan terdiri dari anggota-anggota yang bersama-sama dihubungkan dalam berbagai cara untuk berbagi informasi. Untuk memahami suatu jaringan, kita harus memperhatikan pula beberapa faktor tambahan. Para anggota organisasi memiliki peran-peran yang berbeda dalam jaringan. Salah satu peran tersebut adalah isolasi/terpencil. Orang yang termasuk dalam kategori isolasi tidak memiliki rantai hubungan dengan anggota jaringan lainnya. Dari mereka yang Baling berhubungan satu sama lain, beberapa di antaranya berkerumun menjadi kelompok-kelompok. Dalam pengertian jaringan, kelompok ditandai oleh empat kriteria, yaitu: 1. lebih dari separuh aktivitas komunikasi yang dilakukan kelompok berada di dalam kelompok; 2. setiap individu harus dikaitkan dengan individu lain dalam kelompok, 3. kelompok tidak akan hancur oleh keluarnya satu orang atau rusaknya satu rantai hubungan; 4. kelompok harus memiliki minimal tiga anggota. Keempat kriteria di atas akan rnembuat kelompok relatif stabil Jadi suatu jaringan adalah suatu rangkaian kelompok-kelompok dan anggota-anggota yang saling berkaitan. Dua peran lain yang juga penting dalam struktur jaringan adalah peran 'penghubung' (liaison) dan jembatan' (bridge). Bridge adalah anggota kelompok yang juga berhubungan dengan kelompok lainnya. Sementara liaison bukan anggota dari kelompok mana pun, meskipun dia menghubungkan dua kelompok atau lebih. Gambar 4.1 menunjukkan aspek-aspek dari struktur Teori–teori Komunikasi Organisasi Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 32 jaringan, yang memberikan suatu logika untuk mengamati struktur dan fungsi organisasi dalam pengertian komunikasi. Gambar 4.1 Kelompok : Kelompok 1-4, 5, 6, 7, 8 Bridge-5, 9 Tunggal-1 Kelompok 2-9,10,11,12 Liaison-13 Dyad-2,3 Kelompok 3-14,15,16,17,18 Liaison-19

BAB 3 Teori Komunikasi kelompok

Teori Komunikasi Kelompok Teori Komunikasi Kelompok PENDAHULUAN komunikasi dalam kelompok merupakan bagian dari kegiatan- keseharian kita sejak kita lahir, kita sudah mulai bergabung dengan kelompok primer yang paling dekat, yaitu Keluarga. Kemudian seiring dengan perkernbangan usia dan kemampuan intelektualitas, kita masuk dan terlibat dalam kelompok-kelompok sekunder seperti sekolah, lembaga agama, tempat pekerjaan dan kelompok sekunder lainnya yang sesuai. dengan minas dan ketertarikan kita. Ringkasnya, kelompok merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan kita, karena melalui kelompok, memungkinkan kita dapat berbagi informasi, pengalaman dan pengetahuan kita dengan anggota kelompok lainnya. Modal teori komunikasi kelompok ini, akan terdiri dari empat kegiatan belajar yaitu prinsip-prinsip dasar komunikasi dalam suatu kelompok (group communication) memahami komunikasi dalam kelompok, pendekatan teoretis komunikasi kelompok dan kegiatan belajar terakhir berkaitan dengan bahasan mengenai beberapa perspektif dalam penelitian komunikasi kelompok. Setup kegiatan belajar akan dibahas dengan lebih mendalam beberapa aspek penting yang berhubungan dengan kegiatan belajar tersebut. Karenanya, mempelajari setup bahasan dalam modul ini dengan sungguhsungguh, merupakan langkah terbaik untuk memahami komunikasi yang berlangsung dalam suatu kelompok. Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi dalam suatu kelompok. Setelah mempelajari masing-masing kegiatan belajar dengan cermat, Anda diharapkan mampu : 1. Menguraikan dan menjelaskan definisi atau batasan mengenai komunikasi kelompok; 2. Menyebutkan dan menjelaskan karakteristik komunikasi kelompok K Modul 3 Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 2 3. menyebutkan dan menjelaskan fungsi komunikasi kelompok; 4. menyebutkan dan menguraikan tipe-tipe komunikasi kelompok; 5. menguraikan dan menjelaskan metode pembuatan keputusan dalam kelompok; 6. menjelaskan makna kepemimpinan dalam kelompok; 7. mengenal beberapa pendekatan teoretis dalam komunikasi kelompok; 8. mengenal beberapa persepektif dalam penelitian komunikasi kelompok. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 3 KEGIATAN BELAJAR 1 PRINSIP DASAR KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK ebagaimana telah diuraikan pada bagian pendahuluan, bahwa kelompok merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kita sehari hari. Kelompok baik yang bersifat primer maupun sekunder, merupakan wahana bagi setup orang untuk dapat mewujudkan harapan dan keinginannya berbagi informasi dalam hampir semua aspek kehidupan. Ia bisa merupakan media untuk mengungkapkan persoalan-persoalan pribadi (keluarga sebagai kelompok primer), ia dapat merupakan sarana meningkatkan pengetahuan para anggotanya (kelompok belajar) dan ia bisa pula merupakan alas untuk mernecahkan persoalan bersama yang dihadapi seluruh anggota kelompok pemecahan masalah). Jadi, banyak manfaat yang dapat kita petik bila kita ikut terlibat dalam suatu kelompok yang sesuai dengan rasa ketertarikan (interest) kita. orang yang memisahkan atau mengisolasikan dirinya dengan orang lain adalah orang yang penyendiri, orang yang benci kepada orang lain (misanthrope) atau dapat dikatakan sebagai orang yang antisosial. Bahasan dalam Kegiatan Belajar 1 ini mencakup tiga hal, yaitu pengertian mengenal komunikasi kelompok, karakteristik dari komunikasi kelompok dan kajian tentang fungsi dari komunikasi kelompok. A. PENGERTIAN KOMUNIKASI KELOMPOK Michael Burgoon dan Michael Ruffner dalam bukunya: Human Communication, A Revision of Approaching Speech/Communication, memberi batasan komunikasi kelompok sebagai interaksi tatap muka dari tiga atau lebih individu guna memperoleh maksud atau tujuan yang dikehendaki seperti berbagi informasi, pemeliharaan diri atau pemecahan masalah sehingga semua anggota dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya dengan akurat (the face-to faceinteraction of three or more individuals, for a recognized purpose such as information sharing, self-maintenance, or problem solving, such that the members are able to personal characteristics of the other members accurately). S Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 4 Ada empat elemen yang tercakup dalam definisi di atas, yaitu interaksi tatap muka, jumlah partisipan yang terlibat dalam interaksi, maksud atau tujuan yang dikehendaki dan kemampuan anggota untuk dapat menumbuhkan karakteristik pribadi anggota lainnya. Kita mencoba membahas keempat elemen dari batasan tersebut dengan lebih rinci. Terminologi tatap muka (face to face) mengandung makna bahwa setiap anggota kelompok harus dapat melihat dan mendengar anggota lainnya dan juga harus dapat rnengatur umpan batik secara verbal maupun nonverbal dari setiap anggotanya. Batasan ini tidak berlaku atau meniadakan kumpulan individu yang sedang melihat proses pembangunan gedung/bangunan bare. Dengan demikian, makna tatap muka tersebut berkait erat dengan adanya interaksi di antara semua anggota kelompok. Jumlah partisipan dalam komunikasi kelornpok berkisar antara 3 sampai 20 orang. Pertimbangannya, jika jumlah partisipan nidebilli 20 orang, kurang memungkinkan berlangsungnya suatu interaksi di mana setiap anggota kelompok mampu melihat dan mendengar anggota lainnya. Dan karenanya kurang tepat untuk dikatakan sebagai komunikasi kelompok. Maksud atau tujuan yang dikehendaki sebagai elemen ketiga dari definisi di atas, bermakna bahwa maksud atau tujuan tersebut akan memberikan beberapa tipe identitas kelompok. Kalau tujuan kelompok tersebut adalah berbagi informasi, maka komunikasi yang dilakukan dimaksudkan untuk menanamkan pengetahuan (to impart knowledge). Sementara kelompok yang memiliki tujuan pemeliharaan dirt (self-maintenance), biasanya memusatkan perhatiannya pada anggota kelompok atau struktur dari kelompok itu sendiri. Tindak komunikasi yang dihasilkan adalah kepuasan kebutuhan pribadi, kepuasan kebutuhan kolektif/kelompok bahkan kelangsungan hidup dari kelompok itu sendiri. Dan apabila tujuan kelompok adalah upaya pemecahan masalah, maka kelompok tersebut biasanya melibatkan beberapa tipe pembuatan keputusan untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Elemen terakhir adalah kemampuan anggota untuk menumbuhkan karakteristik personal anggota lainnya secara akurat. Ini mengandung arti bahwa setiap anggota kelompok secara tidak langsung berhubungan satu sama lain dan maksud/tujuan kelompok telah terdefinisikan dengan jelas, di samping itu identifikasi setiap anggota dengan kelompoknya relatif stabil dan permanen. Batasan lain mengenai komunikasi kelompok dikemukakan oleh Ronald Adler dan George Rodman dalam bukunya : Understanding Human Communication. Mereka mengatakan bahwa kelompok atau grup merupakan sekumpulan kecil orang yang saling berinteraksi, biasanya tatap muka dalam waktu yang lama guna mencapai Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 5 tujuan tertentu (a small collection of people who interact with each other usually face to face, over time in order to reach goals ). Ada empat elemen yang muncul dari definisi yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman tersebut, yaitu interaksi, waktu , ukuran, dan tujuan. Interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terikat dalam aktivitas yang sama, namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagai kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai memperlihatkan pesan dengan doses atau rekan mahasiswa yang lain. Elemen yang kedua adalah waktu. Sekumpulan orang yang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat digolongkan sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara. Sedangkan elemen yang ketiga adalah ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Ada yang memberi batas 3-8 orang, 3-15 orang dan 3-20 orang. Untuk mengatasi perbedaan jumlah anggota tersebut, muncul konsep yang dikenal dengan small-Hess, yaitu kemampuan setiap anggota kelompok untuk dapat mengenal dan memberi reaksi terhadap anggota lainnya. Dengan small-Hess ini, kuantitas tidak dipersoalkan sepanjang setiap anggota mampu mengenal dan memberi reaksi kepada anggota lain atau setiap anggota mampu melihat dan mendengar anggota yang lain, seperti yang dikemukakan dalam definisi pertama. Elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelornpok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya. B. KARAKTERISTIK KOMUNIKASI KELOMPOK Apa pun fungsi yang disandangnya, kelompok baik primer maupun sekunder dalam keberadaannya memiliki karakteristik tertentu. Karenanya, memahami karakteristik yang ada merupakan langkah pertama untuk bertindak lebih efektif dalam suatu kelompok di mana kita ikut terlibat di dalamnya. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 6 Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Kita akan membahas kedua karakteristik tersebut dengan lebih rinci satu per satu. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Kadang-kadang norma o1eh para sosiolog disebut juga dengan “hukum” (law) atau “peraturan” (rule), yaitu perilaku-perilaku apa saja yang pantas dan tidakpantas untuk dilakukan dalarn suatu kelompok. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu, norma sosial, procedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para anggota kelompok. Sedangkan norma procedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan, apakah melalui suara mayoritas ataukah dilakukan pembicaraan sampai tercapai kesepakatan. Dan norma tugas memusatkan perhatian pada bagaimana suatu pekerjaan harus dilaksanakan. Berikut kita akan mempelajari norma-norma dalam kelompok dengan mencermati tabel di bawah ini. Tabel 3.1 Tabel Norma-norma yang Diharapkan dalarn Suatu Kelompok Sosial Procedural Tugas Mendiskusikan persoalan yang tidak kontroversial Memperkenalkan para anggota kelompok Mengkritik ide, bukan orangnya Menceritakan gurauan yang lucu Membuat agenda pertemuan Mendukung gagasan yang terbaik Menceritakan kebenaran yang tidak dapat dibantah Duduk saling bertatap muka Memiliki kepedulian untuk pemecahan persoalan Jangan merokok (kalau dimungkinkan) Menetapkan tujuan kelompok Berbagi beban pekerjaan Jangan datang terlambat Jangan meninggalkan pertemuan tanpa sebab Jangan memaksakan gagasan kita dalam kelompok Tidak hadir tanpa alasan yang jelas Jangan memonopoli percakapan Jangan berkata kasar jika tidak setuju Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding Human Communication, Second Edition, hat. 197 Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 7 Jika norma diberi batasan sebagai ukuran kelompok yang dapat diterima, maka peran (role) merupakan pola-pola perilaku yang diharapkan dart setiap anggota kelompok. Ada dua fungsi peran dalam suatu kelompok, yaitu fungsi tugas dan fungsi pemeliharaan. Kita akan menyimak kedua fungsi tersebut dalarn tabel berikut. TABEL PERAN FUNGSIONAL DART ANGGOTA KELOMPOK FUNGSI TUGAS FUNGSI PEMELIHARAAN Pemberi informasi Pemberi pendapat Pencari informasi Pemberi aturan Pendorong partisipasi Penyelaras Penurun ketegangan Penengah persoalan pribadi Sumber : Ronald B. Adler, George Rodman, Understanding Human Communication, Second Edition, hal. 199 C. FUNGSI KOMUNIKASI KELOMPOK Keberadaan suatu kelompok dalam masyarakat dicerminkan oleh adanya fungsi-fungsi yang akan dilaksanakannya. Fungsi-fungsi tersebut mencakup fungsi hubungan sosial, pendidikan, persuasi, pemecahan masalah dan pembuatan keputusan, dan fungsi terapi. Semua fungsi ini dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, kelompok dan para anggota kelompok itu sendiri. Fungsi pertama dalam kelompok adalah hubungan sosial, dalam arti bagaimana suatu kelompok mampu memelihara dan memantapkan hubungan sosial di antara para anggotanya, seperti bagaimana suatu kelompok secara rutin memberikan kesempatan kepada anggotanya untuk melakukan aktivitas yang informal, santai dan menghibur. Pendidikan adalah fungsi kedua dari kelompok, dalam arti bagaimana sebuah kelompok secara formal maupun informal bekerja untuk mencapai dan mempertukarkan pengetahuan. Melalui fungsi pendidikan ini, kebutuhan-kebutuhan dari para anggota kelompok, kelompok itu sendiri bahkan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Namun demikian, fungsi pendidikan dalam kelompok akan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, bergantung pada tiga faktor, yaitu jumlah informasi baru yang dikontribusikan, jumlah partisipan dalam kelompok serta frekuensi interaksi di antara para anggota kelompok. Fungsi pendidikan ini akan sangat efektif jika setiap anggota kelornpok membawa pengetahuan yang berguna bagi kelompoknya. Tanpa pengetahuan baru yang Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 8 disumbangkan masing-masing anggota, mustahil fungsi edukasi ini akan tercapai. Dalam fungsi persuasi, seorang anggota kelompok berupaya mempersuasi anggota lainnya supaya melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Seseorang yang terlibat usaha-usaha persuasif dalam suatu kelompok, membawa risiko untuk tidak diterima oleh para anggota lainnya. Misalnya, jika usaha-usaha persuasif tersebut terlalu bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok, maka justru orang yang berusaha mempersuasi tersebut akan menciptakan suatu konflik, dengan demikian malah membahayakan kedudukannya dalam kelompok. Fungsi kelompok juga dicerminkan dengan kegiatan-kegiatannya untuk memecahkan persoalan dan membuat keputusan-keputusan. Pemecahan masalah (problem solving) berkaitan dengan penemuan alternatif atau solusi yang tidak diketahui sebelumnya ; sedangkan pembuatan keputusan (decision making) berhubungan dengan pemilihan antara dua atau lebih solusi. Jadi, pemecahan masalah menghasilkan materi atau bahan untuk pembuatan keputusan. Terapi adalah fungsi kelima dari kelompok. Kelompok terapi memiliki perbedaan dengan kelompok lainnya, karena kelompok terapi tidak memiliki tujuan. Objek dari kelompok terapi adalah membantu setiap individu mencapai perubahan personalnya. Tentunya individu tersebut harus berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya guna mendapatkan manfaat, namun usaha utamanya adalah membantu dirinya sendiri, bukan membantu kelompok mencapai konsensus. Contoh dari kelompok terapi ini adalah kelompok konsultasi perkawinan, kelompok penderita narkotika, kelompok perokok berat dan sebagainya. Tindak komunikasi dalam kelompok-kelompok terapi dikenal dengan nama "pengungkapan diri" (self disdosure). Artinya, dalam suasana yang mendukung, setiap anggota dianjurkan untuk berbicara secara terbuka tentang apa yang menjadi permasalahannya. Jika muncul konflik antar anggota dalam diskusi yang dilakukan, orang yang menjadi pemimpin atau yang memberi terapi yang akan mengaturnya. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 9 KEGIATAN BELAJAR 2 Memahami Komunikasi Dalam Kelompok ersoalan-persoalan menenai tipe kelompok, metode pembuatan keputusan yang terjadi dalam suatu kelompok dan kepemimpinan dalam kelompok, merupakan materi pelajaran yang akan dibahas dalam Kegiatan Belajar 2 berikut ini. Dalam wujud nyata yang dapat kita temui sehari-hari, kita mengenai beberapa tipe dari kelompok, seperti kelompok belajar, kelompok pemecahan masalah, serta kelompok sosial lainnya. Sementara dalam bahasan mengenai metode pengambilan keputusan dalam kelompok, kita akan mengenai sejumlah metode yang digunakan di mama masing-masing metode yang dipakai bergantung kepada beberapa faktor yang melingkupinya. Dan dalam bahasan mengenai kepemimpinan dalam kelompok, kita diajak untuk memikirkanya gaya kepemimpinan yang terjadi dalam kelompok dan fungsi kepemimpinan dalam kelompok. Kita mencoba membahas ketiga subbahasan dalam Kegiatan Belajar 2 ini dengan lebih rinci dan mendalam. A. TIPE KELOMPOK Ronald B. Adler dan George Rodman dalam bukunya Understanding Human Communication membagi kelompok dalam tiga tipe, yaitu kelompok belajar (learning group), kelompok pertumbuhan (growth group), dan kelompok pemecahan masalah (problem solving group). Masing-masing tipe kelompok tersebut akan kita bicarakan dengan lebih rinci, karena setiap kelompok memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda. 1. Kelompok Belajar (Learning Group) Ketika kita mendengar kata “belajar” atau learning, perhatian dan pikiran kita hampir selalu tertuju pada suatu lembaga pendidikan ataupun sekolah. Meskipun institusi pendidikan tersebut termasuk dalam klasifikasi learning group, namun itu bukan satu-satunya. Kelompok yang memberi keterampilan berenang ataupun kelompok yang mengkhususkan kegiatannya pada digolongkan ke dalam kelompok belajar tersebut. Jadi, apa pun bentuknya, tujuan dari learning group ini adalah meningkatkan pengetahuan atau kemampuan para anggotanya. P Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 10 Satu ciri yang menonjol dari learning group ini adalah adanya pertukaran informasi dua arah, artinya setiap anggota dalam kelompok belajar adalah kontributor atau penyumbang dan penerirna pengetahuan. 2. Kelompok Pertumbuhan (Growth Group) Jika learning anggotanya group para anggotanya terlibat dalam persoalan-persoalan eksternal sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka kelompok pertumbuhan lebih memusatkan perhatiannya kepada permasalahan pribadi yang dihadapi para anggotanya. Wujud nyata dari growth group ini adalah kelompok bimbingan perkawinan, kelompok bimbingan psikologi, kelompok terapi sebagaimana yang sudah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1, serta kelompok yang memusatkan aktivitasnya kepada penumbuhan keyakinan diri, yang biasa disebut dengan consciousness raising group. Karakteristik yang terlibat dalam tipe kelompok growth group ini adalah tidak mempunyai tujuan kolektif yang nyata, dalam arti bahwa seluruh tujuan kelompok diarahkan kepada usaha untuk membantu para anggotanya mengidentifikasi dan mengarahkan mereka untuk peduli dengan persoalan pribadi yang mereka hadapi. 3. Kelompok Pemecahan Masalah (Problem Solving Group) Orang-orang yang terlibat dalam kelompok pemecahan masalah, bekerja bersama-sama untuk mengatasi persoalan bersama yang mereka hadapi. Dalam sebuah keluarga misalnya, bagaimana seluruh anggota keluarga memecahkan persoalan tentang cara-cara pembagian kerja yang memungkinkan mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti tugas apa yang harus dilakukan seorang suami, apa yang menjadi tanggung jawab istri, dan pekerjaan-pekerjaan apa yang dibebankan kepada anak-anaknya. Atau dalam contoh lain, bagaimana para warga yang tergabung dalam satu Rukun Tetangga (RT) berusaha mengorganisasi diri mereka sendiri guna mencegah tindak pencurian melalui kegiatan sistem keamanan lingkungan atau lebih dikenal dengan siskamling. Problem solving dalam operasionalnya, melibatkan da aktivitas penting. Pertama, pengumpulan informasi (gathering information) : bagaimana suatu kelompok sebelum membuat keputusan, berusaha mengumpulkan informasi yang penting dan berguna untuk landasan pengambilan keputusan tersebut. Dan kedua adalah pembuatan keputusan atau kebijakan itu sendiri yang berdasar pada hasil pengumpulan informasi. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 11 B. METODE PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KELOMPOK Cara lain untuk memahami tindak komunikasi dalam kelompok adalah dengan melihat bagaimana suatu kelompok menggunakan metode-metode tertentu untuk mengambil keputusan terhadap masalah yang dihadapi. Dalam tataran teoretis, kita mengenal empat metode pengambilan keputusan, yaitu kewenangan tanpa diskusi (authority rule without discussion), pendapat ahli (expert opinion), kewenangan setelah diskusi (authority ride after discussion), dan kesepakatan (consensus). 1. Kewenangan Tanpa Diskusi Metode pengambilan keputusan ini sering kali digunakan oleh para pernimpin otokratik atau dalam kepemimpinan militer. Metode ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu cepat, dalam arti ketika kelompok tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Selain itu, metode ini secara sempurna dapat diterima kalau pengambilan keputusan yang dilaksanakan berkaitan dengan persoalan-persoalan rutin yang tidak mempersyaratkan diskusi untuk mendapatkan persetujuan para anggotanya. Namun dernikian, jika metode pengambilan keputusan ini terlalu sering digunakan, itu akan menimbulkan persoalan-persoalan, seperti munculnya ketidakpercayaan para anggota kelompok terhadap keputusan yang ditentukan pimpinannya, karena mereka kurang bahkan tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. pengambilan keputusan akan memiliki kualitas yang lebih bermakna, apabila dibuat secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh anggota kelompok, daripada keputusan yang diambil secara individual. 2. Pendapat Ahli Kadang-kadang seorang anggota kelompok oleh anggota lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga rnemungkinkannya, memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan. Metode pengambilan keputusan ini akan bekerja dengan baik apabila seorang anggota kelompok yang dianggap ahli tersebut memang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal tertentu oleh anggota kelompok lainnya. Dalam banyak kasus, persoalan orang yang dianggap ahli tersebut bukanlah masalah yang sederhana, karena sangat sulit menurunkan indikator yang dapat mengukur orang yang dianggap ahli (superior). Ada yang berpendapat bahwa orang yang ahli adalah orang yang memiliki kualitas terbaik untuk membuat keputusan, namun sebaliknya tidak sedikit pula orang yang tidak setuju dengan ukuran tersebut. Karenanya, menentukan apakah seseorang dalam kelompok benar-benar ahli adalah persoalan yang rumit. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 12 3. Kewenangan Setelah Diskusi Sifat otokratik dalam metode pengambilan keputusan ini lebih sedikit apabila dibandingkan dengan metode yang pertama, karena metode authority rule after discussion ini mempertimbangkan pendapat atau opini lebih dari satu anggota kelompok dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, keputusan yang diambil melalui metode ini akan meningkatkan kualitas dan tanggung jawab para anggotanya, di samping juga munculnya aspek kecepatan (quickness) dalam pengambilan keputusan sebagai hasil dari usaha menghindari proses diskusi yang terlalu meluas. Dengan perkataan lain, pendapat anggota kelompok sangat diperhatikan dalam proses pembuatan keputusan, namun perilaku otokratik dari pimpinan kelompok masih berpengaruh. Metode pengambilan keputusan ini juga mempunyai kelemahan, yaitu para anggota kelompok akan bersaing untuk mempengaruhi pengambil atau pembuat keputusan. Artinya, bagaimana para anggota kelompok yang mengemukakan pendapatnya. dalam proses pengambilan keputusan, berusaha mempengaruhi pimpinan kelompok bahwa pendapatnya yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan. 4. Kesepakatan Kesepakatan atau konsensus akan terjadi kalau semua anggota dari suatu kelompok mendukung keputusan yang diambil. Metode pengambilan keputusan ini memiliki keuntungan, yaitu partisipasi penuh dari seluruh anggota akan dapat meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, sebaik seperti tanggung jawab para anggota dalam mendukung keputusan tersebut. Selain itu, metode konsensus sangat penting khususnya dalam keputusan yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang kritis dan kompleks. Namur demikian, metode pengambilan keputusan yang dilakukan melalui kesepakatan ini tidak lepas juga dari yang paling menonjol adalah dibutuhkannya waktu yang relatif lebih banyak dan lebih lama, sehingga metode ini tidak cocok untuk digunakan dalam keadaan yang mendesak atau darurat. Keempat metode pengambilan keputusan di alas menurut Adler dan Rodman, tidak ada yang terbaik dalam arti tidak ada ukuran-ukuran yang menjelaskan bahwa satu metode lebih unggul dibanding metode pengambilan keputusan lainnya. Metode yang paling efektif yang dapat digunakan dalam situasi tertentu, bergantung pada faktor-faktor: 1) jumlah waktu yang ada dan dapat dimanfaatkan, 2) tingkat pentingnya keputusan yang akan diambil oleh kelompok, dan 3) kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh pimpinan kelompok dalam mengelola kegiatan pengambilan keputusan tersebut. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 13 C. KEPEMIMPINAN DALAM KELOMPOK Kepemimpinan merupakan salah satu peran yang penting dalam interaksi kelompok, karena peran ini akan menentukan kuantitas dan kualitas komunikasi dalam kelompok, hasil dari tujuan kelompok, dan harmoni atau keselarasan dalam kelompok. Bahasan mengenai kepemimpinan dalam kelompok ini dibagi dalam dua kajian, yaitu fungsi kepemimpinan dan gaya kepemimpinan dalam kelompok. 1. Fungsi Kepemimpinan Burgoon, Heston dan McCroskey menguraikan adanya delapan fungsi kepemimpinan, yaitu fungsi inisiasi (initiation), keanggotaan (membership), perwakilan (representation), organisasi (organization), integrasi (integration), manajemen informasi internal (internal information management), fungsi penyaring informasi (gate keeping), dan fungsi imbalan (reward). Dalam fungsi inisiasi, seorang pemimpin perlu mengambil prakarsa untuk menciptakan gagasan-gagasan baru, namun sebaliknya tugas pemimpin juga memberi pengarahan ataupun menolak gagasan-gagasan dari anggota kelompoknya yang dinilai tidak layak. Inisiatif dalam arti menciptakan ataupun menolak ide-ide baru baik yang berasal dari pimpinan itu sendiri ataupun dari anggota kelompoknya perlu untuk dilaksanakan, sebab pemimpin mempunyai tanggung jawab yang lebih besar terhadap keberadaan atau eksistensi kelompok yang dipimpinnya, di samping itu yang lebih penting adalah tanggung jawab untuk terlaksananya tujuan-tujuan kelompok. Sedangkan dalam fungsi keanggotaan, salah satu bagian dari perilaku seorang, pimpinan adalah memastikan bahwa dirinya juga merupakan salah seorang anggota kelompok. Perilaku tersebut dijalankannya dengan cara meleburkan atau melibatkan dirinya dalam kelompok serta melakukan aktivitas yang menekankan kepada interaksi informal dengan anggota kelompok lainnya. Seorang pemimpin tidak jarang harus melindungi dan mempertahankan para anggotanya dari "ancaman-ancaman" yang berasal dari luar, inilah makna dari fungsi perwakilan dalam kepemimpinan kelompok. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menjadi wakil atau juru bicara kelompok di hadapan kelompok lainnya. Dalam fungsi organisasi, tanggung jawab terhadap hal-hal yang bersangkut paut dengan persoalan organisasional seperti struktur organisasi, kelancaran roda organisasi dan deskripsi kerja ada di tangan seorang pemimpin, sehingga itu perlu memiliki bekal kemampuan mengelola organisasi yang tentunya lebih baik dibanding anggota kelompok lainnya. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 14 Sementara dalam fungsi integrasi, seorang pemimpin perlu mempunyai kemampuan untuk memecahkan ataupun mengelola dengan baik konflik yang ada dan muncul di kelompoknya. Dengan bekal kemampuan tersebut diharapkan seorang pemimpin dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk tercapainya penyelesaian konflik yang dapat memberi kepuasan kepada semua anggota kelompok. Pimpinan pada saat tertentu harus memberi sarana bagi berlangsungnya pertukaran informasi di antara para anggotanya dan juga mencari masukan-masukan tentang bagaimana sebaiknya kelompoknya harus merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program kerjanya, inilah nilai penting dari fungsi manajemen informasi internal yang perlu ada dalam kepemimpinan kelompok. Dalam fungsi penyaring informasi, seorang pemimpin bertindak sebagai penyaring sekaligus manajer bagi informasi yang masuk dan keluar dari kelompok yang dipimpinnya. Fungsi tersebut dilakukan sebagai usaha untuk mengurangi terjadinya konflik di dalam kelompok ataupun dengan kelompok lain, karena informasi yang ada dalam kelompok tersebut telah terseleksi. Terakhir, dalam fungsi imbalan atau ganjaran, pemimpin melakukan fungsi evaluasi dan menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh para anggotanya. Hal ini dilakukan pimpinan melalui imbalan-imbalan materi seperti peningkatan gaji, pemberian kenaikan pangkat/jabatan, pujian ataupun penghargaan. Banyak anggota kelompok sangat sensitif terhadap kekuatan imbalan dari pimpinannya, sehingga pekerjaan ataupun tugas yang dilakukannya diarahkan untuk memperoleh imbalan tersebut. 2. Gaya Kepemimpinan dalam Kelompok Gaya kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai tingkat atau derajat pengendalian yang digunakan seorang pemimpin dan sikapnya terhadap para anggota kelompok (the degree of control a leader exercise and his attitudes toward group members). Gaya kepemimpinan dalam kelompok ini bisa dibagi dalam lima ciri, yaitu authoritarian, bureaucratic atau supervisory, diplomatic, democratic dan laissezfaire atau group-centered, Dalam gaya authoritarian seorang pemimpin adalah seorang pengendali (controler). Kata-kata yang diucapkannya adalah hukum atau peraturan dan tidak dapat diubah. Seorang pemimpin dalam gaya authoritarian ini, biasanya menyandarkan diri pada aturan-aturan, memonopoli tindak komunikasi dan sering kali meniadakan umpan balik dari anggota lainnya. Kelompok yang menggunakan gaya kepemimpinan ini, memiliki kemungkinan terorganisasi dengan baik dan produktif, namun hubungan antarpribadi (interpersonal Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 15 relationship) di antara para anggota kelompok cenderung renggang dan antagonistik. Sedangkan dalam gaya kepemimpinan birokratik (bureaucratic), pimpinan bertindak sebagai pengawas atau supervisor dan mengoordinasikan aktivitas kelompok. Pedoman dari gaya kepemimpinan ini adalah “organisasi” bukan diri seorang pemimpin seperti yang ada dalam gaya authoritarian. Seorang pemimpin birokratik memandang hubungan social sebagai hal yang tidak dikehendaki, karenanya ia lebih suka menjauhkan dan tidak memperhatikan persoalan-persoalan antarpribadi yang dihadapi para anggotanya. Pemimpin birokratik cenderung berkomunikasi melalui saluran tertulis secara resmi. Kelompok yang memakai gaya kepernimpinan ini akan lebih produktif, sebab segala sesuatunya terorganisasi dengan baik, namun ada kecenderungan dari anggota kelompok untuk bersikap apatis. Pemimpin yang menggunakan gaya diplomatik adalah seorang manipulator, artinya ia melaksanakan kepemimpinannya supaya menjadi pusat perhatian para anggota kelompoknya. Pemimpin yang diplomatis cenderung untuk sedikit menggunakan kontrol atau setidaknya lebih halus dalam memakai kontrol tersebut dan lebih luwes dibanding pemimpin authoritarian. la tidak terpaku terhadap satu aturan khusus dan karenanya lebih bebas untuk menggunakan strategi-strategi tertentu guna memanipulasi prang lain. Dengan demikian pemimpin diplomatik terbuka terhadap adanya saran dan umpan balik yang demokratis dari anggota kelompoknya. Dalam gaya kepemimpinan demokratik, pemirnpin tidak banyak menggunakan kontrol, apabila dibandingkan dengan ketiga gaya kepernimpinan sebelumnya. Pemimpin demokratik mengharapkan seluruh anggotanya untuk berbagi tanggung jawab dan mampu mengembangkan potensi kepernimpinan yang dimilikinya. Pemimpin yang demokratis, memiliki kepedulian terhadap hubungan antarpribadi maupun hubungan tugas di antara para anggota kelompok. Meskipun nampaknya kurang terorganisasi dengan baik, namun gaya ini dapat berjalan dalam suasana yang rileks, dan memiliki kecenderungan untuk menghasilkan produktivitas dan kreativitas, karena gaya kepemimpinan ini mampu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki para anggotanya. Gaya laissez faire atau group centered ini tidak berdasar pada aturan-aturan. Seorang pemimpin yang menggunakan gaya kepemimpinan ini menginginkan seluruh anggota kelompoknya berpartisipasi tanpa memaksakan atau menuntut kewenangan yang dimilikinya. Tindak komunikasi dari pemimpin ini cenderung berlaku sebagai seorang penghubung yang menghubungkan kontribusi atau sumbangan pemikiran dari anggota kelompoknya. Jika tidak ada yang mengendalikannya, kelompok yang memakai gaya ini akan menjadi tidak Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 16 terorganisasi, tidak produktif dan anggotanya akan apatis, sebab mereka merasa bahwa kelompoknya tidak memiliki maksud atau tujuan yang hendak dicapai. Walaupun begitu, dalam situasi tertentu khususnya dalam kelompok terapi, gaya kepemimpinan laissez faire ini adalah yang paling layak dan efektif dari gaya-gaya kepemimpinan terdahulu. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 17 KEGIATAN BELAJAR 3 Komunikasi Kelompok dalam Perspektif Teoritis elompok dalam perspektif interaksional dikemukakan Marvin Shaw sebagai dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain dalam suatu cara tertentu, dimana masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pihak lainnya. Suatu kelompok (kecil) adalah kelompok yang terdiri dari dua puluh orang atau kurang, walaupun dalam beberapa hal kita lebih berkepentingan dengan kelompok yang terdiri dari lima orang atau kurang. Batasan yang diuraikan Shaw melibatkan tindak komunikasi sebagai karakteristik yang esensial dari kelompok. Masih menurut Shaw, kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat bertahan untuk suatu periode waktu yang relatif panjang, memiliki tujuan, dan memiliki struktur interaksi. Pengantar singkat ini dimaksudkan untuk memberi gambaran kepada kita, bahwa kelompok merupakan bagian yang sangat penting dari aktivitas suatu masyarakat. Dovis Sheperd menjelaskan, bahwa kelompok merupakan suatu mekanisme mendasar dari sosialisasi dan sumber utama dari tatanan sosial. orang mendapatkan nilai dan sikap mereka, sebagian besar dari kelompok di mana mereka berada. Karenanya, kelompok (kecil) memberikan suatu fungsi perantara yang penting antara individu dengan masyarakat luas. Dalam kegiatan belajar ini, kita akan mempelajari beberapa perspektif teoretis dalam komunikasi kelompok. Perspektif tersebut antara lain mencakup teori perbandingan sosial, teori kepribadian kelompok, teori pencapaian kelompok dan teori pertukaran sosial serta teori sosiometris. Masing-masing teori tersebut akan kita coba pahami satu per satu dengan lebih mendalam. A. TEORI PERBANDINGAN SOSIAL (SOCIAL COMPARISON THEORY) Teori atau pendekatan perbandingan sosial mengemukakan bahwa tindakan komunikasi dalam kelompok berlangsung karena adanya kebutuhan-kebutuhan dari individu untuk membandingkan sikap, pendapat dan kemarnpuannya dengan individu-individu lainnya. Dalam pandangan teori perbandingan sosial ini, tekanan seseorang untuk berkomunikasi dengan anggota kelompok lainnya akan mengalami peningkatan, jika muncul ketidaksetujuan yang berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa kalau tingkat pentingnya peristiwa tersebut peningkat dan apabila hubungan K Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 18 dalam kelompok (group cohesiveness) juga menunjukkan peningkatan. Selain itu, setelah suatu keputusan kelompok dibuat, para anggota kelompok akan saling berkomunikasi untuk mendapatkan informasi yang mendukung atau membuat individu-individu dalam kelompok lebih merasa senang dengan keputusan yang dibuat tersebut. Sebagai tambahan catatan, teori perbandingan sosial ini diupayakan untuk dapat menjelaskan bagaimana tindak komunikasi dari para anggota kelompok mengalami peningkatan atau penurunan. B. TEORI KEPRIBADIAN KELOMPOK (GROUP SYNTALITY THEORY) Teori kepribadian kelompok merupakan studi mengenai interaksi kelompok pada basis dimensi kelompok dan dinamika kepribadian. Dimensi kelompok merujuk pada ciri-ciri populasi atau karakteristik individu seperti umur, kecendekiawanan (intelligence). Sementara ciri-ciri kepribadian atau suatu efek yang memungkinkan kelompok bertindak sebagai satu keseluruhan, merujuk pada peran-peran spesifik, klik dan posisi status. Dinamika kepribadian diukur oleh apa yang disebut dengan sinergi, yaitu tingkat atau derajat energi dari setiap individu yang dibawa dalam kelompok untuk digunakan dalam melaksanakan tujuan-tujuan kelompok. Banyak dari sinergi atau energi kelompok harus dicurahkan ke arah pemeliharaan keselarasan dan keterpaduan kelompok. Konsep kunci dari group syntality theory ini adalah sinergi. Sinergi kelompok adalah jumlah input energi dari anggota kelompok. Meskipun demikian, tidak semua energi yang dimasukkan ke dalam kelompok akan langsung mendukung pencapaian tujuannya. Karena tuntutan antarpribadi, sejurnlah energi harus dihabiskan untuk memelihara hubungan dan kendala antarpribadi yang muncul. Selain sinergi kelompok, kita mengenai pula “effective sinergy” yaitu energi kelompok yang tersisa setelah dikurangi energi intrinsik atau sinergi pemeliharaan kelompok. Energi intrinsik dapat menjadi produktif, sejauh energi tersebut dapat membawa ke arah keterpaduan kelompok, namun energi intrinsik tidak dapat memberikan kontribusi langsung untuk penyelesaian tugas. Sinergi suatu kelompok dihasilkan dari sikap anggotanya terhadap kelompok. Sampai batas di mana para anggota memiliki sikap yang berbeda terhadap kelompok dan kegiatannya, maka yang muncul kemudian adalah konflik, sehingga akan meningkatkan proporsi energi yang dibutuhkan untuk memelihara atau mempertahankan kelangsungan kelompok. Jadi, jika individu-individu semakin memiliki kesamaan sikap, maka akan semakin berkurang pula kebutuhan akan energi intrinsik, sehingga effective synergy menjadi semakin besar. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 19 Dalam contoh sederhana, kita akan mencoba melihat teori ini dalam penerapannya. Dalam suatu kegiatan untuk membentuk kelompok belajar ditemukan bahwa individu-individu memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap materi pelajaran dan metode belajarnya. Pada situasi tersebut, individu-individu dihadapkan pada suasana perdebatan untuk mengatasi munculnya perbedaan sikap tersebut, sehingga banyak waktu dan energi yang dihabiskan untuk menyelesaikan persoalan antarpribadi antara anggota, kelompok. Inilah yang disebut dengan energi intrinsik. Kemudian setelah nilai ujian diumumkan dan para anggota merasa bahwa kelompok belajarnya telah gagal untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka ada satu atau lebih anggota menarik energinya keluar dari kelompok untuk mengikuti kelompok lain atau belajar sendiri. Dalam hal ini, effective synergy dari kelompok tersebut sangat rendah, sehingga tidak dapat mencapai lebih dari apa yang dapat dilakukan secara individual. Sebaliknya, jika salah seorang anggota masuk dalam kelompok belajar yang lain. Kelompok belajar tersebut dengan segera telah mencapai kesepakatan mengenai bagaimana harus memulai dan segera bekerja. Karena sangat sedikit bahkan tidak ada kendala antarpribadi yang muncul, maka kelompok belajar tersebut menjadi padu sehingga effective synergy tinggi dan tentunya setiap anggota kelompok akan lebih baik dalam melaksanakan ujian, daripada jika mereka belajar sendiri-sendiri. C. TEORI PENCAPAIAN KELOMPOK (GROUP ACHIEVEMENT THEORY) Teori pencapaian kelompok ini sangat berkaitan dengan produktivitas kelompok atau upaya-upaya untuk mencapainya melalui pemeriksaan masukan dari anggota (member inputs), variabel - variabel perantara (mediating variables), dan keluaran dari kelompok (group output). Masukan atau input yang berasal dari anggota kelompok dapat diidentifikasikan sebagai perilaku, interaksi dan harapan-harapan (expectations) yang bersifat individual. Sedangkan variabel-variabel perantara merujuk pada struktur formal dan struktur peran dari kelompok seperti status dan tujuan-tujuan kelompok. Dan yang dirnaksud dengan keluaran atau output kelompok adalah pencapaian atau prestasi dari tugas atau tujuan kelompok. Produktivitas dari suatu kelompok dapat dijelaskan melalui konsekuensi perilaku, interaksi dan harapan-harapan melalui struktur kelompok. Dengan kata lain, perilaku, interaksi dan harapan-harapan (input variables) mengarah pada struktur formal dan struktur peran (mediating variables) yang sebaliknya variabel ini mengarah pada produktivitas, semangat dan keterpaduan (group achievement). Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 20 D. TEORI PERTUKARAN SOSIAL (SOCIAL EXCHANGE THEORY) Teori pertukaran sosial ini didasarkan pada pemikiran bahwa seseorang dapat mencapai satu pengertian mengenai sifat kompleks dari kelompok dengan mengkaji hubungan di antara dua orang (dyadic relationship). Suatu kelompok dipertimbangkan untuk menjadi sebuah kumpulan dari hubungan antara dua partisipan tersebut. Perumusan tersebut mengasumsikan bahwa interaksi manusia melibatkan pertukaran barang dan jasa, dan bahwa biaya (cost) dan imbalan (reward) dipahami dalam situasi yang akan disajikan untuk mendapatkan respons dari individu-individu selama interaksi sosial. Jika imbalan dirasakan tidak cukup atau lebih banyak dari biaya, maka interaksi kelompok akan diakhiri, atau individu-individu yang terlibat akan mengubah perilaku mereka untuk melindungi imbalan apa pun yang mereka cari. Pendekatan pertukaran sosial ini penting karena berusaha menjelaskan fenomena kelompok dalam lingkup konsep-konsep ekonomi dan perilaku mengenai biayanya dan imbalan. E. TEORI SOSIOMETRIK (SOCIOMETRIC THEORY) Sosiometri merupakan sebuah konsepsi psikologis yang mengacu pada suatu pendekatan metodologis dan teoretis terhadap kelompok. Asumsi yang dimunculkan adalah bahwa individu-individu dalam kelompok yang merasa tertarik satu sama lain, akan lebih banyak melakukan tindak komunikasi, sebaliknya individu-individu yang saling menolak, hanya sedikit atau kurang melaksanakan tindak komunikasi. Tataran atraksi atau ketertarikan dan penolakan (repulsion) dapat diukur melalui alat tes sosiometri, di mana setiap anggota ditanyakan untuk memberi jenjang angka atau rangking terhadap anggota-anggota lainnya dalam kerangka ketertarikan antarpribadi (interpersonal attractiveness) dan keefektifan tugas (task effectiveness). Dengan menganalisis struktur kelompok melalui sosiometri ini, seseorang dapat menentukan bagaimana kelompok yang padu dan produktif yang mungkin terjadi. Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 21 KEGIATAN BELAJAR 4 Beberapa Perspektif dalam Penelitian Komunikasi Kelompok ajian ilmiah mengenai pengaruh kelompok pada perilaku manusia dimulai dalam dekade 30-an, terutama melalui berbagai studi yang, dilakukan oleh Muzafer Sherif, seorang psikolog sosial. Seorang ahli lain yang melakukan studi tentang komunikasi kelompok dengan memfokuskan pada “tekanan” kelompok dan konformitas adalah Solomon Asch, juga seorang psikolog sosial. Sementara itu, seorang ahli yang namanya layak- diperhitungkan dalam studi mengenai komunikasi kelompok adalah Kurt Lewin, yang menemukan teori mengenai dinamika kelompok. Studi tentang peranan kelompok dalam pembentukan sikap politik dalam kaitannya dengan pemilihan umum juga telah dilakukan oleh Paul Lzarsfeld, seorang sosiolog, pada awal tahun 40-an. Bagian berikut akan menguraikan beberapa tradisi atau perspektif penelitian komunikasi kelompok dengan menyimak kembali pemikiran awal dan prinsip-prinsip utama yang melandasi perkembangan studi tentang komunikasi kelompok. A. PENELITIAN SHERIF MENGENAI NORMA-NORMA KELOMPOK Kelompok biasanya memiliki sejumlah aturan atau standar tertentu yang dapat pula disebut sebagai norma. Studi yang dilakukan Sherif (1936, 1937) berusaha untuk memahami proses pembentukan norma tersebut. Melalui suatu studi laboratorium dia memusatkan penelitiannya pada suatu fenomena yang disebut autokinesis light effect. Eksperimen yang dilakukannya adalah dengan menempatkan orang dalam ruangan yang gelap gulita, kemudian diperlihatkan suatu titik cahaya yang redup. orang (dalam kegelapan total) biasanya akan melihat seolah-olah titik cahaya tersebut bergerak. Cahaya yang seolah-olah bergerak ini terjadi karena sistem syaraf orang yang mengamatinya harus bekerja terlalu keras untuk mengimbangi cahaya yang kecil dan redup, dalam kondisi seperti ini sistem syaraf tersebut mengirim. denyut (impulse) yang sama seperti ketika mata mengamati objek yang bergerak. Dari sejumlah orang (kelompok) yang dilibatkan dalam eksperimen ini, kesemuanya melihat seolah-olah cahaya tersebut bergerak. Namun karena sebenarnya cahaya itu tidak bergerak, maka tidak seorang pun tahu seberapa jauh cahaya itu bergerak. Fenomena ini K Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 22 memberikan Sherif suatu pemahaman tenting situasi yang memiliki ambiguitas yang tinggi, yang selanjutnya diaplikasikan dalam konteks komunikasi kelompok. Ketika eksperimen tersebut dilakukan kepada sejumlah orang secara individual, maka hasil yang dideskripsikan oleh tiap orang mengenai seberapa jauh cahaya tersebut bergerak, adalah sangat bervariasi, yaitu antara 1,5 inci sampai dengan 20 inci. Ketika eksperimen dilakukan secara berkelompok di mana masing-masing orang dalam ruangan yang gelap tersebut dapat saling mendengar komentar dan penilaian orang lainnya, maka perbedaan deskripsi mengenai jarak bergeraknya cahaya antara tiap-tiap orang, menjadi mengecil/menyempit. Pada saat seperti ini terjadi apa yang disebut sebagai norma kelompok. Yaitu ketika kelompok mengadopsi suatu norma yang tercipta oleh kondisi kelompok itu sendiri, yang biasanya berkisar antara rata-rata dari berbagai standar/ukuran dari masing-masing individu secara terpisah. Ketika eksperimen dilanjutkan kembali, yaitu dengan menempatkan kembali masing-masing individu secara terpisah ke dalam ruang eksperimen, maka orang-orang tersebut umumnya menggunakan ukuran yang telah diperolehnya dalam situasi kelompok untuk mendeskripsikan jarak pergerakan cahaya tersebut. Dengan kata lain norma yang dibentuk dalam situasi kelompok masih melekat pada diri individu anggotanya meskipun dia berada di luar situasi kelompok. Eksperimen Sherif menunjukkan bahwa dalam situasi ketidakpastian, oranc, menjadi tergantung kepada orang lain untuk mendapatkan panduan. Eksperimen tersebut juga menunjukkan bahwa pengaruh kelompok dapat terus melekat atau meluas pada saat seseorang yang menjadi anggotanya berada di luar kelompok, Dari hasil eksperimen Sherif, kita dapat memperkirakan bahwa kelompok memiliki pengaruh yang kuat pada sikap terhadap berbagai hal yang tidak pasti/ambiguitas (terutama dalam hat politik, religiusitas, dan moralitas). Asch (1955,1956) meneliti tekanan kelompok dan kecenderungan yang terjadi pada anggotanya untuk menyesuaikan diri dengan tekanan kelompok tersebut atau menghindarinya. Asch merancang suatu eksperimen yang menguji kemampuan seseorang untuk memperkirakan panjang suatu garis. Masing-masing orang diberi dua buah kartu. Pada kartu yang satu terdapat sebuah garis, dan pada kartu yang lainnya terdapat tiga buah garis yang berbeda panjangnya dan diberi nomor 1, 2, dan 3. Orang tersebut diminta untuk menyebutkan salah satu nomor dari tiga garis yang terdapat pada kartu kedua yang sama panjangnya dengan garis yang terdapat pada kartu pertama..- Eksperimen ini dilakukan terhadap 12 orang dengan dua betas set kartu yang berbeda. Eksperimen ini merupakan suatu pengujian persepsi yang relatif mudah bila dilakukan secara individual (tanpa adanya tekanan kelompok), Eksperimen ini menjadi menarik ketika dilakukan dalam situasi kelompok. Dalam suatu kelompok yang terdiri dari Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 23 delapan orang, yang tujuh di antaranya adalah orang-orang yang oleh peneliti sengaja dimasukkan ke dalam kelompok tersebut, diinstruksikan untuk memberikan jawaban yang salah setelah beberapa kali sebelurnnya menyebutkan jawaban yang benar. Dalam situasi seperti ini orang yang dijadikan objek penelitian harus menghadapi keadaan di mana dia mendengar semua orang lainnya bersepakat terhadap satu jawaban meskipun perasaannya mengatakan bahwa jawaban tersebut salah. Hasilnya menunjukkan bahwa 76% jawaban dari objek eksperimen terpengaruh oleh tekanan kelompok dan sedikitnya sekali mengikuti jawaban yang salah tersebut. Asch melakukan sejumlah rnodifikasi pada eksperimennya, dan memperoleh beberapa temuan baru yang menarik. Dari variasi jumlah anggota kelompok antara satu sampai dengan 15 yang memberikan jawaban salah, ditemukan bahwa kelompok yang terdiri dari tiga orang ternyata sama efektifnya dengan kelompok yang lebih benar dalam menciptakan kesesuaian terhadap pendapat yang salah. Dalam hal di mana satu orang (selain dari objek eksperimen) memberikan jawaban yang benar ternyata memiliki pengaruh yang lain terhadap objek eksperimen. Mendapat satu orang partner yang mendukung penilaian si objek eksperimen, ternyata sangat berpengaruh terhadap kekuatan tekanan kelompok. Jawaban yang salah dari objek eksperimen karena menyesuaikan dengan jawaban kelompok, tinggal seperempat dibanding situasi ketika dia tidak mendapat partner yang mendukung. Penelitian Asch telah memberikan suatu hasil yang mengejutkan di mana seseorang akin mengikuti pendapat kelompoknya, walaupun itu berarti harus bertentangan dengan informasi yang diperoleh melalui penginderaannya sendiri. Tekanan kelompok juga memiliki pengaruh yang kuat dalam pengambilan keputusan, di biding politik dan pemerintahan. Psikolog yang bernama Beltram H. Raven (1974) menjelaskan bagaimana suatu tekanan kelompok tertentu yang disebut “risky-shift” telah mernbawa bekas presiders AS, Richard Nixon dan beberapa pembantunya ke dalam skandal Watergate. “Risky-shift” mengacu kepada kecenderungan kelompok untuk berani mengambil risiko yang lebih besar dibandingkan apa yang berani dilakukan oleh masing-masing anggotanya secara individual. Ini dapat terjadi dalam suatu kelompok seperti 'inner circle'-nya Nixon yang memiliki norma-norma keuletan dan kepaduan. Raven mencontohkan suatu pertemuan di mana salah seorang anggota dari 'inner circle' Nixon mengemukakan suatu rencana untuk menggunakan penculikan, pemerasan, dan perampokan untuk mengalahkan partai Demokrat yang menjadi saingannya dalam Pemilu. Meskipun setiap anggota kelompok yang menghadiri pertemuan tersebut tampak terkejut dengan rencana yang dikemukakan, namun tak seorang pun yang memberikan kecaman atau bersuara keras terhadap rencana tadi selain Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 24 hanya menunjukkan bahwa tindakan-tindakan yang direncanakan tersebut bukan seperti yang mereka pikirkan. Hasil eksperimen Sherif dan Asch telah menunjukkan bahwa pengaruh kelompok memiliki efek yang kuat, sekalipun dalam kelompok yang longgar yaitu orang-orang yang belum pernah ketemu sebelum dilakukannya eksperimen. Tampaknya kekuatan kelompok akin menjadi lebih besar pada kelompok primer, seperti keluarga atau kelompok kerja. B. PENELITIAN KURT LEWIN MENGENAI KEPUTUSAN KELOMPOK Kurt Lewin telah memberikan sejumlah kontribusi penting dalam studi komunikasi, termasuk di antaranya adalah konsepsi tentang 'gate keeper'. dan dinamika kelompok. Pada saat berlangsung Perang Dunia II, Lewin diminta untuk berpartisipasi dalam suatu program yang dirancang dengan menggunakan kornunikasi untuk membuat orang mengubah beberapa kebiasaan makan mereka. Dalam suatu kelompok eksperimen, Lewin dan rekan-rekannya berusaha untuk membuat para ibu rumah tangga dalam suasana perang yang kurang menguntungkan, untuk meningkatkan pemanfaatan daging “jeroan” (hati sapi, babat, ginjal dan sebagainya yang pada dasarnya merupakan pilihan yang kurang disukai) sebagai bahan konsumsi sehari-hari. Lewin merancang dua bentuk eksperimen, yaitu ceramah dan suatu kondisi keputusan kelompok. Sistem ceramah menggunakan presentasi oral yang menjelaskan tentang gizi, nilai ekonomis dan cara-cara mempersiapkan dan memasak jenis daging yang kurang populer tersebut. Selain itu kepada para ibu yang mengikuti sistem ceramah dibagikan resep masakan untuk jenis daging jeroan. Dalam eksperimen yang menggunakan situasi kelompok, diberikan sejumlah informasi awal yang dilanjutkan dengan diskusi yang dihadapi oleh para ibu rumah tangga seperti mereka dalam menyajikan jenis daging tersebut. Teknik dan resep memasak juga dibagikan kepada anggota kelompok, namun setelah mereka dirasakan cukup terlibat untuk memiliki rasa ingin tabu apakah persoalan-persoalan yang mereka hadapi dapat dipecahkan. Pada akhir pertemuan ditanyakan kepada para ibu siapakah yang mau mencoba memasaknya minggu depan. Hasilnya adalah, hanya 3% dari para ibu yang mengikuti ceramah yang mau mencoba memasak daging yang belum pernah mereka konsumsi sebelumnya, sementara 32% dari para ibu dalam kondisi keputusan kelompok yang berminat untuk mencoba memasaknya dalam seminggu mendatang. Terdapat sejumlah faktor yang berperan dalam eksperimen ini, termasuk diskusi kelompok, solidaritas sosial, keputusan untuk bertindak, dan persepsi Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 25 mengenai konsensus kelompok. Suatu eksperimen berikutnya yang dilakukan oleh Edith Bennett Pelz menunjukkan bahwa dua faktor yang pertama tidak terlalu memiliki dampak dan dua faktor yang terakhir cukup berarti untuk menjadi penyebab yang berpengaruh, seperti yang ditemukan dalam eksperimen Lewin. C. PENELITIAN MENGENAI KELOMPOK DAN SIKAP POLITIK Dalam dekade 40-an, sejumlah peneliti mulai melakukan penelitian secara sistematis mengenai bagaimana orang memutuskan untuk memilih salah seorang calon dalam pemilihan umum. Dua studi penting tentang hal ini dilakukan masing-masing oleh Paul Lazarsfeld dan rekan-rekannya pada tahun 1940 di Erie County, Pennsylvania, antara dua kandidat yaitu Rosevelt dan Willkie dan lainnya dilakukan oleh Bernard Berelson dan rekan-rekannya pada tahun 1948 di Elmira, New york, antara kandidat Truman dan Dewey. Kedua studi berangkat dari asumsi bahwa media massa memainkan peran penting dalam mempengaruhi keputusan untuk memilih. Namun, kedua studi tersebut menghasilkan temuan yang mengejutkan di mana ternyata media massa tidak terlalu berperan dibandingkan dengan pengaruh antarpribadi, atau pengaruh dari orang lain. Kedua studi ini juga dianggap sebagai tonggak bagi penemuan kembali faktor pengaruh personal, suatu faktor yang dipandang sebelah mata oleh para peneliti komunikasi pada waktu itu yang sedang terpengaruh oleh pemikiran tentang kekuatan media massa (masa kejayaan teori jarum arum hipodermik dan teori pelum). Studi yang dilakukan oleh Lazarsfeld dan Berelson menunjukkan suatu kecenderungan yang kuat bahwa orang memilih kandidat yang sama seperti yang dipilih oleh kelompok primernya. Dan keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting. Kuatnya pengaruh keluarga ditandai oleh temuan bahwa 75% dari orang yang baru pertama kali memiliki hak suara dalam pemilu, memilih kandidat yang sama dengan yang dipilih ayahnya. Orang juga cenderung memiliki pilihan yang sama dengan teman dekatnya atau rekan sekerjanya. Berelson menyebut kuatnya konsistensi ini sebagai 'homogenitas politik dari kelompok primer', dan hasil dari kedua studi tersebut sangat sesuai dengan asumsi Asch mengenai tekanan kelompok di mana suatu kesepakatan penuh dari kelompok yang beranggotakan 3 orang telah cukup untuk mempengaruhi penilaian seorang anggota lainnya. Homogenitas pendapat dalam bidang politik dapat dijelaskan melalui dua proses yang berbeda. Pertama, adalah bahwa kelompok menimbulkan tekanan dan mempengaruhi penilaian individu, seperti yang ditemukan pada studi yang dilakukan Asch. Penjelasan lainnya adalah bahwa mungkin orang akan mencari Teori Komunikasi Kelompok Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 26 teman yang memiliki sikap dan aspirasi politik yang sesuai dengan dirinya. Keduanya mungkin benar sampai tingkat tertentu. Tetapi penjelasan kedua dirasakan kurang cukup untuk menjadi faktor pengaruh yang berdiri sendiri. Orang memiliki banyak pilihan untuk menentukan temannya, namun mereka memiliki lebih sedikit pilihan dalam memilih rekan kerjanya. Dan yang lebih pasti adalah bahwa orang tidak memiliki pilihan untuk menentukan siapa keluarganya. Orang juga termasuk ke dalam kelompok tertentu yang lebih besar yang ditentukan oleh sejumlah karakternya, seperti jenis kelamin, umur, ras, pekerjaan, religiusitas, dan sebagainya. Orang dalam kelompok luas seperti ini juga cenderung untuk memiliki kesamaan dalam memilih kandidat. Hanya dengan mengetahui dua faktor yaitu agama dan status sosial ekonomi, telah memungkinkan kita untuk memprediksikan pilihan seseorang dengan tingkat akurasi yang tinggi. Dengan menggunakan lima atau enam faktor akan membuat pilihan soseorang lebih mudah diprediksi.