Sabtu, 08 Juni 2013

BAB 2 Teori Komunikasi antar Pribadi: Dimensi-Dimensi Pribadi dan Relasional

Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional PENDAHULUAN ecara umum komunikasi antarpribadi dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Pengertian proses mengacu pada perubahan dan tindakan (action) yang berlangsung terus menerus. Komunikasi antarpribadi juga merupakan suatu pertukaran, yaitu tindakan menyampaikan dan menerima pesan secara timbal balik. Sedangkan makna, yaitu sesuatu yang dipertukarkan dalam proses tersebut, adalah kesamaan pemahaman di antara orang-orang yang berkomunikasi terhadap pesan-pesan yang digunakan dalam proses komunikasi. Di balik pengertian ini sebenarnya terdapat karakteristik yang menentukan apakah suatu kegiatan atau tindakan dapat disebut sebagai komunikasi antarpribadi atau tidak. Judy C. Pearson (1983) menyebutkan enam karakteristik komunikasi pribadi (self). Berbagai persepsi komunikasi yang menyangkut pengamatan dan pemahaman berangkat dari dalam diri kita, artinya dibatasi oleh siapa diri kita dan bagaimana pengalaman kita . Kedua, komunikasi antarpribadi bersifat transaksional. Anggapan ini mengacu pada tindakan pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak menyampaikan dan menerima pesan. Ketiga, komunikasi antarpribadi mencakup aspek-aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi. Maksudnya komunikasi antarpribadi tidak hanya berkenaan dengan isi pesan yang dipertukarkan, tetapi juga melibatikan siapa partner komunikasi kita dan bagaimana hubungan kita dengan partner tersebut. Keempat, komunikasi antarpribadi mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara pihak- S Modul 2 Teori Komunikasi antar Pribadi: Dimensi-Dimensi Pribadi dan Relasional Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 2 pihak yang berkomunikasi. Kelima, komunikasi antarpribadi melibatkan pihak-pihak yang saling tergantung satu dengan yang lainnya (interdependen) dalam proses komunikasi. Keenam, komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah maupun diulang. Jika kita salah mengucapkan sesuatu kepada partner komunikasi kita, mungkin kita dapat meminta maaf dan memberi maaf, tetapi itu tidak berarti menghapus apa yang pernah kita ucapkan. Demikian pula kita tidak dapat mengulang suatu pernyataan dengan harapan untuk mendapatkan hasil yang sama, karena dalam proses komunikasi antarmanusia, hal ini akan sangat tergantung da ri tanggapan partner komunikasi kita. Berangkat dari konsep yang telah diuraikan diatas, modul ini akan membahas teori-teori komunikasi antarpribadi, yaitu: (1) individu dalam komunikasi antarpribadi, (2) memahami diri pribadi, (3) memahami orang lain, dan (4) aspek relasional atau hubungan dalam komunikasi antarpribadi. Setiap pokok bahasan akan menjadi satu topik kegiatan belajar tersendiri. Diharapkan keempat pokok bahasan ini akan memberikan pemahaman mengenai teori-teori yang akan dapat digunakan untuk menjelaskan proses komunikasi antarpribadi. Pelajari dengan cermat setiap topik kegiatan belajar, serta kerjakan semua pertanyaan latihan dan tes formatif . Apabila ada kesulitan diskusikan dengan teman-teman anda atau tutor anda. Secara umum tujuan dari modul ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang berbagai dimensi teori komunikasi antarpribadi dan cakupannya dalam menjelaskan fenomena individu, diri pribadi, orang lain sebagai partner komunikasi dan aspek aspek relasional dalam komunikasi antarpribadi. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 3 Individu dalam Komunikasi Antarpribadi emahami komunikasi dan hubungan antarpribadi dari sudut pandang individu adalah menempatkan pemahaman mengenai komunikasi di dalam proses psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna pribadi terhadap setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan makna pribadi terhadap setiap hubungan di mana dia terlibat di dalamnya. Karena pemahaman tersebut bersifat sangat pribadi dan sangat bermakna bagi individu maka pemahaman psikologis acapkali dianggap sebagai makna yang sesungguhnya dari suatu hubungan antarpribadi. Pada bagian ini akan dibahas beberapa aspek psikologis yang terjadi dalam proses komunikasi antarpribadi. A. LETAK (LOKUS) PSIKOLOGIS Aspek psikologis dari komunikasi antarpribadi menempatkan makna hubungan sosial ke dalam individu, yaitu dalam diri partisipan komunikasi. Hal ini akan tampak jika kita melihat suatu hubungan dari sudut pandang kita sendiri maka kita akan menyertakan semacam rasa memiliki ketika kita berpikir bahwa orang lain dan hubungan kita dengan orang tersebut seolah-olah milik kita. Misalnya, kita biasanya berkata istri saya, pimpinan saya, atau teman saya, sesuatu yang diasosiasikan dengan milik saya. Dengan kata lain, kita biasanya mengartikan hubungan dan bahkan orang lain dalam pengertian yang berpusat pada diri kita sendiri (self centered/selfish), yaitu bagaimana segala sesuatunya atau berkaitan dengan kita sendiri. M Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 4 Suatu pemahaman psikologis terhadap komunikasi antarpribadi merupakan bagian penting dari pemahaman yang menyeluruh terhadap komunikasi antarpribadi. Meskipun demikian, beberapa persoalan dapat muncul dalam proses pemahaman oleh individu yang disebut juga sebagai proses intrapribadi ini. Fisher (1987:106) menyebutkan tiga di antaranya, yaitu: Pertama, munculnya respons individu terbatas pada setelahkegiatan komunikasi; Kedua, ingatan atau persepsi individu dapat berubah setelah suatu tindakan komunikasi; Ketiga, individu sering mencampuradukkan hubungan antarpribadi dengan respons emosional mereka. Ini semua akan menjadi masalah jika orang menganggap bahwa lokus psikologis komunikator merupakan pemahaman terpenting atau paling nyata darikomunikasi antarpribadi. Jadi, dengan aspek psikologis saja belumlah cukup untuk memahami komunikasi antarpribadi secara menyeluruh. Hal terpenting dari lokus psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak pada suatu tempat di dalam individu, dan tidak mungkin dapat diamati secara langsung. Asumsi ini juga mencakup anggapan bahwa kita dapat melakukan pengamatan terhadap diri pribadi seseorang ecara tidak langsung dengan menyimpulkan berdasarkan pengamatan kita terhadap perilaku individu tersebut. Dengan demikian, lokus psikologis dari komunikasi mengasumsikan individu memiliki dua dimensi diri, yaitu internal dan ekternal. Namun, kita juga mengetahui bahwa dimensi eksternal dari diri tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya. Biasanya, kita tidak mudah percaya pada dimensi eksternal karena kita tahu bahwa orang mampu mengendalikan perilaku eksternalnya. Fungsi psikologis dari komunikasi adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atu perilaku yang dapt diamati. Kita akan melakukan seleksi terhadap tanda-tanda dari perilaku dan mengungkap mana yang ”palsu” dan mana yang ”asli”. Cara inilah yang biasanya kita lakukan dalam upaya untuk Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 5 mengungkap dimensi internal dari diri yang sesungguhnya. Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana kita dapat menyimpulkan secara akurat? Karena penyimpulan itu sendiri adalah proses psikologis, suatu proses pikir yang melibatkan penarikan suatu kesimpulan atas dasar informasi yang tidak lengkap. Menyimpulkan adalah menggunakan logika, baik yang rasional maupun tidak, dalam rangka mengisi sejumlah informasi yang belum lengkap sehingga sampai pada suatu kesimpulan. Dengan kata lain, menyimpulkan adalah melompat kepada suatu kesimpulan berdasarkan dat yang belum tentu lengkap. Jadi, meskipun pada dasarnya tidak dapat dilakukan pengamatan secara langsung pada dimensi internal dari diri, orang melakukan penyimpulan berdasarkan apa yang dapat dia amati. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah mengamati dimensi eksternal dari diri, yaitu pada perilaku atau tindakan. B. TATARAN PSIKOLOGIS DALAM KOMUNIKASI Dalam lokus psikologis, komunikasi antarpribadi merupakan kegiatan yang melibatkan dua orang atau lebih yang memiliki tingkay kesamaan diri atau proses psikologis tertentu. Katakanlah Ani berkomunikasi dengan Budi maka proses psikologis Ani harus memiliki kesamaan tertentu dengan proses psikologis Budi. Gambar 2.1 memberikan ilustrasi adanya ”overlap” (ssaling tumpang tindih) antara proses psikologis Ani dan Budi. Ketika Ani dan Budi berkomunikasi, mereka secara individual dan serempak memperluas diri pribadi masing-masing ke dalam tindakan komunikasi melalui pemikiran, perasaan, keyakinan atau dengan kata lain melalui proses psikologis mereka. Proses ini akan berlangsung terus sepanjang keduanya masih terlibat dalam tindak komunikasi. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 6 Gambar 2.1 Bidang bergaris pada Gambar 2.1 menunjukkan bagian dari proses psikologis Ani yang memiliki kesamaan dengan proses psikologis Budi. Dapat dikatakan pula bahwa komunikasi akan menjadi semaikin efektif ketika bidang yang overlap semakin membesar. Selanjutnya, fenomena ini menghasilkan suatu situasi di mana Ani dan Budi saling berbagi pemahaman. Saling berbagi pemahaman tidaklah berarti memiliki kesamaan pemahaman atau kesamaan diri, namun terdapat dua pemahaman individual yang berbeda, yang mempunyai kesamaan karakteristik tertentu. Kesamaan karakteristik ini merupakan suatu persinggungan dari dua atau lebih pemahaman yang berbeda. Persinggungan tersebut terwujud pada bidang yang overlap dari dua pemahaman, tetapi hal itu bukan merupakan, dan tidak akan pernah, menjadi suatu pemahaman tunggal. Jadi, komunikasi psikologis merupakan suatu persinggungan dari proses-proses psikologis yang berbeda dan tidak dipandang sebagai suatu proses psikologis tunggal. PROSES PSIKOLOGIS ANI PROSES PSIKOLOGIS BUDI ANI BUDI Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 7 Sebenarnya proses psikologis dalam komunikasi mencakup beberapa proses internal yang berbeda dan berlangsung secara simultan. Proses-proses ini berlangsung dalam beberapa tataran, dengan pengertian masing-masing mencakup bagian yang berbeda dari proses psikologis yang “dibagi” oleh para partisipan dalam komunikasi antarpribadi. Fiesher (1987:110) mengemukakan bahwa ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, proses intrapribadi kita memiliki paling sedikit tiga tataran yang berbeda. Tiap tataran tersebut akan berkaitan dengan sejumlah “diri” yang hadir dalam situasi antarpribadi, yaitu pandangan kita mengenai diri kita sendiri, pandangan kita mengenai diri orang lain, dan pandangan kita mengenai pandangan orang lain tentang kita (lihat Gambar 2.2). Sering kali hal ini disebut pula dengan persepsi, metapersepsi dan meta-metapersepsi. Selanjutnya, ketiga tataran psikologis ini berfungsi secara simultan ketika kita sedang berkomunikasi dengan orang lain, dan tiap tataran dapat dipengaruhi atau mempengaruhi tataran lainnya. Misalnya, Budi memandang Ani sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya, dan dia menganggap Ani tidak sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya, dan dia menganggap Ani tidak menyukai atau tidak mempercayainya maka Budi akan mulai menurunkan citra terhadap dirinya sendiri (merasa bahwa dirinya mungkin tidak jujur sehingga menganggap tidak disukai oleh orang orang yang jujur). Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 8 Gambar 2.2 Perlu kita ingat kembali bahwa komunikasi antarpribadi, setidaknya ada dua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian, pada saat ketiga tataran psikologis kita beroperasi, hal yang sama berlaku pula pada diri partner komunikasi kita. Dalam kasus semacam ini kita seolah-olah berusaha untuk merefleksikan proses psikologis kita dengan proses psikologis yang kita anggap sedang terjadi dalam diri orang lain. Dan tentunya hal yang sama secara simultan terjadi pula pada diri partner komunikasi kita. Proses-proses psikologis yang terjadi pada dua individu ini tentunya tidak akan sama persis, tetapi masing-masing pihak berusaha untuk menghasilkan adanya tingkat persinggungan tertentu atau bidang yang overlap pada tiap-tiap tataran. Diri Saya Sendiri Diri Orang Lain Pandangan orang lain terhadap diri saya Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 9 Gambar 2.3 Gambar 2.3 menunjukkan adanya persinggungan pandangan antara dua individu. Meskipun tidak akan pernah terjadi sinkronitas yang sempurna antara keduanya, mereka akan tetap berkomunikasi berlandaskan pada persinggungan proses psikologis mereka. Jadi, arti penting dari komunikasi bukanlah pada kesamaan yang sempurna antara dua proses psikologis mereka, tetapi bahwa mereka berkomunikasi satu dengan lainnya seolah-olah ada kesamaan di antara mereka. Karena orang-orang yang terlibat dalam komunikasi seolah-olah saling berbagi bagian dari diri mereka, maka proses-proses ANI BUDI DIRI BUDI PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP DIRI SAYA DIRI ORANG LAIN DIRI SAYA SENDIRI PANDANGAN BUDI/ANI TERHADAP DIRI ANI/BUDI DIRI ANI DIRI ORANG LAIN DIRI SAYA SENDIRI PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP DIRI SAYA ANI BUDI DIRI BUDI PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP DIRI SAYA DIRI ORANG LAIN DIRI SAYA SENDIRI PANDANGAN BUDI/ANI TERHADAP DIRI ANI/BUDI DIRI ANI DIRI ORANG LAIN DIRI SAYA SENDIRI PANDANGAN ORANG LAIN TERHADAP DIRI SAYA Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 10 psikologis mereka dapat mempengaruhi komunikasi antarpribadi dan hubungan sosial yang terjadi. Pentingnya proses psikologis ini hendaknya dipahami dengan hati-hati, artinya proses intra pribadi individu dari partisipan komunikasi bukanlah hal yang sama dengan hubungan antarpribadi, melainkan proses psikologis. Meskipun demikian proses psikologis dari diri tiap individu pasti mempengaruhi komunikasi antarpribadi yang pada gilirannya juga akan mempengaruhi hubungan antarpribadi. Proses psikologis dapat berpengaruh pada komunikasi dan hubungan antarpribadi karena individu menggunakannya sebagai pedoman untuk bertindak atau berperilaku. Ketika hal ini berlangsung maka individu akan bertindak atau berperilaku. Ketika hal ini berlangsung maka individu akan bertindak atas dasar proses psikologis yang diketahui atau diyakininya sebagai diri yang sesungguhnya. Benar tidaknya penyimpulan yang dilakukan tidak akan dapat diketahui individu tersebut karena dia memang tidak memiliki pilihan lain, selain menggunakan penafsirannya terhadap citra diri untuk mempengaruhi perilaku, terlepas dari apakah dia berhasil menyimpulkan diri yang sesungguhnya atau tidak. Persoalan sebetulnya memang bukan pada hadirnya diri yang sesungguhnya (real self) dalam tindakan komunikasi karena semuanya akan kembali kepada pandangan masing-masing individu terhadap diri tersebut. Bukan pula pada akurat atau tidaknya pandangan masing-masing individu Karena mereka berperilaku seolah-olah pandangannya akurat. Akhirnya, karena proses psikologis secara potensial mampu mempengaruhi komunikasi, kita tidak dapat mengesampingkannya jika ingin benar-benar memahami hubungan antarmanusia. Sebaliknya, kita juga jangan menganggap bahwa hanya proses psikologislah yang menentukan komunikasi. Kita hendaknya menempatkan proses psikologis sebagai faktor yang dapat Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 11 mempengaruhi komunikasi dan hubungan sosial karena secara teknis proses psikologis bukan merupakan bagian dari hubungan itu sendiri. Memahami Diri Pribadi dalam Komunikasi iri pribadi adalah suatu ukuran/kualitas yang memungkinkan sesorang untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang berbeda dengan individu lainnya. Kualitas yang membuat sesorang memiliki kekhasan tersendiri sebagai manusia ini, tumbuh dan berkembang melalui interaksi sosial, yaitu berkomunikasi dengan orang lain. Individu tidak dilahirkan dengan membawa kepribadian. Seperti halnya diri fisik kita maka diri social dan diri psikologis manusia akan terus berkembang dan menjadi matang sejalan dengan usia hidup kita. Pengalaman dalam kehidupan akan membentuk diri pribadi setiap manusia, tetapi setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi pada diri pribadinya. Kesadaran terhadap diri pribadi ini pada dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya sendiri. Dalamj hal ini orang akan berusaha untuk mengenali dan memahami siapa dirinya. Pada bagian ini berikut akan dibahas berbagai konsep diri dan relevansinya terhadap komunikasi antarpribadi. Pembahasan amencakup bagaimana manusia sampai kepada pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness). A. PERSEPSI TERHADAP DIRI PRIBADI (SELF PERCEPTION) Proses psikologis yang diasosiasikan dengan interpretasi dan pemberian makna terhadap orang atau objek tertentu dikenal sebagai persepsi. Dengan D Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 12 mengutip Cohen, Fisher (1987 : 118) dikemukakan bahwa persepsi didefinisikan sebagai interpretasi terhadap berbagai sensasi sebagai pepresentasi dari objek-objek eksternal, jadi persepsi adalah pengetahuan tentang apa yang dapat ditangkap oleh indra kita. Definisi ini melibatkan sejumlah karakteristik yang mendasari upaya kita untuk memahami proses antarpribadi. Pertama, suatu tindakan persepsi mensyaratkan kehadiran objek eksternal untuk dapat ditangkap oleh indra kita. Dalam hal ini persepsi terhadap diri pribadi, kehadirannya sebagai objek eksternal mungkin kurang nyata, tetapi keberadaanya jelas dapat kita rasakan. Kedua, adanya informasi untuk diinterpretasikan. Informasi yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui sensasi atau indra yang kita miliki. Karakteristik ketiga menyangkut sifat representative dari pengindraan. Maksudnya, kita tidak dapat mengartikan makna suatu objek secara langsung karena kita sebenarnya hanya mengartikan makna dari informasi yang kita anggap mewakili objek tersebut. Jadi, meskipun suatu persepi didasarkan pada pengamatan langsung, hal ini bukanlah sesuatu yang “sebenarnya” dalam artian kita dapat menangkap atau menguasai objek tersebut. Kita melihat, membaui, mendengar, mencicip, dan meraba, tetapi apa yang harus kita interpretasikan adalah penampakan, bau, suara, rasa, dan bentuk yang mewakili sesuatu, dan kita tidak akan pernah dapat “merasakan” objek itu sendiri. Konsekuensinya adalah bahwa pengetahuan yang kita peroleh melalui persepsi bukanlah tentang apakah suatu objek, melainkan apa yang tampak sebagai objek tersebut. Adakalanya penampakan dapat menyesatkan seperti yang kita alami dalam ilusi optis, special effects dalam film, dan sebagainya. Oleh karenanya, persepsi tidak lebih dari pengetahuan mengenai apa yang tampak sebagai realitas bagi diri kita. Jadi, sebaliknya kita tidak kelewat yakin dengan pengetahuan yang kita peroleh melalui persepsi. Ironisnya, pengetahuan Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 13 yang biasanya paling kita yakini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi kita. Realitas yang kita persepsikan seringkali adalah yang paling jelas, pribadi, penting, dan terpercaya bagi kita. Ini merupakan suatu alas an mengapa komunikasi antarpribadi dan hubungan antarmanusia sangat sulit “dipahami” meskipun sangat mudah “diketahui/dikenali”. B. SIFAT-SIFAT PERSEPSI Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, kita harus memahami bagaimana orang mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman tersebut diperoleh melalui proses persepsi, kita harus mengetahui bagaimana orang mempersepsi diri mereka sendiri atau orang lain. Adakalanya kita merasa kesal karena orang tidak dapat memahami apa yang kita maksud sehingga kita akan berpikir bahwa orang tersebut tidak paham ungkapan yang begitu sederhana dan gambling. Hal ini dapat terjadi karena mungkin orang tadi mempersepsikan sesuatu dari ungkapan yang kita sendiri bahkan tidak merasakan/menyadarinya. Pada dasarnya, letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsi, bukan pada suatu ungkapan ataupun objek. Persepsi terjadi di dalam benak individu yang mempersepsi, bukan di dalam objek, dan selalu merupakan pengetahuan tentang penampakan. Maka, apa yang mudah bagi kita boleh jadi tidak mudah bagi orang lain, atau apa yang jelas bagi orang lain mungkin terasa membingungkan bagi kita. Dalam konteks inilah kita perlu memahami tataran intra pribadi dari komunikasi antarpribadi dengan melihat lebih jauh sifat-sifat persepsi. Pertama, persepsi adalah pengalaman. Untuk mengartikan makna dari seseorang, objek, atau peristiwa, kita harus memiliki dasar/basis untuk melakukan interpretasi. Dasar ini biasanya kita temukan pada pengalaman masa lalu kita dengan orang, objek, atau peristiwa tersebut, atau dengan hal-hal yang Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 14 menyerupainya. Tanpa landasan pengalaman sebagai pembanding, tidak mungkin untuk mempersepsikan suatu makna, sebab ini akan membawa kita kepada suatu kebingungan. Kedua, persepsi adalah selektif. Ketika mempersepsikan sesuatu, kita cenderung memperhatikan hanya bagian-bagian tertentu dari suatu objek atau orang. Dengan kata lain, kita melakukan seleksi hanya pada karakteristik tertentu dari objek persepsi kita dan mengabaikan yang lain. Dalam hal ini biasanya kita mempersepsikan apa yang kita “inginkan” atas dasar sikap, nilai, dan keyakinan yang ada dalam diri kita, dan mengabaikan karakteristik yang tidak relevan atau berlawanan dengan nilai dan keyakinan tersebut. Ketiga, persepsi adalah penyimpulan. Proses psikologis dari persepsi mencakup penarikan kesimpulan melalui suatu proses induksi secara logis. Interpretasi yang dihasilkan melalui persepsi pada dasarnya adalah penyimpulan atas informasi yang tidak lengkap. Dengan kata lain, mempersepsikan makna adalah melompat kepada suatu kesimpulan yang tidak sepenuhnya didasarkan atas data yang dapat ditangkap oleh indra kita. Sifat ini saling mengisi dengan sifat kedua. Pada sifat kedua persepsi adalah selektif karena keterbatasan kapasitas otak maka kita hanya dapat mempersepsi sebagian karakteristik dari objek. Melalui penyimpulan ini kita berusaha mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai objek yang kita persepsikan atas dasar sebagian karakteristik dari objek tersebut. Keempat, persepsi tidak akurat. Setiap persepsi yang kita lakukan, akan mengandung kesalahan dalam kadar tertentu. Hal ini disebabkan antara lain oleh pengaruh pengalaman masa lalu, selektivitas, dan penyimpulan. Biasanya ketidakakuratan ini terjadi karena penyimpulan yang terlalu mudah, atau menyamaratakan. Adakalanya persepsi tidak akurat karena orang menanggap sama sesuatu yang sebenarnya hanya mirip. Dan semakin jauh jarak antara orang Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 15 yang mempersepsi dengan objeknya maka semakin tidak akurat persepsinya. Meskipun demikian kita biasanya mengabaikan ketidakakuratan tersebut dalam kegiatan persepsi kita sehari-hari, dan ketidakakuratan persepsi tidak selalu menjadi/menimbulkan masalah dalam komunikasi antarpribadi. Kelima, persepsi adalah evaluatif. Persepsi tidak akan pernah objektif, karena kita melakukan interpretasi berdasarkan pengalaman dan merefleksikan sikap, nilai dan keyakinan pribadi yang digunakan untuk member makna pada objek persepsi. Karena persepsi merupakan proses kognitif psikologis yang ada di dalam diri kita maka bersifat subyektif. Fisher (1987 : 125) bahkan mengemukakan bahwa persepsi bukan hanya merupakan proses intrapribadi, tetapi juga sesuatu yang sangat pribadi, dan tidak terhindarkannya keterlibatan pribadi dalam tindak persepsi menyebabkan persepsi sangat subjektif. Suatu hal yang tidak terpisahkan dari interpretasi subjektif adalah proses evaluasi. Rasanya hampir tidak mungkin kita mempersepsi objek tanpa mempersepsikan pula baik atau buruknya objek tersebut. Adalah samgat langka kita dapat mempersepsikan sesuatu secara sepenuhnya netral. Hal ini dapat kita telusuri dari pengalaman kita sendiri. Kita cenderung untuk sangat (baik ataupun buruk) yang dapat kita ingat dengan baik. Selebihnya, hal-hal yang netral dan “biasa saja” cenderung dapat kita ingat dengan baik. Selebihnya kita ingat dengan baik (kabur). Jadi, ketika pengalaman mendasari persepsi yang kita lakukan, maka tidak dapat dihindari terjadinya proses evaluasi. C. BEBERAPA ELEMEN DARI PERSEPSI Kita telah mengetahui bahwa persepsi mensyaratkan adanya tiga hal: orang yang mempersepsi, objek persepsi, dan suatu interpretasi atau makna yang merupakan hasil dari tindakakn persepsi. Untuk memahami apa yang disebut tindak persepsi, apa ayang terjadi ketika orang memperseps, dan saja yang Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 16 mempeengaruhi makna yang dipersepsikan maka kita perlu mengenal terlebih dahulu elemen-elemen yang terlibat dalam proses persepsi. Elemen Pertama adalah sensasi pengindraan dan interpretasi. Ketika orang menangkap sesuatu melalui indranya (melihat, mendengar, mencicip, membau, atau meraba) maka secara simultan dia akan menginterpretasikan makna dari hasil pengindraanya. Sebagi misal, apa yang akan terjadi ketika kita mencium mawar? Apakah pertama kali kita mendapatkan sensasi fisik (bau), baru kemudian persepsi psikis (keharuman yang dihubungkan dengan mawar)? Apakah pertama kita membau dan kemudian membau mawar? Tentunya bukan itu yang terjadi karena kita mengasosiasikan sensasi kita dengan keharuman mawar yang telah kita kenal secara serempak/simultan. Dengan kata lain, adalah tidak mungkin untuk memisahkan antara sensasi dengan persepsi. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa kita cenderung untuk mendengar apa yang kita harapkan untuk didengar dan melihat apa yang kita harapkan untuk dilihat, terlepas dari apa yang „sesungguhnya‟ kita dengar dan lihat. Harapan, yang merupakan elemen kedua dari persepsi, dapat menjadi kekuatan yang sangat berarti dalam mengarahkan persepsi, meskipun adakalanya bertentangan dari rasio. Harapan mempengaruhi persepsi terhadap diri pribadi seperti persepsi terhadap objek lainnya. Kita berharap untuk mendapat simpati dari orang yang baru kita kenal, dan kita biasanya akan merasa senang bila orang tersebut memang bersimpati kepada kita. Artinya, kita berharap bahwa harapan kita akan terpenuhi. Jika akhirnya harapan kita tidak terpenuhi maka reaksi pertama kita adalah merasionalisasikan hal tersebut dan meletakkan kesalahan pada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Misalnya kita adalah penggemar PSSI dan mengaharapkannya menang dalam kompetisi sepak bola Pra Piala Dunia. Ketika ternyata PSSI kalah terus reaksi kita adalah bahwa tim kesayangan kita sedang Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 17 sial, wasit yang tidak fair, permainan yang kasar, dan sejumlah alasan lain. Sementara kita seolah-olah melupakan bahwa tim lawan bermain dengan baik. Elemen Ketiga adalah bentuk dan latar belakang (figure & background). Salah satu cara untuk memahami proses persepsi terletak pada kemampuannya untuk membeda-bedakan antara berbagagi jenis informasi. Orang yang mempersepsi, membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang penting dari yang tidak penting, yang relevean dari yang tidak relevan. Dengan kata lain, persepsi mencakup pembedaan antara informasi yang menjadi „figur‟ dan informasi yang menjadi background. Orang biasanya ingin meyakini kebenaran persepsinya. Persoalannya adalah bagaimana menguji dan menginterpretasikan nilai kebenaran. Cara yang biasa digunakan untuk menentukan kevalidan persepsi kita adalah membandingkan dengan sesuatu. Dengan demikian, perbandingan merupakan elemen keempat dari persepsi, jika makna yang dipersepsikan konsisten atau mirip dengan criteria yang digunakan sebagai pembanding (pengalaman masa lalu kita akan menganggapnya valid. Ketika kita menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan criteria pembanding maka kita akan mengalami ketidaksesuaian kognitif atau inkonsistensi kognitif. Sehingga kita merasa perlu untuk menyingkirkan inkonsistensi tadi sebagai upaya untuk mengatasi ketidaksesuaian psikologis kita. Dari semua pengaruh terhadap persepsi kita, konteks elemen kelima dari persepsi, mungkin yang paling potensial. Bukan berarti bahwa system kognitif kita seperti nilai, sikap, dan keyakinan, atau harapan kita, tidak cukup berpengaruh. Tetapi konteks di mana kita mempersepsikan suatu objek, sangat kuat pengaruhnya. Sehingga cenderung mengarahkan struktur kognitif dan harapan kit, dan pada gilirannya persepsi kita. Dalam hal ini, konteks selalu terdiri dari seperangkat fenomena yang sama dengan objek persepsikita. Jadi, Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 18 kita mempersepsi seseorang, konteks, yang mempengaruhi persepsi kita terdiridari orang-orang lainnya. Demikian pula terhadap objek atau peristiwa, konteksnya adalah objek lainnya atau peristiwa-peristiwa lainnya. Apa yang baru kita bicarakan belum sepenuhnya menjelaskan konteks. Ketika konteks telah kita kenali, persepsi akan menggunakan konteks tersebut untuk menginterpretasikan atau mengungkap suatu „pola‟ yaitu suatu bentuk pengorganisasian elemen-elemen untuk menciptakan suatu kesatuan interpretasi yang utuh. Konteks dan pola merupakan komponen penting yang mendasari seluruh pemahaman kita tentang komunikasi antarpribadi. Karena, tidak akan terjadi interpretasi terhadap setiap perilaku komunikasi (verbal atau nonverbal), tidak akan ada makna dari setiap hubungan (misalnya teman atau lawan), tanpa menempatkannya dalam suatu konteks dan mengenali pola-polanya dalam interaksi. Tanpa adanya pola, sama dengan tidak adanya makna, atau setidaknya suatu kebingungan terhadap terlalu banyaknya makna. Oleh karenanya menginterpretasikan makna dalam konteksnya merupakan faktor utama, bahkan mungkin merupakan satu-satunya faktor terpenting, dalam memahami komunikasi antarpribadi dan hubungan sosial. D. KESADARAN PRIBADI (SELF AWARENESS) Langkah pertama dalam persepsi diri adalah mengetahui/menyadari diri kita sendiri, yaitu mengungkap siapa dan apa kita ini. Dan sesungguhnya menyadari siapa diri kita, adalah juga persepsi diri. Karena ketika kita menyadari siapa diri kita secara simultan kita juga telah mempersepsikan diri kita sendiri. Untuk dapat menyadari diri kita, pertama kali kita harus memahami apakah „diri/self‟ tersebut. „Diri‟ secara sederhana dapat kita artikan sebagai identitas individu. Jadi, identitas diri adalah cara-cara yang kita gunakan untuk membedakan individu Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 19 satu dengan individu-individu lainnya. Dengan demikian „diri‟ adalah suatu pengertian yang mengacu kepada identitas spesifik dari individu. Fisher (1987:134) menyebutkan ada beberapa elemen dari kesadaran diri, yaitu konsep diri, „self esteem‟ dan „multiple selves‟. Pemahaman terhadap konsep diri adalah bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Pada umumnya orang cenderung menggolongkan dirinya sendiri dalam tiga kategori, yaitu karakteristik atau sifat pribadi, karakteristik atau sifat social, dan peran social. Dengan kata lain, kita cenderung untuk memandang diri kita sebagai memiliki sifat-sifat internal tertentu yang kita gunakan untuk menjelaskan bagaimana kita berperan dalam berhubungan dengan orang lain. Karakteristik pribadi adalah sifat-sifat yang kita miliki, paling tidak dalam persepsi kita mengenai diri kita sendiri. Karakteristik ini dapat bersifat fisik (laki, perempuan, tinggi, rendah, cantik, tampan, gemuk, dan sebagainya) atau kemampuan tertentu (pandai, pendiam, cakap, dungu, terpelajar, dan sebagainya). Karakteristik social menunjukkan sifa-sifat yang kita tampilkan dalam hubungan kita dengan orang lain. Antara lain, ramah atau ketus, ekstovert, atau introvert, banyak bicara atau pendiam, penuh perhatian atau tidak peduli, dan sebagainya. Peran social, mencakup hubungan dengan orang lain dan dalam suatu masyarakat tertentu. Ketika peran sosial merupakan bagian dari konsep diri, maka kita mendefinisikan hubungan social kita dengan orang lain, seperti ayah, istri, guru, polisi, eksekutif, dan sebagainya. Peran social ini dapat pula berbenuk afiliasi terhadap budaya, etnik, agama, dan sebagainya. Konsep diri dapat berubah siring dengan waktu, oleh karenanya stabilitas dari konsep diri ini sulit untuk diperkirakan. Ketika diri kita menjadi objek persepsi maka kitaa juga akan mengevaluasi diri kita sendiri. Ungkapan yang digunakan untuk menyatakan persepsi evaluative seseorang terhadap dirinyya sendiri adalah „self esteem‟, suatu bagian Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 20 yang inheren dari konsep diri. Orang biasanya memiliki self esteem yang relative tinggi. Namun self esteem yang relative tinggi ini bukan berarti bahwa kita lalu menjadi egoistik. Ini hanya berarti bahwa tinggkat self esteem dari orang „normal‟ yang hidup secara normal, rata-rata di atas titik tengah atau titik netral pada skala evaluasi. Self esteem juga bersifat lebih mendalam dan langgeng daripada suatu reaksi temporal. Maksudnya jika suatu ketika kita merasa gagal atau kehilangan kepercayaan diri pada saat dikecewakan oleh seorang sahabat, ini hanyalah reaksi sementara yang tidak mengubah self esteem. Self esteem kita adalah bagian dari interpretasi atau penyimpulan dari persepsi diri dan bukan semata-mata reaksi terhadap suatu peristiwa tertentu dalam kehidupan kita. Self esteem berpengaruh terhadap perilaku kita, khususnya perilaku komunikasi kita. Jika self esteem tinggi, kita cenderung merasa kompeten sehingga berperilaku secara lebih percaya diri. Orang yang self esteemnyatinggi biasanya lebih mandiri, tegas, dan tidak mudah dipersuasi. Sementara kebalikan dari hal-hal tadi biasanya ditemukan pada orang yang self esteemnya rendah. Meskipun pembahasan kita mengenai „diri‟ sejauh ini mengacu pada diri sebagai identitas tunggal, namun sebenarnya masing-masing dari kita memiliki berbagai identitas diri yang berbeda, yang disebut multiple selves. Beberapa dari diri kita berkaitan dengan peran kita dalam berbagai hubungan social yang berbeda dengan berbagai orang yang berbeda pula, misalnya; ayah-anak, suami-istri, atasan-bawahan, teman-teman, atau dalam kelompok yang lebih besar seperti sebagai pelajar, warga Negara, anggota partai, dan sebagainya. Ini semua mengacu kepada peran yang kita mainkan dalam berbagai komunitas dan merefleksikan berbagi aspek dalam kehidupan kita. Kesemuanya ini adalah „benar‟, dalam pengertian seringkali beberapa peran tersebut overlap dan tidak mencerminkan konflik antara berbagai bagian dari diri kita. Multiple selves ini Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 21 harus dipahami sebagai seseorang dengan berbagai aktivitas, kepentingan, dan hubungan social. Multiple selves dapat pula dipahamu dalam bentuk yang lain. Ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi, kita memiliki dua diri dalam knsep diri kita. Pertama adalah persepsi mengenai diri kita, dan persepsi kita tentang persepsi orang lain terhadap diri kita (metapersepsi). Cara lain untuk melihat multiple selves adalah melalui diri ideal kita. Sebagian dari konsep diri mencakup siapa diri kita sebenarnya, sedangkan sebagian lain mencakup kita ingin menjadi apa (semacam bentuk „idealisasi‟ diri). Upaya untuk mempersempit celah antara diri „sebenarnya‟ dan „diri‟, tidak lain adalah suatu bentuk usaha untuk memperbaiki diri. Misalnya orang yang sebenarnya gemuk berusaha melangsingkan tubuh untuk mencapai berat dan bentuk yang dia idealkan. Ini terjadi pula pada berbagai hal lain, orang berusaha memperbaiki diri untuk mencapai diri yang ideal. Selama proses kehidupan dan interaksi kita dengan orang lain, kita secara terus-menerus mengembangkan konsep diri. Proses mengenal diri sendiri akan berlangsung secara kontinu dan tidak dapat kita hindari. Oleh sebab itu, jika kita ingin memahami sepenuhnya tingkat hubungan antarpribadi kita dan mendapat manfaatnya maka kita perlu menyadari konsep diri kita dan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Proses perkembangan kesadaran diri diperoleh melalui tiga konsep, yaitu reflexive, social self, dan becoming self. Jika kita memandang ke dalam cermin, apa yang kita lihat? Jika kita menjawab “Saya melihat diri saya” atau “Saya melihat wajah saya” maka kita belum sepenuhnya menangkan arti reflektivitas dan peran cermin dalam merefleksikan image kita. Prinsip dari reflexive self adalah apabila kita memandang ke dalam cermin dan kita tidak hanya melihat diri kita, tetapi melihat diri kita (yang dipantulkan oleh cermin) yang sedang memandang kita. Jadi kesadaran diri Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 22 dikatakan reflexive jika bersifat dua arah. Ketika kita mempersepsikan diri kita, kita mempersepsikan bahwa diri kita terlibat dalam persepsi diri. Analogi lain untuk menggambarkan reflexive self adalah seperti melempar bola karet ke dinding. Kita melempar bola kearah dinding, dan tindakan tersebut direfleksikan kembali (bola memantul) ke arah kita. Jadi, pada saat yang bersamaan kita adalah subjek dan objek dari tindakan kita. Bila diterapkan dalam kasus self esteemnya, cenderung mandiri. Meskipun demikian, kita tidak dapat memahami pengertian sebab akibat karena persepsi dan tindakan ini terjadi secara simultan atau secara refleksif. Proses persepsi dan tindakan ini bergerak dalam siklus yang terus berlangsung tanpa titik awal ataupun akhir. Pada sisi lain, indiividu memperoleh konsep dirinya (identitasnya yang spesifik sebagai individu) melalui interaksi dengan orang lain. Dengan kata lain, orang mengevaluasi tindakannya terutama dengan mempersepsi dan mengevaluasi reaksi orang lain terhadap tindakan kita. Reaksi orang lain ini membuat tindakan kita jauh lebih berarti, dan ini berarti bahwa sebenarnya orang lain telah memberikan patokan di mana kita dapat mengukur konsep diri kita. Menggunakan orang lain sebagai kriteria untuk menilai konsep diri kita, disebut menggunakan social self . Pengertian ini juga dikenal dengan istilah “looking glass self”, yang menggambarkan bagaimana kita mengembangkan konsep diri melalui interaksi. Dalam interaksi, reaksi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan kemudian kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan mengevaluasi konsep diri kita. Aspek lain dari pengembangan kesadaran diri melalui interaksi sosial adalah self monitoring. Self monitoring memungkinkan kita untuk menyadari perilaku-perilaku yang dianggap sesuai untuk suatu social tertentu. Meskipun self monitoring biasanya mengacu pada kepekaan terhadap perilaku kita sendiri, kita dapat pula mempelajari perilaku apa yang secara social dianggap sesuai melalui Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 23 pengamatan terhadap tindakan orang lain. Self monitoring adalah suatu kemampuan di mana tingkatannya berbeda-beda pada setiap orang. Karena merupakan suatu kemampuan, self monitoring seseorang dapat dilatih dan diperbaiki. Sehingga orang akan menjadi lebih menyadari konsep dirinya, seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang interaksi social yang sesuai. Kemampuan ini akan membuat kita menjadi lebih efektif dalam komunikasi antarpribadi. Konsep diri bukan merupakan sesuatu yang tetap, selalu berubah, terus-menerus berkembang, dan selalu diterpa oleh informasi baru untuk dipersepsikan dan diinterpretasikan. Setiap kali kita terlibat dalam komunikasi, kita akan mendapat tambahhan informasi melalui “looking-glass self ” dan selalu mencocokkanya dengan kondisi konsep diri pada saat itu. Informasi tersebut tentu saja dapat mengkonfirmasikan atau memperkuat konsep diri kita, tetapi dapat pula mempertanyakan, meragukan, menyangkal, dan mengubah konsep diri kita. Jadi, apa pun efeknya, informasi akan selalu menerpa dan mempengaruhi konsep diri kita. Dari pengertian tersebut, konsep diri tidak pernah dalam kondisi tetap, melainkan selalu dalam keadaan berubah atau berkembang. Inilah yang disebut dengan becoming self, artinya konsep diri selalu dalam state of becoming atau proses menjadi konsep diri. Pengertian becoming ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan konsep diri tidak terjadi secara mendadak atau drastis, melainkan secara gradual melalui aktivitas sehari-hari kita. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 24 Memahami Orang Lain dalam Komunikasi alam setiap komunikasi yang melibatkan dua orang, akan terdapat diri pribadi yang harus di kenali, yaitu diri kita sendiri dan diri orang lain yang menjadi partner komunikasi kita. Upaya mengenali orang lain bukanlah persoalan sederhana. Upaya ini menyangkut proses psikologis, yaitu persepsi, dan seperti telah kita ketahui, persepsi memiliki banyak kelemahan sebagai dasar untuk memperoleh pengetahuan. Anatara lain persepsi tidak akurat, selektif, subjektif, dan sebagainya. Dalam mempersepsi orang lain, kita harus membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap, yaitu informasi yang hanya diperoleh melalui kelima indra kita. Maka, ketika kita berkomunikasi, kita akan mendasarkan persepsi terhadap orang lain atas perilaku komunikasinya yang dapat diamati. Meskipun sesungguhnya banyak informasi yang kita perlukan untuk melakukan persepsi terhadap orang lain, namun ada tiga jenis informasi terpenting yang perlu kita katahui, yaitu tujuan orang tersebut, kondisi internalnya (psikologis), dan kesamaan antara kita dengan orang tersebut. Mempersepsi tujuan orang memiliki beberapa arti bagi kita. Pertama adalah sebagai mekanisme proteksi, yaitu kita ingin mengetahui apa yang diharapakannya dari kita melalui komunikasi yang dia lakukan. Kedua, melalui pemahaman terhadap tujuan orang, kita dapat mengevaluasi kesungguhan atau akurasi dari penampilannya. Jadi, secara singkat dapat dikatakan bahwa kita menganggap sebagian besar perilaku memiliki tujuan tertentu, dan kita menggunakan persepsi untuk mengenali secara cermat apa tujuan orang lain. D Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 25 Adalah tidak mungkin bagi kita secara nyata mengamati kondisi internal orang lain. Namun melalui pengamatan terhadap perilakunya, kita dapat menyimpulkan bagaimana sikap, keyakinan dan nilai orang tersebut. Ada anggapan bahwa elemen non verbal dari perilaku merupakan refleksi yang paling akurat dari perasaan atau kondisi internal seseorang. Sementara itu, adanya kesamaan antara kita dengan orang yang kita ajak berkomunikasi akan mendoro rasa saling menyukai. Keadaan semacam ini akan membantu kita untuk merasa lebih nyaman dalam melanjutkan komunikasi. Setelah kita memperoleh informasi tentang orang lain yang dibutuhkan, apa yang harus dilakukan dengan informasi tersebut. Dalam komunikasi antarpribadi, setiap partisipasi perlu mengenali partisipan lainnya dalam rangka mencapai dua tujuan, yaitu mengurangi ketidakpastian (uncertainly reduction) dan perbandingan sosial (social comparison). Ketika kita pertama kali bertemu dengan seseorang, biasanya akan muncul banyak pertanyaan didalam benak kita. Siapa orang ini ? Apa yang diinginkannya dari kita ? kita memasuki suatu sistem komunikasi tanpa kejelasan. Selanjutnya kita akan berkomunikasi untuk menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan kita tadi. Dari situasi ketidakjelasan kita berusaha untuk mengeliminasi sebagian dari ketidakjelasan tadi dalam rangka memperoleh gambaran mengenai perilaku apa yang sesuai untuk situasi tersebut. Jadi, dalam tahap awal komunikasi antarpribadi, kita akan berusaha mengurangi jumlah ketidak pastian yang kita rasakan mengenai apa yang harus kita lakukan. Pada sisi lain, upaya ini juga sekaligus merupakan proses pemaknaan, yaitu proses mengeliminasi makna-makna yang tidak sesuai hingga tersisa beberapa makna yang kita anggap sesuai. Dengan menggunakan proses eliminasi, kita akan mendapatkan pemahaman dan makna melalui pengurangan ketidakpastian. Sehingga berlangsung proses persepsi yang kita lakukan terhadap orang lain. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 26 Perbandingan sosial adalah proses membandingkan diri kita dengan orang lain. Mengutip Leon Festinger, Fisher (1987:160) yang mengemukakan bahwa orang biasanya melakukan evaluasi diri, yaitu suatu cara untuk mengetahui diri kita sendiri (konsep diri). Selain itu kita juga ingin mengetahui bagaimana menilai diri kita (self esteem). Sebagai manusia, kita selalu ingin merasa ”baik”, oleh sebab itu kita melakukan proses evaluasi diri (seperti pendapat, ide, hasil-hasil yang telah kita capai, konsep diri) dengan membandingkan diri kita pada orang lain. Komunikasi antarpribadi merupakan suatu peluang untuk melakukan perbandingan sosial. Ketika melakukan perbandingan sosial, kita cenderung untuk melakukan dengan orang lain yang setara. Artinya, jarang kita membandingkan diri dengan orang lain yang jauh di atas ukuran kita. Misalnya, kita membandingkan keyakinan politik kita dengan orang yang memiliki keyakinan hampir sama, status sosial ekonomi kita dengan orang lain yang statusnya hampir sama, dan sebagainya. Jadi, perbandingan sosial bukanlah upaya untuk melakukan evaluasi diri secara objektif. Meskipun demikian ini adalah cara yang sehat untuk menjaga kestabilan konsep diri dan self esteem, karena jika kita membandingkan diri dengan ukuran yang tidak setara maka resikonya adalah merosotnya self esteem dan meningkatnya gangguan psikologis. Perlu diingat bahwa proses mengurangi ketidakpastian dan perbandingan sosial terbatas pada tahap ”pengenalan/mulai mengenal”, yaitu tahap awal dalam komunikasi antarpribadi. Interaksi selanjutnya akan semakin mengurangi ketidakpastian dan memperjelas bagaimana harus berinteraksi, dan biasanya juga membawa kepada penemuan kesamaan. Setelah berhubungan selama beberapa waktu, proses pengurangan ketidakpastian dan perbandingan sosial menjadi tidak terlalu penting lagi. Misalnya, jika kita telah memupuk persahabatan dengan seseorang, biasanya kita denagn orang tadi. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 27 A. PERSEPSI TERHADAP ORANG LAIN Proses mempersepsi orang lain mencakup persepsi terhadap karakteristik fisik dan perilaku komunikasi orang tersebut. Stave Duck (1977) mengemukakan bahwa perilaku orang akan membantu dalam tiga hal. Pertama, perilaku tersebut mungkin akan terasa menyenangkan bagi kita karena kita akan selalu merasa senang jika mendapat senyuman atau pujian misalnya. Kedua, perilaku tersebut memberikan informasi yang dapat kita gunakan untuk membentuk semacam kesan mengenai kondisi internal sesorang (kepribadian, sikap, keyakinan, nilai). Ketiga, perilaku seseorang dapat memberikan perkiraan mengenai mengenai kelanjutan hubungan di kemudian hari. Untuk mengartikan perilaku orang dalam menyimpukan kepribadian dan kondisi internalnya, adalah permainan tebak-tabakan, apakah kesimpulan kita benar atau salah. Pada kenyataannya, persepsi kita terhadap orang lain memang tidak bisa lebih dari tebakan/perkiraan. Hanya dengan informasi yang lebih banyak yang kita peroleh seiring dengan berlangsungnya komunikasi atau berlanjutnya hubungan maka kita dapat menebak dengan lebih baik/akurat Bila seseorang melakukan persepsi, sebenarnya yang mengendalikan penyimpulan terhadap apa yang dilakukannya adalah orang itu sendiri. Oleh karenanya, untuk memahami proses mempersepsi ini adalah menyadari apa yang terjadi dalam diri kita ketika perhatian kita tertuju kepada orang lain. Bahasan berikut akan meguraikan tiga proses kognitif yang terjadi dalam mempersiapkan orang lain, ketiganya adalah implicit personality theory, proses atribusi, dan response sets Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 28 Implicit personality theory mengasumsikan orang sebagai psikolog amatir, yang menggunakan perangkat psikologis untuk mempersepsi orang lain. Karena pengalaman interaksi di masa lalu, kita telah mengenal berbagai ciri-ciri psikologis/kepribadian yang berbeda dari berbagai orang yang berbeda. Maka, ketika kita berinteraksi dengan orang dan mengamati perilakunya, kita dapat mengurangi ketidakpastian mengenai diri orang tadi dengan mengevaluasi sesuai dengan ciri-ciri psikologis yang telah kita kenal. Dengan informasi dari perilakuorang tadi, kita dapat mengaplikasikan ciri-ciri kepribadian tadi kepadanya hingga sampai pada suatu persepsi mengenai siapakah dia. Menggunakan implicit personality berarti berusaha memahami individu tertentu dengan menempatkan ciri-ciri individu tersebut ke dalam suatu kerangka pemahaman. Ini merupakan kebalikan dari proses stereotyping. Ketika melakukan stereotype terhadap sesorang, kita mulai dengan suatu klasifikasi sosial secara umum dan menerapkannya pada orang tersebut tanpa tahu lebih jauh tentang dirinya sebagai individu yang spesifik. Menggunakan implicit personality theory, di mulai dengan individu dan mencoba mengidentifikasikannya ke dalam klasifikasi sosial berdasarkan apa yang kita ketahui tentang individu tersebut sebagai sosok yang spesifik/khas. Proses atribusi adalah proses intrapribadi yang menempatkan penyebab atas suatu peristiwa kepada seorang atau sesuatu. Proses persepsi ini menempatkan ”locus of control” kepada seseorang (dispositional) atau kepada konteks (situationa). Sebagai suatu bentuk proteksi, kita biasanya memandang diri kita sendiri dalam pengertian situasional. Yaitu kita cenderung menimpakan perilakukita yang tidak disukai kepada situasi, bukan kepada diri kita sendiri. Seperti misalnya ”Keterlambatan ini bukan kesalahan saya, karena mobil saya tidak bisa bergerak dalam kemacetan lalu lintas”. Sebaliknya, kita cenderung mempersepsikan orang lain dalam pengertian disposisional. Ketika Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 29 memperhatikan seseorang, kita cenderung menempatkannya pada proses intra pribadi, yaitu sesuatu yang terjadi di dalam orang tersebut. Misalnya, kita akan berkata bahwa ”Dia sedang bingung. Sudah dua kali kami berpapasan dan dia tidak mengenali atau menegurku”. Proses atribusi memiliki arti penting bagi komunikasi dalam beberapa hal. Pertama, proses ini membantu kita untuk menyusun penjelasan mengenai suatu kejadian/peristiwa dengan mengggunakan pola-pola seperti yang telah dicontohkan di atas. Kedua, proses ini secara relatif akurat menggambarkan hubungan antara kondisi psikologis dengan perilaku. Meskipun kesesuaian antara kondisi psikologis dan perilaku masih diperdebatkan (apakah perilaku benar-benar merefleksikan kondisi psikologisnya), namun keduanya berfungsi secara bersamaan dalam suatu siklus yang saling mempengaruhi. Dalam hal ini kita biasanya merasa bahwa kondisi psikologis tidak mengendalikan perilaku kita (perilaku kita tidak secara otomatis merefleksikan perasaan kita). Namun kepada orang lain kita cenderung menganggap bahwa perilakunya mencerminkan kondisi psikologisnya, dan ini menjadi acuan bagi kita untuk berperilaku terhadap orang lain tersebut. Ketiga, proses atribusi ini akan mempengaruhi hasil dari hubungan antarpribadi (misalnya ingin meneruskan/meningkatkan hubungan), dan meningkatnya hubungan juga akan mempengaruhi proses atribusi. Pada tahap awal hubungan, masing-masing pihak belum merasa dekat (baru kenal, atau baru sebagai teman biasa), kita cenderung menempatkan hal lain sebagai penyebab suksesnya hubungan kita, yaitu pada hubungan itu sendiri (hubungan yang nyaris sempurna, ada saling pengertan di antara kami, hubungan baik ini telah memberi motiasi dan sebagainya). Dengan demikian, tataran intrapribadi (atribusi) dan antarpribadi (hubungan) dari komunikasi saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 30 Response sets merupakan predisposisi tertentu yang dilakukan untuk menanggapi orang lain. Proses ini mengandung lompatan penyimpulan dari perilaku orang lain kepada perilaku kita ketika menanggapinya. Menyadari bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan cukup informasi untuk mengenali orang lain secara utuh maka kita menggunakan response sets sebagai jalan pintas melakukan penyimpulan. Oleh karenanya, dalam proses ini kesalahan dalam mempersepsikan orang dapat mungkin terjadi. Response sets yang sangat umum digunakan adalah ‟hallo effect‟, dan ‟leniency effect‟. Kita merasakan hallo effect ketika kita terlalu menggenerelisasi perilaku orang dalam suatu situasi kepada situasi lain yang sama sekali belum kita ketahui. Misalnya, kita mengetahui perilaku teman kerja kita yang kurang bertanggung jawab, seperti sering terlambat masuk, lambat dalam mengerjakan tugas, dan sebagainya. Dari pengamatan ini, kita lalu menyimpulkan bahwa dia akan berperilaku sama dalam berbagai bidang kehidupannya yang lain. Kita juga menanggap dia kurang bertanggung jawab pada keluarganya, sering keluar rumah, curang pada istrinya, dan sebagainya. Demikian pula dengan orang yang kita kenal ramah, lalu kita menganggap dia juga akan ramah kepada orang-orang lainnya. Persoalan yang muncul dari ‟hallo effect‟ ini adalah bahwa kita mengabaikan situasi yang dapat mempengaruhi tindakan orang. Kita melupakan kenyataan bahwa yang akan berperilaku dan menampilkan peran yang berbeda dalam situasi yang berbeda dan kepada orang yang berbeda. Leniency effect adalah response sets lain di mana kita membiarkan hubungan kita dengan seseorang mempengaruhi persepsi kita terhadap orang tersebut. Misalnya, kita cenderung untuk mengidealkan teman kita dan sangat toleran dalam menilainya. Kita terlalu berlebihan dalam menilai kebaikan-kebaikannya dan sangat mentolerir perilakunya yang secara umum dianggap kurang baik. Sehingga dalam persepsi kita dia hanya memiliki sedikit kekurangan Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 31 dibandingg begitu banyak kelebihannya. Oleh karenanya, mungkin kita tidak habis mengerti kenapa banyak orang orang tidak menyukai teman kita yang nyaris sempurna ini. Hal yang sebaliknya terjadi juga kepada orang yang tidak kita sukai. Karena kita cenderung menilai kelewat rendah perilaku positifnya, dan kelewat tinggi pada perilaku negatifnya. Persepsi terhadap orang lain, seperti halnya persepsi terhadap diri sendiri, terbuka bagi berbagai kesalahan. Oleh karenanya, persepsi terhadap orang lain (akurat maupun tidak akurat) dapat menguntungkan atau merugikan dalam proses hubungan atau komunikasi antarpribadi. Hal yang perlu dicamkan adalah bahwa kita harus selalu terbuka bagi informasi tambahan dan menggunakannya untuk memperbaiki persepsi kita terhadap orang lain. B. PERILAKU TERHADAP ORANG LAIN Untuk dapat berkomunikasi secara efektif, kita berharap untuk dapat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap diri kita. Kita menginginkan orang lain memiliki penilaian yang baik mengenai diri kita, paling tidak, memiliki kesan bahwa kita konsisten dengan tujuan kita berkomunikasi kepadanya. Kita dapat berharap agar orang lain memandang kita sebagai teman, pimpinan, pasangan, dan berbagai peran sosial lainnya. Meskipun kita tidak dapat memkas orang dalam mempersepikan diri kita, namun kita dapat melakukan sesuatu untuk mengarahkan persepsi mereka. Kita dapat berperilaku dalam cara-cara tertentu yang dapat mendorong ke arak kesan tertentu mengenai diri kita. Jadi, kewajiban kita ketika berkomunikasi adalah memberikan informasi kepada orang lain, melalui perilaku kita agar dapat digunakan untuk mempersepsikan diri kita sesuai dengan yang kita harapkan. Tindakan ini sesungguhnya sangat alamiah/wajar, artinya bukan selalu merupakan upaya untuk berpura-pura atau menipu orang lain. Karena meskipun Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 32 beberapa perilaku kita mungkin pura-pura atau palsu, kita mengetahui pula bahwa kita memiliki berbagai peran sosial yang berbeda bagi orang dan situasi yang berbeda, yang akan mempengaruhi perilaku kita ketika berkomunikasi. Beberapa konsep yang dapat menjelaskan hal ini antara lain impression management, rhetorical sensitivity, attributional responses, dan konfirmasi antar pribadi. Erving Goffman (1963) seorang sosiolog mengemukakan bagaimana setiap orang dalam kehidupan sehari-harinya terlibat dalam ”memerankan” dirinya kepada orang lain. Tindakan ini bukanlah upaya kepura-puraan/manipulatif, melainkan bagian yang wajar dalam interaksi sosial yang disebut impression management. Lebih lanjut dikemukakan bahwa setiap kali kita berperilaku terhadap orang lain, tidak ada pilihan lain, kecuali mengarahkan kesan orang tersebut terhadap kita. Kita tidak memiliki pilihan dalam arti, kita tidak bisa tidak berperilaku. Persoalannya adalah apakah kita sadar akan upaya kita mengarahkan kesan orang lain, bukan apakah kita melakukannya atau tidak Impression management memandang komunikasi antarpribadi sebagai sebuah drama atau sandiwara. Sebagai partisipan dalam komunikasi, kita bukan hanya sebagai aktor, tetapi sekaligus penulisan skenario yang menulis naskah ”drama” kehidupan nyata ketika kita terlibat dalam komunikasi antarpribadi. Ketika kita mengarahkan kesan orang lain, kita menghadirkan diri kita dalam dua bentuk perilaku, yaitu ”depan” dan ”belakang”. ”Depan” mengacu pada bagian dari diri kita yang dapat diamati/tampak oleh orang lain, bagian ”depan” ini menunjukkan bagian dari diri kita yang berada ”diatas panggung”. ”belakang” mengacu pada perilaku ‟dibalik panggung” kita yang kita lakukan ketika tidak ada orang lain, atau kita tidak menyadari adanya orang lain yang hadir disekitar kita. Perlu dipahami bahwa persoalan ”di atas panggung/depan” dan ”di balik panggung/belakang” ini bukanlah mengacu pada perilakupura-pura atau Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 33 perilakusebenarnya. Keduanya adalah wajar, hanya saja yang satu merupakan situasi sosial, sedangkan lainnya merupakan situasi pribadi. Misalnya kita senang duduk sambil mengangkat kaki, ini biasanya hanya bisa kita lakukan bila sedang sendiri, dengan hadirnya orang lain tentunya kita akan duduk secara lebih baik untuk menanamkan kesan yang baik pula terhadap orang tersebut. Uraian di atas menunjukkan bahwa sebenarnya impression management merupakan perilaku yang lebih diarahkan oleh orang lain daripada diri kita sendiri. Ketika kita menyadari perilaku kita, dan kita membiarkan orang lain untuk mengarahkannya maka kita menilai kesesuaian perilaku kita sebagai respons terhadap perilaku orang lain. Dalam impression management, sesungguhnya fokus kita bukan pada memanipulasi orang lain tetapi lebih pada bagaimana berperilaku rsponsif terhadap perilaku orang lain. Jadi, dengan menyadari bahwa setiap perilaku kita adalah respons terhadap perilaku orang lain maka kita telah berinteraksi secara wajar dan mampu mengendalikan kesan orang terhadap diri kita. Rhetorical sensitivity adalah konsep yang di kembangkan oleh Rod Hart dan Don Burks (1972) yang mengacu pada kualitas persepsi yang di dasarkan atas kemungkinan-kemungkinan (contingencies). Menjadi rhetorically sensitive berarti peka terhadap orang lain. Tindakan ini mencakup pemilihan perilaku komunikasi yang sesuai bagi kombinasi antara diri kita, orang lain, dan situasi tertentu selama kegiatan komunikasi antarpribadi. Dengan kata lain, rhetorical sensitivity berarti melakukan adaptasi/penyesuaian terhadap kemungkinan-kemungkinan. Terdapat lima karakteristik yang menandai rhetorical sensitivity. Pertama, orang yang rhetorcally sensitive dapat menerima kompleksitas pribadi, yaitu dapat memahami bahwa setiap individu merupakan kesatuan dari banyak diri (multiple selves). Ingat pembahasan kita sebelumnya bahwa individu memiliki Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 34 banyak konsep diri yang berkaitan dengan berbagai peran sosial yang dimainkan (teman, guru, ayah, suami dan sebagainya). Kedua, orang yang rhetorcally sensitive menghindari sifat kaku/keras dalam berkomunikasi dengan orang lain. Ketiga, orang semacam ini akan mengimbangkan kepentingan pribadi dengan kepentingan orang lain, suatu kepekaan yang disebut kesadaran interaksi (interaction consciousness). Keempat, orang yang rhetorcally sensitive sadar kapan harus mengkomunikasikan atau tidak mengkomunikasikan sesuatu dalam situasi yang berbeda. Kelima, orang semacam ini menyadari bahwa suatu pesan dapat dikemukakan melalui berbagai cara, dan dia dapat menyesuaikan cara penyampaian pesan dalam situasi tertentu. Attributional responsses merupakan cara lain penggunaan proses attribusi melalui prilaku kita sebagai reaksi atas tindakan orang lain. Dalam hal ini kita menanggapi dengan suatu cara yang secara jelas menunjukkan suatu makna tertentu terhadap prilaku orang lain. Setiap tindak komunikasi dalam suatu percakapan dalam menyertakan suatu ekspresi atau pernyataan atributif melalui penilaian terhadap makna perilaku orang lain. Seseorang dalam menanggapi ungkapan attribut orang lain yang di tujukan padanya memiliki beberapa pilihan. Misalnya, menanggapi suatu ungkapan atributif seperti ”Kamu sebenarnya tidak ingin pergi, kan?” maka kita dapat menyangkalnya (”Bukan begitu maksudku”), atau menyetujuinya (”Karena situasinya sunggu sangat lelah”), atau mengalihkan lokus atribusi (”karena situasinya sungguh tidak memungkinkan saya untuk pergi”) . dengan kata lain, atribusi dapat di terapkan sebagai strategi percakapan seperti halnya para proses persepsi, dan ketika kita menggunakannya sebagai strategi, atribusi akan mempengaruhi keseluruhan alur percakapan. Konfirmasi antarpribadi merupakan tanggapan atau reaksi atas perilaku orang lain. Konsep ini masih berkaitan dengan impression management. Ketika kita berusaha untuk mengarahkan kesan maka pada saat yang bersamaan orang Teori Kimunikasi Antarpribadi : dimensi-dimensi pribadi dan relasional Bacaan kuliah Teori Komunikasi Page 35 lain pun melakukan hal yang sama kepada kita. Dalam menanggapinya kita memiliki tiga alternatif, yaitu konfirmasi, menolak, atau diskonfirmasi. Jika kita melakukan konfirmasi berarti kita menerima identifikasi diri orang lain seperti yang ditampilkannya di hadapan kita. Misalnya kita berkata, ”Usulan kamu sangat tepat, suatu gagasan yang bagus”. Ketika menolak, kita mengakui keberadaan orang tersebut namun menyangkal definisi diri yang dia tampilkan, misalnya ”saya tidak percaya dengan apa yang kamu ceritakan”. Sementara itu diskonfirmasi berarti lebih jauh dari sekedar penolakan. Ketika kita mendiskonfirmasi penampilan orang lain, kita sepenuhnya mengabaikan pesan orang lain dan menganggapnya tidak pernah di ucapkan. Misalnya teman kita berkata, ”Sekarang saya ingin mandi air hangat. Badan saya lelah sekali setelah seharian membetulkan atap rumah”, dan kita menjawab ”Kasihan. Kamu mau apa sekarang?”. ketiga alternatif tersebut dapat membantu kita untuk memahami komunikasi antar pribadi. Tanggapan yang mengkonfirmasi menandai sehatnya hubungan sosial dan efektidnya komunikasi antarpribadi.

BAB 1 Pemahaman konseptual

Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Page 1 A.PENGERTIAN KOMUNIKASI, KOMPONEN DAN TUJUAN KOMUNIKASI 1. Pengertian Komunikasi Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, jumlahnya sebanyak orang yang mendifinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan (noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Gambar berikut menggambarkan apa yang dapat kita namakan model universal komunikasi. Ini mengandung elemen-elemen yang ada dalam setiap tindak komunikasi, terlepas dari apakah itu bersifat intrapribadi, antarpribadi, kelompok kecil, pidato terbuka, atau komunikasi masa. BAB I PEMAHAMAN KONSEPTUAL : PENDEKATAN DAN PENGERTIAN, KERANGKA ANALISIS DAN TEORI Gangguan Pesan Umpan balik Sumber/ enkoder Penerima/ dekoder Sumber/ enkoder Penerima/ dekoder Umpan balik Pesan Saluran/ media Saluran/ media Konteks (Lingkungan Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 2 2. Komponen Komunikasi a. Lingkungan komunikasi Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi: 1. Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud. 2. Sosial-psikoilogis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau, 3. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung. Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis. b. Sumber-Penerima Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 3 memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya. Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima. c. Enkoding-Dekoding Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding. Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding. Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding). d. Kompetensi Komunikasi Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 4 berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi. Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri. e. Pesan Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi. f. Saluran Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 5 kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil). g. Umpan Balik Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis. Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik. h. Gangguan Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima. Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis (pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna). Tabel dibawah menyajikan ketiga macam gangguan ini secara lebih rinci. Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 6 Macam Definsi Contoh Fisik Interferensi dengan transmisi fisik isyarat atau pesan lain Desingan mobil yang lewat, dengungan komputer, kacamata Psikollogis Interferensi kognitif atau mental Prasangka dan bias pada sumber-penerima, pikiran yang sempit Semantik Pembicaraan dan pendengar memberi arti yang berlainan Orang berbicara dengan bahasa yang berbeda, menggunakan jargon atau istilah yang terlalu rumit yang tidak dipahami pendengar Gangguan dalam komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung gangguan, dan walaupun kita tidak dapat meniadakannya samasekali, kita dapat mengurangi gangguan dan dampaknya. Menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan keterampilan mendengarkan dan menerima serta mengirimkan umpan balik adalah beberapa cara untuk menanggulangi gangguan. i. Efek Komunikasi Komunikasi selalu mempunyai efek atau dampak atas satu atau lebih orang yang terlibat dalam tindak komunikasi. Pada setiap tindak komunikasi selalu ada konsekuensi. Sebagai contoh, anda mungkin memperoleh pengetahuan atau belajar bagaimana menganalisis, melakukan sintesis, atau mengevaluasi sesuatu; ini adalah efek atau dampak intelektual atau kognitif. Kedua, anda mungkin memperoleh sikap baru atau mengubah sikap, keyakinan, emosi, dan perasaan anda; ini adalah dampak afektif. Ketiga, anda mungkin memperoleh cara-cara atau gerakan baru seperti cara melemparkan bola atau melukis, selain juga perilaku verbal dan noverbal yang Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 7 patut; ini adalah dampak atau efek psikomotorik. j. Etik dan Kebebasan Memilih Karena komunikasi mempunyai dampak, maka ada masalah etik di sini. Karena komunikasi mengandung konsekuensi, maka ada aspek benar-salah dalam setiap tindak komunikasi. Tidak seperti prinsip-prinsip komunikasi yang efektif, prinsip-prinsip komunikasi yang etis sulit dirumuskan. Seringkali kita dapat mengamati dampak komunikasi, dan berdasarkan pengamatan ini, merumuskan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif. Tetapi, kita tidak dapat mengamati kebenaran atau ketidakbenaran suatu tindak komunikasi. Dimensi etik dari komunikasi makin rumit karena etik begitu terkaitnya dengan falsafah hidup pribadi seseorang sehingga sukar untuk menyarankan pedoman yang berlaku bagi setiap orang. Meskipun sukar, pertimbangan etik tetaplah merupakan bagian integral dalam setiap tindak komunikasi. Keputusan yang kita ambil dalam hal komunikasi haruslah dipedomani oleh apa yang kita anggap benar di samping juga oleh apa yang kita anggap efektif. Apakah komunikasi itu etis atau tidak etis, landasannya adalah gagasan kebebasan memilih serta asumsi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Komunikasi dikatakan etis bila menjamin kebebasan memilih seseorang dengan memberikan kepada orang tersebut dasar pemilihan yang akurat. Komunikasi dikatakan tidak etis bila mengganggu kebebasan memilih seseorang dengan menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam menentukan pilihan. Oleh karenanya, komunikasi yang tidak etis adalah komunikasi yang memaksa seseorang (1) mengambil pilihan yang secara normal tidak akan dipilihnya atau (2) tidak mengambil pilihan yang secara normal akan dipilihnya. Sebagai contoh, seorang pejabat rekruting perusahaan mungkin saja membesar-besarkan manfaat bekerja di Perusahaan X dan dengan demikian mendorong anda untuk Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 8 menentukan pilihan yang secara normal tidak akan anda ambil (jika saja anda mengetahui fakta-fakta sebenarnya). Dalam etik yang didasarkan atas kebebasan memilih ini, ada beberapa persyaratan. Kita mengasumsikan bahwa orang-orang ini sudah cukup umur dan berada dalam kondisi mental yang memungkinkan mereka melaksanakan pilihan secara bebas. Selanjutnya, kita mengasumsikan bahwa kebebasan memilih dalam situasi mereka tidak akan menghalangi kebebasan memilih orang lain. Sebagai contoh, anak-anak berusia 5 atau 6 tahun tidak akan siap untuk menentukan pilihan sendiri (memilih menu mereka sendiri, memilih waktu untuk tidur, memilih jenis obat), sehingga harus ada orang lain yang melakukannya untuk mereka. Begitu juga, seseorang yang menderita keterbelakangan mental membutuhkan orang lain untuk mengambilkan keputusan tertentu bagi mereka. Di samping itu, situasi lingkungan kehidupan seseorang dapat membatasi kebebasan memilih ini. Sebagai contoh, anggota tentara seringkali harus melepaskan kebebasan memilih dan makan nasi bungkus, bukan roti keju, mengenakan seragam militer, bukan jins, lari pagi, bukan tidur. Dengan menjadi tentara, seseorang setidak-tidaknya harus melepaskan sebagian hak mereka untuk menentukan pilihan sendiri. Akhirnya, kebebasan memilih yang kita miliki tidak boleh menghalangi orang lain untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Kita tidak bisa membiarkan seorang pencuri memiliki kebebasan untuk mencuri, karena dengan memberikan kebebasan ini kita menghalangi korban pencurian untuk menikmati kebebasan memilih mereka—hak untuk memiliki barang dan hak untuk merasa aman dalam rumah mereka. 4. Tujuan Komunikasi Ada empat tujuan atau motif komunikasi yang perlu dikemukakan di sini. Motif atau tujuan ini tidak perlu dikemukakan secara sadar, juga tidak perlu mereka yang terlibat menyepakati tujuan komunikasi mereka. Tujuan dapat disadari ataupun tidak, dapat dikenali ataupun tidak. Selanjutnya, meskipun. teknologi komunikasi Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 9 berubah dengan cepat dan drastis (kita mengirimkan surat elektronika, bekerja dengan komputer, misalnya) tujuan komunikasi pada dasarnya tetap sama, bagaimanapun hebatnya revolusi elektronika dan revolusi-revolusi lain yang akan datang. (Arnold dan Bowers, 1984; Naisbit.1984). a. Menemukan Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri (personal discovery) Bila anda berkomunikasi dengan orang lain, anda belajar mengenai diri sendiri selain juga tentang orang lain. Kenyataannya, persepsi-diri anda sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah anda pelajari tentang diri sendiri dari orang lain selama komunikasi, khususnya dalam perjumpaan-perjumpaan antarpribadi. Dengan berbicara tentang diri kita sendiri dengan orang lain kita memperoleh umpan balik yang berharga mengenai perasaan, pemikiran, dan perilaku kita. Dari perjumpaan seperti ini kita menyadari, misalnya bahwa perasaan kita ternyata tidak jauh berbeda dengan perasaan orang lain. Pengukuhan positif ini membantu kita merasa "normal." Cara lain di mana kita melakukan penemuan diri adalah melalui proses perbandingan sosial, melalui perbandingan kemampuan, prestasi, sikap, pendapat, nilai, dan kegagalan kita dengan orang lain. Artinya, kita mengevaluasi diri sendiri sebagian besar dengan cara membanding diri kita dengan orang lain. Dengan berkomunikasi kita dapat memahami secara lebih baik diri kita sendiri dan diri orang lain yang kita ajak bicara. Tetapi, komunikasi juga memungkinkan kita untuk menemukan dunia luar—dunia yang dipenuhi objek, peristiwa, dan manusia lain. Sekarang ini, kita mengandalkan beragam media komunikasi untuk mendapatkan informasi tentang hiburan, olahraga, perang, pembangunan ekonomi, masalah kesehatan dan gizi, serta produk-produk baru yang dapat dibeli. Banyak yang kita peroleh dari media ini berinteraksi dengan yang kita peroleh dari interaksi antarpribadi kita. Kita mendapatkan banyak Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 10 informasi dari media, mendiskusikannya dengan orang lain, dan akhirnya mempelajari atau menyerap bahan-bahan tadi sebagai hasil interaksi kedua sumber ini. b. Untuk berhubungan Salah satu motivasi kita yang paling kuat adalah berhubungan dengan orang lain (membina dan memelihara hubungan dengan orang lain). Kita ingin merasa dicintai dan disukai, dan kemudian kita juga ingin mencintai dan menyukai orang lain. Kita menghabiskan banyak waktu dan energi komunikasi kita untuk membina dan memelihara hubungan sosial. Anda berkomunikasi dengan teman dekat di sekolah, di kantor, dan barangkali melalui telepon. Anda berbincang-bincang dengan orangtua, anak-anak, dan saudara anda. Anda berinteraksi dengan mitra kerja. c. Untuk meyakinkan Media masa ada sebagian besar untuk meyakinkan kita agar mengubah sikap dan perilaku kita. Media dapat hidup karena adanya dana dari iklan, yang diarahkan untuk mendorong kita membeli berbagai produk. Sekarang ini mungkin anda lebih banyak bertindak sebagai konsumen ketimbang sebagai penyampai pesan melalui media, tetapi tidak lama lagi barangkali anda-lah yang akan merancang pesan-pesan itu—bekerja di suatu surat kabar, menjadi editor sebuah majalah, atau bekerja pada biro iklan, pemancar televisi, atau berbagai bidang lain yang berkaitan dengan komunikasi. Tetapi, kita juga menghabiskan banyak waktu untuk melakukan persuasi antarpribadi, baik sebagai sumber maupun sebagai penerima. Dalam perjumpaan antarpribadi sehari-hari kita berusaha mengubah sikap dan perilaku orang lain. Kita berusaha mengajak mereka melakukan sesuatu, mencoba cara diit yan baru, membeli produk tertentu, menonton film, membaca buku, rnengambil mata kuliah tertentu, meyakini bahwa sesuatu itu salah atau benar, menyetujui atau mengecam gagasan tertentu, dan sebagainya. Daftar ini bisa sangat panjang. Memang, Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 11 sedikit saja dari komunikasi antarpribadi kita yang tidak berupaya mengubah sikap atau perilaku. d. Untuk bermain Kita menggunakan banyak perilaku komunikasi kita untuk bermain dan menghibur diri. Kita mendengarkan pelawak, pembicaraan, musik, dan film sebagian besar untuk hiburan. Demikian pula banyak dari perilaku komunikasi kita dirancang untuk menghibur orang lain (menceritakan lelucon mengutarakan sesuatu yang baru, dan mengaitkan cerita-cerita yang menarik). Adakalanya hiburan ini merupakan tujuan akhir, tetapi adakalanya ini merupakan cara untuk mengikat perhatian orang Iain sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain. Tentu saja, tujuan komunikasi bukan hanya ini; masih banyak tujuan komunikasi yang lain. Tetapi keempat tujuan yang disebutkan di atas tampaknya merupakan tujuan-tujuan yang utama. Selanjutnya tidak ada tindak komunikasi yang didorong hanya oleh satu faktor; sebab tunggal tampaknya tidak ada dunia ini. Oleh karenanya, setiap komunikasi barangkali didorong oleh kombinasi beberapa tujuan bukan hanya satu tujuan. B. PENDEKATAN / ALIRAN KEILMUAN Menurut Littlejohan (1996) dalam bukunya ”Theories of Human Communcation ”, secara umum dunia masyarakat ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam tiga (3) kelompok atau aliran pendekatan. Ketiga kelompok tersebut adalah pendekatan scientific (ilmiah-empiris), pendekatan humanitic (humaniora interpretif), serta pendekatan social science (ilmu-ilmu sosial ) 1) Pendekatan Scientific ( ilmiah empiris ) Pendekatan scinetific umumnya berlaku di kalangan para ahli ilmu-ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kedokteran, matematika dan lain-lain. Menurut pandangan ini ilmu diasosiasikan dengan objektivitas. Objektivitas yang dimaksud adalah objektivitas yang Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 12 menekankan prinsip standarisasi observasi dan konsistensi. Landasan filosofisnya dalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan stuktur. Secara individual para peneliti boleh jadi berbeda-beda pandangannya satu sama lain tentang bagaimana rupa atau macam dari bentuk dan stuktur tersebut. Namun apabila para peneliti melakukan penelitian terhadap suatu fenomena dengan menggunakan metode yang sama maka akan dihasilkan temuan yang sama. Inilah hakekat objektivitas dalam kotneks standarisasi observasi dan konsistensi Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini adalah adanya pemisahan yang tegas antara ”known” objek atau hal yang ingin diteliti) dan ”knower” (subyek pelaku atau pengamat). Salah satu metode penelitian yang lazim dilakukan adalah metode ”eksperimen”. Melalui metode ini, si peneliti secara sengaja melakukan suatu percobaan terhadap objek yang ditelitinya. Tujuan penelitian lazimnya diarahkan pada upaya mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab aibat di antara dua variabel atau lebih, dengan mengontrol pengaruh dari variabel lainnya. Prosedur yang umum dilakukan adalah dengan cara memberikan atau mengadakan suatu perlakuan khusus kepada objek yang diteliti serta meneliti dampak atau pengaruhnya. Sebagai contoh: lima ekor tikus diberi suntikan X, sementara tikus lainnya (yang mempunyai ciri yang sama) tidak, setelah kurun waktu tertentu (misalnya setelah 1 bulan, 2 bulan atau 3 bulan, dan seterusnya ) dibandingkan ada tidaknya perbedaan diantara kedua kelompok lima ekor tikus tersebut. Kalau ternyata ada perbedaan, dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan tersebut terjadi karena pengaruh dari suntikan X tersebut. 2) Pendekatan humanistic ( humaniora-interpretatif) Apabila aliran scientific mengutmakan prinsip objektivitas, maka kelompok pendekatan humanistic mengasosiasikan illmu dengan prinsip subjectivitas.perbedaan-perbedaan pokok antara pendekatan humanistic dan scientifik dapat kita lihat pada bagan berikut Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 13 no Pandangan tentang Scientific Humanistic 1 manusia Manusia dianggap pasif. Tidak ubahnya dengan benda-benda yang ada di alam ini Manusia aktif dan penuh dengan kreativitas 2 Tujuan ilmu Untuk menstandarisasikan observasi Mengutamakan kreativitas individual 3 Ilmu pengetahuan Sesuatu yang berada di luar diri pengamat/peneliti Sesuatu yang berada didalam diri (pemikiran, interpretasi) pengamat / peneliti 4 Fokus perhatian Dunia hasil penemuan Dunia para penemunya 5 Hubungan known dan knower Pemisahan yang tegas Cenderung tidak memisahkan 6 Upaya perolehan Konsensus Mengutamakan interpretasi-interpretasi alternatif Dalam konteks ilmu-ilmu sosial, salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan adalah ”partisipasi observasi”, melalui metode ini, si peneliti dalam mengamati sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang yang ditelitinya. Misalnya bergaul, tinggal di rumah ornag-orang tersebut, seerta ikut serta dalam aktivitas sehari-hari mereka dalam kurun waktu tertentu (1 minggu, 1 bulan dan seterusnya). Interpretasi atas sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara atau tanya Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 14 jawab dengan orang-orang yang ditelitinya, tetapi juga atas dasar pengamatan langsung dan pengalaman berinteraksi dengan mereka Pandangan klasik dari aliran humanistic adalah bahwa cara pandang seseorang tentang sesuatu hal akan menentukan penggambaran dan uraiannya tentang hal tersebut. Karena sifatnya yang subyektif dan interpretatif,maka pendekatan aliran humanistic ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah dan pengalaman pribadi. 3) Pendekatan Social Science (ilmu-ilmu sosial ) Pendekatan yang diterapkan para pendukukng kelompok aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan-pendekatan scientific dan humanistic. Dalam hal, pendekatan ilmu sosial merupakan perpanjangan dari pendekatan ilmu alam, karena beberapa metode yang diterapkan banyak diantaranya yang diambil dari ilmu alam, karena metode yang diterapkan banyak diantaranya ygn diambil dari ilmu alam. Namun dalam perkembangan selanjutnya metode-metode pendekatan aliran humanistik juga diterapkan dalam konteks ilmu-ilmu sosial , salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan yang diambil dari pendekatan scientiic adalah mempergunakan statistik sebagai alat analisis data. Sedangkan yang diambil dalam pendekatan humnistik adalah partisipasi obeservasi. Melalui metode ini, si peneliti dalam mengambil sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang yang ditelitinya. Misalnya bergaul, tinggal di rumah orang tersebut, serta ikut dalam aktivitas sehari-hari orang yang ditetlitinya, tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara dengan orang-orang yang ditelitinya, tetapi juga atas dasar pengamatan langsung dan pengalaman interaksi dengan mereka. Dipergunakannya dua pendekatan ”scientific ” dan :humanistic” yang masing-masing berbeda prinsip ini, adalah karena yang menjadi onjek studi dalam ilmu pengetahuan sosial adalah Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 15 kehidupan manusia. Untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan pengamatan yang cermat dan akurat. Untuk ini jelas bahwa pengamatan harus dilakukan seobyektif mungkin agar hasilnya dapat berlaku umum umum tidak bersifat khusus. Dengan kata lain, para ahli ilmu sosial sepeti halnya ahli ilmu alam harus mampu mencapai kesepakatan atau konsensus mengenai hasil temua ”relatif” dalam arti dibatasi oleh faktor-faktor waktu, situasi dan kondisi tertentu. Disamping faktor objektivitas, ilmu pengetahuan sosial juga mengutamakan faktor penejelasan dan interpretasi. Hal ini disebabkan oleh manusia yang jadi objek pengamatan adalah mahluk yang aktif, memiliki daya pikir, berpengetahuan, memegang prinsip dan nilai-nilai tertentu, serta sikap tindakannya dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itulah maka interpretasi subyektif terhadap kondisi-kondisi spesifik tingkah laku manusia yang menjadi obyek pengamatan juga diperlukan guna menangkap makna dari tingkah laku tersebut Interpretasi dan penjelasan juga diperlukan karena meskipun berdasarkan ciri-ciri biologis, sosial, atau ciri-ciri lainnya manusia dapat dibagi dalam beberapa katagori-katagori tertentu, tidak berarti bahwa masing-masing baik secara individual maupun kelompok akan mempunyai persamaan dalam hal sikap dan perilakunya. Misalnya 3 orang ( si A, si B dan si C ) semuanya memiliki beberapa karakteristik individual yang sama yakni semuanya wanita, semuanya bekerja sebagai guru SD dan semuanya berpendidikan tamtan sarjana. Namun demikian orang tersebut boleh jadi masing-masing akan mempunyai perbedaan satu sama lainnya mengenai sikap dan perilakunya tentang sesuatu hal. Bidang kajian imu komunikasi sebagai salah satu ilmu pengetahuan sosial, pada dasarnya difokuskan pada pemahaman tentang bagaimana tingkah laku manusa dalam menciptakan, mempertukarkan dan menginterpretasikan pesan-pesan untuk tujuan tertentu. Namun dengan adanya dua pendekatan yang diterapkan, muncul dua kelompok masyarakat ilmuwan komunikasi yang berbeda baik dalam spesifikasi objek permasalahan yang diamatinya, maupun dalam hal aspek metodologis serta teori-teori dan model-model yang dihasilkannya. Kalangan ilmuwan Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 16 komunikasi yang mendalami bidang studi speech commnication (komunikasi ujaran) umumnya banyak menerapkan metode aliran pendekatan humanistic. Teori-teori yang dihasilkannya pun lazimnya disebut teori retorika. Sementara para ahli ilmu komukasi yang meneliti bidang – bidang stui lainnya seperti ilmu komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa dan lain-lain, umumnya banyak menerapkan metode pendekatan scientifik. Teori-teori yang dihasilkannya biasanya disebut teori komunikasi (communication theory), namun demikian, pengelompokan semacam ini sekarang tidak jelas lagi. Karena dalam prakteknya, kalangan ilmuwan yang mendalami bidang kajian komunikasi ujaran sering pula menerapkan pendekatan scientific, sementara itu pendekatan-pendekatan humanistic juga banyak diterapkan dalam penelitian tentang masalah-masalah komunikasi antarpribadi, komuniikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa dan lain-lain C. PENGERTIAN TENTANG ILMU DAN TEORI DALAM KOMUNIKASI Terdapat banyak definisi tentang ilmu yang dirumuskan oleh para ahli. Masing-masing mempunyai penekanan arti yang berbeda satu dengan lainnya. Beberapa definisi tentang ilmu antar lain : ” ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematik, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum ” ( Nasir, 1989 ) ” konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal: adanya rasionalisme, dapat digeneralisasi, dan dapat disistematisasi ( Shaphere, 1974 ) ” pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subyektif, dan konsistenti dengan realitas sosial ( Alfred Schutzm 1962 ) ” Ilmu tidak hanya merupakan suatu pengetahuan yang terhimpun secara sistematik, tetapi juga merupakan metodelogi” ( Tan, 1964 ) Dari keempat definisi di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal, baik yang menyangkut alat (natural) atau sosial ( kehidupan masyarakat), yang Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 17 diperoleh manusia melalui proses berpikir. Pengertian ilmu dalam dunia ilmiah menuntut tiga ciri, pertama, ilmu harus merupakan suatu pengetahuan yang didasarkan pada logika, kedua, ilmu harus terorganisasi secara sistematik. Ketiga ilmu harus berlaku umum. 1) Pengertian Ilmu Komunikasi Pengertian mengenai ilmu komunikasi pada dasarnya mempunyai karakteristik yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Hanya saja objek perhatiannya difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi antar manusia. Salah satu definisi yang cukup jelas mengenai ilmu komunikasi diberikan oleh Berger dan Chaffe dalam bukunya handbook of Communication Science 1987. Menurutnya, Ilmu komunikasi adalah ”suatu pengamatan terhadap produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang”. Pengertian ilmu komunikasi yang dijelaskan oleh ”Beerger dan Chaffe memberikan 3 (tiga) pokok pikiran, pertama objek pengamatan yang jadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia. Kedua, ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris dalam arti pokok-pokok pokiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori) harus yang berlaku umum. Ketiga, ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan, fenomena sosial yang berkatian dengan produks, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang. Ilmu komunikasi pada dasarnya adalah pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui penelitian tentang sistem, proses dan pengaruhnya yang dilakukan secara rasional dan sistematik, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan. 2) Pengertian Teori dalam Komunikasi Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 18 Secara umum istilah teori dalam ilmu sosial mengandung beberapa pengertian sebagai berikut : Teori adalah abstraksi dari realitas Teori terdiri dari sekumpulan prinsip-prinsip dan definisi-definisi yang secara konseptual mengorganisasikan aspek-aspek dunia empiris secara sistematis Teori terdiri dari asumsi-asumsi, proposisi-proposisi, dan aksioma-aksioma dasar yang berkaitan Teori terdiri dari teorema-teorema yakni generalisasi-generalisasi yang diterima/terbukti secara empiris Pada dasarnya teori merupakan ”konseptualisasi” atau penjelasan logis dan empiris tentang suatu fenomena. Teori memiliki dua ciri umum, pertama semua teori adalah ”abstraksi” tentang suatu hal. Dengan demikian teori sifatnya terbatas. Teori teentang radio kemungkinan besar tidak dapat dipergunakan untuk menjelaskan hal-hal yang menyangkut televisi. Kedua, semua reori adalah konstruksi ciptaan individual manusia. Oleh sebab itu sifatnya relatif, dalam arti tergantung pada cara pandang si pencipta teori, sifat dan aspek hal yang diamati, seerta kondisi-kondisi lain yang mengikat seperti waktu, tempat dan lingkungan sekiratnya Jadi secara sederhana dapat diartikan bahwa teori komunikasi pada dasarnya merupakan konseptualisasi atau penjelasan logis tentang fenomena peristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia. Peristiwa yang dimaksud mencakup produksi, porses, dan pengaruh dari sistem-sisstem tanda dan lambang yang terjadi dalam kehidupan manusia. 3) Penjelasan dalam Teori Penjelasan dalam teori tidak hanya menyangkut penyebutan nama dan pendefinisian variabel-variabel, tetapi juga mengidentifikasikan kebeeraturan hubungan di antara variabel. Menurut Littlejohn (1987), penjelasan dalam teori berdasarkan pada Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 19 ”prinsip keperluan” yakni suatu penjelasan yang menerangkan variabel-variabel apa yang kemungkinan dieperlukan untuk menghasilkan sesuatu. Contoh : Untuk menghasilkan X, barangkali diperlukan adanya Y dan Z. Selanjutnya, Littlejohn menjelaskan bahwa prinsip kepeprluan ini ada tiga macam yaitu 1) causal necessity ( keperluan kasual ) 2) Practical necessity (keperluan praktis), dan 3) logical necessity ( keperluan logis). Keperluan kasual berdasarkan atas hubungan sebab-akibat. Umpamanya, karena ada Y dan Z maka terjadi X. Keperluan praktis menunjuk pada kondisi hubungan tindakan-konsekuensi. Kalua menurut prinsip keperluankausal X terjadi karena Y dan Z, maka menurut prinsip penjelasan keperluan ppraktis Y dan Z memang bertujuan untuk, atau praktis akan menghasilkan X. Prinsip yang keiga (prinsip keperluan logis) beerdasarkan pada azas konsistensi logis. Artinya Y dan Z secara konsisten dan logis akan selalu menghasilkan X. Penjelasan dalam teori juga lebih lanjut dapat dibagi dalam dua katagori : Penjelasan yang memfokuskan pada orang/pelaku (person centered) dan penjelasan yang memfokuskan pada situasi (situation centered). Penjelasan yang memfokuskan pada orang/pelaku menunjuk pada faktor-faktor internal yang ada dalam diri seseorang (si pelaku). Semenetara penjelasan yang memfokuskan pada situasi menunjuk pad faktor-faktor yang ada di luar diri orang tersebut ( faktor eksternal ) 4) Sifat, Tujuan dan Fungsi Teori Sifat dan tujuan teori, menurut Abraram Kaplan (1964), adalah bukan semata untuk menemukan fakta yang tersembunyi, tetapi juga suatu cara untuk melihat fakta, mengorganisasikan serta mempresentasikan fakta tersebut. Suatu teori harus sesuai dengan ciptaan Tuhan, dalam arti dunia yang sesuai dengan ciri yang dimilikinya sendiri. Dengan demikian teori yang baik adalah teori yang konseptualisasi dan penjelasannya didukung oleh fakta serta dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Apabila konsep dan Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 20 penjelasan teori tidak sesuai dengan realitas maka keberlakuannya diragukan dan teori demikian tergolong teori semu. Teori juga mempunyai fungsi. Menurut Littlejohn, fungsi teori adalah Mengorganisasikan dan menyimpulkan Ini berarti dalam mengamati realitas kita tidak boleh melakukan secara sepotong-sepotong. Kita perlu mengorganisasikan dan mensintesiskan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan. Pola-pola dan hubungan-hubungan harus dapat dicari dan ditemukan. Pengetahuan kita tentang pola-pola dan hubungan-hubungan ini kemudian diorganisasikan dan disimpulkan. Hasilnya (berupa teori) akan dapatdipakai sebagai rujukan atau dasar bagi upaya-upaya studi berikutnya. Memfokuskan Artinya hal-hal atau aspek-aspek dari suatu objek yang diamati harus jelas fokusnya. Teori pada dasarnya hanya menjelaskan tentang suatu hal,bukan banyak hal Menjelaskan Maksudnya adalah bahwa teori harus mampu membuat suatu penjelasan tentang hal yang diamatinya. Penjelasan ini tidak hanya berguna untuk memahami pola-pola hubungan hubungan, tetapi juga menginterpretasikan peristiwa-peristiwa tertentu. Mengamati Fungsi ini menunjukkan bahwa teori tidak saja menjelaskan tentang apa yang sebaiknya diamati, tetapi juga memberikan petunjuk bagaimana cara mengamatinya. Oleh karena itulah teori yang baik penting karena bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengamati hal-hal rinci yang berkaitan dengan elaborasi teori. Membuat prediksi Meskipun kejadian yang diamati berlaku pada masa lalu, namum berdasarkan data dan hasil pengamatan ini harus dibuat suatu perkiraan tentang keadaan yang bakal terjadi apabila hal-hal yang digambarkan oleh teori juga tercerminkan dalak kehodupan Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 21 di masa sekarang. Fungsi prediksi ini terutama sekali penting bagi bidang-bidang kajian komunikasi terapan seperti peersuasi dan perubahan sikap, komunikasi dalam organisasi, dinamika kelompok kecil, periklanan, public relation, dan media massa Heuristik Aksioma umum menyebutkan bahwa teori yang baik adalah teori yang diciptakan dapat merangsang timbulnya upaya-upaya apenelitian selanjutnya. Hal ini dapatterjadi apabila konsep-konsep dan penjelasan-penjelasan teori cukup jelas dan operasional sehingga dapat dijadikan pegangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya Komunikasi Menunjukkan bahwa teori sebenarnya tidak menjadi monopoli si penciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan, dan terbuka terhadap kritikan-kritikan. Dengan cara ini maka modifikasi dan upaya penyempurnaan teori akan dapat dilakukan Kontrol/mengawasi Fungsi ini bersifat normatif. Hal ini dikarenakan bahwa asumsi-asumsi teori dapat kemudian berkembang menjadi norma-norma atau nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, teori dapat berfungsi sebagai sarana pengendali atau pengontrol tingkah laku kehidupan manusia Generatif Fungsi ini terutama sekali menonjol di kalangan pendukung tradisi/aliran pendekatan interpretatif dan teori kritis. Menurut pandangan teori ini, teori juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan kulturasi, serta sarana untuk menciptakan pola dan car kehidupan yang baru. 5) Pengembangan Teori Proses pengembangan atau pembentukan teori umumnya mengikuti model pendekatan ekperimental yang lazim dipergunakan dalam ilmu pengetahuan alam. Menurut pendekatan ini, biasa disebut Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 22 hypothetic-deductive method ( metoda hipotetis-deduktif), proses pengembangan teori melibatkan empat tahap sebagai berikut : Developing questions (pengembangan pertanyaan ) Forming hypotheses ( membentuk hipotesis) Testing the hyphotheses ( menguji hipotesis ) Formulating theory ( menformulasikan teori ) Ada beberapa patokan yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengevaluasi kesahihan teori antar lain : Cakupan teoritis (theoritical scope ) yang menjadi permasalahan pokok disini adalah apakah suatu teori yang dibangun memiliki prinsip ”generality” atau keberlakuuan umum Kesesuaian ( appropriateness ), yakni apakah isi teori sesuai dengan pertanyaan-peertanyaan / permasalahan-permasalahan teoritis yang diteliti. Heuristic. Yang dipertanyakan adalah apakah suatu teori yang diebntuk punya potensi untuk menghasilkan penelitian atau teori-teori lainnya yang berkaitan Validitas ( validity) atu konsistensi internal dan eksternal. Konsistensis internal mempersoalkan apakah konsep dan penjelasan teori konsisten dengan pengamatan. Konsistensi eksternal mempertanyakan apakah teori yang dibentuk didukung oleh teori teori lainnya yang telah ada Parsimony (kesederhanaan ). Inti pemikirannya adalah bahw teori yang baik adalah teori yang berisikan penjelasan-penjelasan yang sederhana. D. KOMPONEN KONSEPTUAL DAN JENIS-JENIS TEORI KOMUNIKASI Sejalan dengan perkembangan ilmu komunikasi sebagai ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner, definisi mengenagi komunikasi yang diberikan para ahli pun sangat beragam. Masing-masing punya penekanan arti, cakupan,m dan konteksnya yang Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 23 berbeda sat usama lainnya. Frank.E.X.Dance (1976) seorang sarjana Amerika yang menekuni bidang komunikasi, menginventarisasi 126 definisi komunikasi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Dari definisi-definisi ini ia menemukan adanya 15 (lema belas) komponen konseptual pokok antara lain : 1. Simbol-simbol / verbal / ujaran Komunikasi adalah pertukaran pikiran atau gagasan secara verbal (Hoben, 1954) 2. Pengertian / pemahaman Komunikasi adalah suatu proses dengan mana kita bisa memahami dan dipahami oleh orang lain. Komunikasi merupakan proses yang dinamis dan secara konstan berubah sesuai dengan situasi yang berlaku (Anderson, 1959) 3. Interaksi / hubungan / proses sosial Interaksi, juga dalam tingkatan biologis, adalah salah satu perwujudan komunikasi, karena tanpa komunikasi tindakan-tindakan kebersamaan tidak akan terjadi (Mead, 1963) 4. Pengurangan rasa ketidakpastian Komunikasi timbul didorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian, beertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego (Brandlund, 1964) 5. Proses Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-laian (Berelson dan Steiner, 1964) 6. Pengalihan/penyampaian/pertukaran Penggunaan kata komunikasi tampaknya menunjuk kepada adanya sesuatu yang dialihkan dari suatu benda atau orang ke benda atau orang lainnya. Kata komunikasi kadang-kadang menunjuk kepada apa yang dialihkan, alat apa yang dipakai sebagai saluran pengalihan, atau menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan. Dalam banyak kasus, apa yang Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 24 dialihkan itu kemudian menjadi milik atau bagian bersama. Oleh karena itu komunikasi juga menuntut adanya partisipasi (Ayer, 1955) 7. Menghubungkan / menggabungkan Komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan satu bagian dalam kehidupan dengan bagian lainnya (Ruesch, 1957) 8. Kebersamaan Komunikasi adalah suatu proses yang membuat sesuatu dari semula dimiliki oleh sesorang (monopoli seseorang) menjadi dimiliki oleh dua orang atau lebih (Gode, 1959) 9. Saluran/alat/jalur Komunikasi adalah alat pengiriman pesan-pesan kemiliteran/order, dan lain-lain seperti telegraf, telepon, radio,, kurur, dan lain-lain (American Colledge Dictionary) 10. Replikasi/memori Komunikasi adalah proses yang mengarahkan perhatian seseorang dengan tujuan mereplikasi memori (Cartier dan Harwood, 1953) 11. Tanggapan diskriminatif Komunikasi adalah tanggapan diskriminatif dari suatu organisme terhadap suatu stimulus (Stevens, 1950) 12. Stimuli Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai penyampaian informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap penerima (Newcomb, 1966) 13. Tujuan / kesengajaan Komunikasi pada dasarnya, penyampaian yang disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku pihak peneerima (Miller 1966) 14. Waktu / situasi Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 25 Proses komunikasi merupakan suatu transisi dari suatu keseluruhan struktur situasi ke situasi yang lain sesuai pola yang diinginkan (Sondel, 1956) 15. Kekuasaan / kekuatan Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan/kekuasaan (Schacter, 1951) Kelimabelas komponen diatas merupakan kerangka acuan yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menganalisis fenomena peristiwa komunikasi. Komponen-komponen tersebut, baik secara tersendiri, secaa gabungan (kombinasi dari beberapa komponen) ataupun secara keseluruhan, dapat dijadikan sebagai fokus perhatian dalam penelitian E. JENIS-JENIS TEORI KOMUNIKASI Menurut Litlejohn (1989), berdasarkan metode penjelasan serta cakupan objek pengamatan, secara umum teori-teori komunikasi dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama disebut kelompok teori-teori umun (general theory) kelompok kedua adalah kelompok teori-teori kontekstual (contextual theories) Ada empat jenis teori yang diklasifikaasikan masuk ke dalam kelompok teori-teori umum yaitu 1. Teori fungsional dan struktura Ciri dua jenis teori ini adalah adanya kepercayaan pandangan tentang beerfungsinya secara nyata stuktur yang berada di luar diri pengamat. Menurut pandangan ini, seorang pengamat adalah bagian dari stuktur. Oleh karena itu cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur yang berada di luar dirinya Meskipun pendekatan fungsional dan struktural ini sering kali dikobinasikan, namun masing-masing mempunyai titik penekanan yang berbeda. Pendekatan strukturalisme yang berasal dari linguistik, menekankan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut pengorganisasian bahasa dan sistem sosial. Pendekatan fungsionalime yang berasal dari biologi, menekankan pengkajiannya Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 26 tentang cara-cara mengorganisasikan an mempertahankan sistem. Apabila ditelaah kedua pendekatan ini sama-sama mempunyai penekanan yang sama yakni tentng sistem sebagai struktur yang berfungsi Kedua pendekatan ini mempunyai beberapa persamaan dan karakteristik sebagai berikut a. Baik pendekatan strukturalisme maupun pendekatan fungsionalisme, dua-duanya sama-sama lebih mementingkan synchrony (stabilitas dalam kurun waktu tertentu) daripada diachrony (perubahan dalam kurun waktu tertentu.) b. Kedua pendekatan sama-sama mempunyai kecenderungan memusatkan perhatiannya pda akibat-akibat yang tidak diinginkan daripada hasil-hasil yang sesuai tujuan. Kalangan sturkturalis tidak mempercayai konsep-konsep subjectivitas dan kesadaran. Bagi mereka yang diamati terutama sekali adalah faktor-faktor yang berada di laur kontrol kesadaran manusia c. Kedua pendekatan sama-sama punya kepercayaan bahwa realitas itu pada dasarnya objectif dan independent (bebas). Oleh karena itu pengetahuan, menurut pandangan ini, dapat ditentukan melalui metode pengamatan (observasi) empiris yang cermat. d. Pendekatan sturkturalisme dan fungsionalime juga sama-sama bersifat dualistik, karena kedua-duanya memisahkan bahasa dan lambang dari pemikiran-pemikiran dan objek-objek yang disimbolkan dalam komunikasi. Menurut pandangan ini, dunia ini hadir karena dirinya sendiri, sementara bahasa hanyalah alat untuk merepresentasikan apa yang telah ada e. Kedua pendekatan juga sama-sama memegang prinsip the correspondence theory of truth (teori kebenaran yang sesuai). Menurut teori ini bahasa harus sesuai dengan realitas.simbol-simbol harus merepresentasikan sesuatu secara akurat 2. Teori-teori behavioral dan cognitive Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 27 Sebagaimana halnya dengan teori-teori stukturalis dan fungsional, teori-teori behavioral dan kognitif juga merupakan gabungan dari dua tradisi yang berbeda. Asumsinya tentang hakekat dan cara menemukan pengetahuan jgua sama dengan aliran strukturalis dan fungsional. Perbedaan utama antara aliran behavioral dan kognitif dengan aliran stukturalis dan fungsional hanyalah terletak padafokus pengamatan serta sejarahnya. Teori-teori strukturalis dan fungsional yang berkembang dari sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya cenderung memusatkan pengkajiannya pada hal-hal yang menyangkut stuktur sosial dan budaya, semenara teori-teori behavioral dan kgonitif yang berkembang dari psikologi dan ilmu-ilmu pengatahuan behavioral lainnya, cenderung memusatkan pengamatan padasiri manusia secara individual. Salah satu konsep pemikirannya yang terkenal adalahssentang model ”S-R” (Stimulus - respons) yang menggambarkan proses informasi antara ”stimulus (rangsangan) dan ”respon” (tanggapan) Teori-teori Behavioral dan cognitif juga mengutamakan variabel analitic (analisis variabel). Analisis ini pada dasarnya merupakan upaya mengidentifikasikan variebl-variabel kognitif yang diangap penting serta mencari hubungan korelasi diantar variabel. Anlisis ini juga menguraikan tentang cara-cara bagaimana varabel-variabel proses kognitif dan informasi menyebutkan atau menghasilkan informasi tertentu Komunikasi menurut pandangan teori ini, dianggap sebagia manifestasi dari tingkah laku, proses berpikir dan fungsi ”bio-neural” dari individu. Oleh karenanya, variabel-variabel penentu yang memegang peranan penting terhadap sarana kognisi seseorang (termasuk bahasa) biasanya berada di luar kontrol dan kesadaran orang tersebut. 3. Teori-teori konvensional dan interaksional Teori-teori ini berpandangan bahwa kehidupan sosial merupakan suatu proses interaksi yang membangun, memelihara serta mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, termasuk dalam hal ini bahasa dan simbol-simbol komunikasi.menurut teori ini, Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 28 dianggap sebagai alat perekat masyarakat. Kelompok teori ini berkembang dari aliran pendekatan ”interaksionisme simbolis , sosiologi dan filsafat bahasa ordiner. Bagi kalangan pendukung teori-teori ini, pengetahuan dapat ditemukan melalui metode interpretasi Berbeda dengan teori-teori stukturalis yang memandang stuktur sosial sebagai penentu, teori-teori inteaksional dan konvensional melihat stuktur sosial sebagai produk dari interaksi. Fokus pengamatan teori-teori ini bukan terhadap stuktur, tetapi bagaimana bahasa dipergunakan untuk membentuk stuktur sosial, serta bagaimana bahasa dan simbol-simbol lainnya direproduksi, dipelihara serta diubah dalam penggunaanya. Makna menurut pandangan teori ini, tidak merupakan suatu kesatuan obyektif yang ditransfer melalui komunikasi, tetapi muncul dari dan diciptakan oleh interaksi. Dengan kata lain, makna merupakan produk dari interaksi Menurut teori-teori interaksinal dan konvensional, makna pada dasarnya merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh melalui interaksi. Oleh karena itu, makna dapat berubah dari wakti ke waktu, dari koneksi ke koneksi,serta dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Dengan demikian sifat objektivitas dari makna adalah relatif dan temporer 4. Teori-teori kritis dan interaktif Gagasan-gagasan teori ini banyak berasal dari berbagai tradisi, seperti sosiologi interpretif, pemikiran Max Weiber , phenomenology dan hermeneutic. Meskipun ada beberapa perbedaan di antara teori-teori yang termasuk dalam kelompok ini, namun terdapat dua karakteristik umum. 1) penekanan terhadap peran subyektifitas yang didasarkan pada pengalaman individual. 2) makna atau ”meaning” merupakan konsep kunci dalam teori-teori ini. Pengalaman dipandang sebagai meaning centered atau dasarpemahaman makna. Dengan memahami makna dari suatu pengalaman, seseorang akan menjadi Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 29 sadar akan kehidupan dirinya. Dalam hal ini bahasa menjadi konsep sentral karena bahasa dipandang sebagai kekuatan yang mengemudikan pengalaman manusia. Disamping persamaan umun, juga terdapat perbedaan yang mendasar antara teori-teori interpretatif dan teori-teori kritis dalam hal pendekatannya. Pendekatan teori interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat perpektif dan keputusan-keputusan absolut tentang fenomena yang adiamati, pengamatan, menurut teori interpretif, hanyalah sesuatu yang bersifat tentatif dan relatif. Sementara teori-teori kritis lazimnya cenderung menggunakan keputusan-keputusan yang absolut prespektif dan juga politis sifatnya. Berdasarkan konteks atau tingkatan analisisnya, teori-teori komunikasi secara umum dapat dibagi dalam konteks atau tingkatan sebagai berikut : a) Intrapersonal Communication Adalah proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang. Yang menjadi pusat perhatian disini adalah bagaimana jalannya proses pengolahan informasi yang dialami seseorang melalui sistem syarat dan indranya. Teori-teori komunikasi intrapersonal umumnya membahas mengenai proses pemahaman, ingatan dan interpretasi terhadap suatu simbol-simbol yang ditangkap melalui pancaindera b) Interpersonal communication Adalah komunikasi antarperorangan yang bersifat pribadi, baik yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan-kegiatan seperti percakapan tatap muka, percakapan melalui telepon, surat menyurat pribadi merupakan contoh-contoh komunikasi antarpribadi.teori-teori komunikasi antarpribadi umumnya memfokuskan pengamatannya pada bentuk-bentuk dan sifat hubungan, percakapan, interaksi dan karakteristik komunikator c) Group communication Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 30 Komunikasi kelompok memfokuskan pembahasannya pda interaksi di antara orang-orang dalam kelompok-kelompok kecil. Komunikasi kelompok juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Teori-teori komunikasi kelompok antara lain membahas tentang dinamika kelompok, efisiensi dan efektivitas penyampaian informasi dalam kelompok, pola dan bentuk komunikasi, serta pembuatan keputusan. d) Organizational communication Komunikasi organisasi menunjuk pada pola dan bentuk komunikasi yang terjadi dalam konteks dan jaringan organisasi. Komunikasi organisasi melibatkan bentuk-bentuk komunikasi formal dan informal, serta bentuk-bentuk komunikasi antarpribadi dan komunikasi kelompok. Pembahasan teori-teori komunikasi organisasi antara lain menyangkut stuktur dan fungsi organisasi, hubungan antar manusia , komunikasi dan proses pengorganisasian, serta kebudayaan organisasi e) Mass communication Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang besar. Proses komunikasi massa melibatkan aspek-aspek k omunikasi intrapribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok, dan komunikasi organisasi. Teori-teori komunikasi massa umumnya memfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang menyangkut strukutr media, hubungan media dan masyarakat, hubungan antara media dan khalayak, aspek-aspek budaya dari komunikasi massa, serta dampak serta hasil komunikasi masa terhadap individu F. EMPAT PERSPEKTIF DALAM ILMU KOMUNIKASI Dilihat dari metode dan logika terdapat 4 (empat ) perspektif yang mendasari pengembangan teori kommuniaksi. Keempat perpektif tersebut adalah 1. Covering Laws theories Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 31 Pada dasarnya pemikiran Covering Laws theories berangkat dari prinsip sebab akibat atau hubungan kausal. Rumusan umum dari prinsip ini antara lain diceerminkan dalam pernyataan-pernyataan hipotesis yang berbunyi : Jika A....................maka B.................... Pemikiran covering laws model ini diperkenalkan oleh Dray. Menurut Dray penjelasan covering laws theories didasarkan pada dua asas. Pertama, bahwa teori berisikan penjelasan-penjelasan yang berdasarkan pada keberlakuan umum/hukum umum. Kedua, bahwa penjelasan teori berdasarkan analisa keberaturan Keterbatasan dari perpestif ini antara lain a) keberlakukan prinsip universalitas bersifat relatif, b). Formula statistik covering laws sulit diterapkan dalam mengamati tingkah laku manusa karena pada dasarnya tingkah laku manusia itu berubah-ubah dan sulit diterka. C) manusia dalam kehidupannya juga terikat oleh ikatan-ikatan kultur spesifik;d) kehidupan manusia penuh keragaman dan kompleks, e) sifat kehidupan manusia bisa berubah-ubah f) analisa covering laws terlalu didasarkan pada perhitungan-perhtungan statistik yang belum tentu sesua dg realita 2. Rules Pemikiran rules theori didasarkan prinsip praktis bahwa manusia aktif memilih dan mengubah aturan-aturan yang menyangkut kehidupannya. Umpamanya si A mempunyai suatu maksud tertentu ( Y ) dalam upayanya mencapai Y ini, ia akan aktif dan selektif melakukan tindakan tertentu ( X ) Ciri penting dari rules theori ; 1) aturan (rules) pada dasarnya merefleksikan fungsi-fungsi perilaku dan kognitif yang kompleks dari kehidupan manusia. 2) aturan menunjukkan sifat-sifat keberaturan yang berbeda dari keberaturan sebab akibat 3. System theories Secara umum pemikiran pendekatan sistem mempunya empat ciri/sifat pokok yaitu a) sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian, elemen-elemen, unsur-unsur, yang masing-masing mempunyai karakteristiknya sendiri b) sistem berada secara Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 32 tetap dalam lingkungan yang berubah. C) sistem hadir sebagai reaksi atas lingkungan, d) sistem merupakan koordinasi dari hierarki Kerangka kerja sistempada dasarnya tidak bersifat monolitis, sistem mempunya 3 model yaitu : a) General system theory. b) sybermetics dan c) struktural fuction 4. Symbolic interactions Kerangka pemikiran symbolic interation berasal dari disiplin sosiologi. Terdapat tujuh proposisi umum yang mendasari pemikiran symbolic interactionism a. Bahwa tingkah laku dan interaksi antar manusia dilakukan melalui peraturan lambar –lambang yang mengandung arti b. Orang menjadi manusiawi setelah berinteraksi dengan orang-orang lainnya c. Bahwa masyarakat merupakan himpunan dari orang-orang yang berinteraksi d. Bahwa manusia secara sukarela aktif membentuk tingkah lakunya sendiri e. Bahwa kesadaran atau proses berpikir seseorang melibatkan proses interaksi dalam dirinya f. Bahwa manusia membangun tingkah lakunya dalam melakukan tindakan-tindakan g. Bahwa untuk memahami tingkah laku manusia diperlukan penelaahan tentang tingkah laku / perbuatan yang tersembunyi A. Pokok –Pokok Pikiran George Herbert Mead Menurut Mead orang adalah aktor (pelaku dalam masyarakat. Bukan reaktor. Sementara social act (tindakan sosial) merupakan payungnya. Mead juga menuyatakan bahwa tindakan merupakan suatu unit lengkap yang tidak bisa dianalisis menurut bagian-bagiannya secara terpisah. Tindakan sosial mencakup tiga bagian yang saling berkaitan 1. Individual gesture (gerak isyarat awal) dari seorang individu Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 33 2. Respon (tanggapan) atas gerak isyarat tersebut dari individu-individu lainnya, baik secara nyata ataupun tersembunyi 3. Asil dari tindakan yang dipersepsikan oleh kedua belah pihak Menurut Mead masyarakat merupakan hmpunan dari perbuatan-perbuatan kooperatif yang berlangsung di antara para warga/anggotanya namun demikian perbuatan kooperatif ini bukan hanya menyangkut proses fisik-biologis saja, tetapi juga menyangkut aspek psikologis krn melibatkan proses berpikir Salah satu konsep pokok yang dicetuskan Mead adalah konsep the generalized other. Konsep ini pad ahakekatnya menunjukkan bagaimana seseorang melihat dirinya sebagaimana orang-orang lain melihat dirinya B. Pokok –Pokok Pikiran Herbert Blumer Herbert Blumer adalah pencetus istilah ”symbolic interactionism pikiran-pikiran Blumer antara lain 1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan pemahaman arti dari sesuatu tersebut 2. Pemahaman arti ini diperoleh melalui interaksi 3. Pemahaman arti ini juga merupakan hasil proses interpretasi. Dengan demikian meaning atau arti dalam sesuatau,menurut Blumer , merupakan hasil dari proses internal dan eksternal Blumer seperti halnya Mead, memandang orang sebagai aktor, bukan reaktor. Tindakan atau aksi sosial menurut Blumer merupakan perluasan dari tindakan-tindakan individu dimana masing-masing individu menyesuaikan tindakannya, sehingga hasilnya merupakan gabungan. Dalam pembahasannya Blumer juga mengemukakan aspek-aspek metodologi, kegiatan penyelidikan atau penelitian yang dilakukan umumnya menyangkut enam hal 1. Peneliti harus memiliki kerangka kerja atau model empiris yang jelas hal ini penting karena penelitian tidak bisa dilakukan dalam tingkatan abstraksi yangtidak bisa diukur dalam realita Pemahaman Konseptual Pendekatan dan Pengertian Bacaan Kuliah Teori Komunikasi Page 34 2. Penelliti harus mempunyai pertanyaan-pertanyaan sebgai kerangka permasalah pokok yang akan dikaji 3. Penelitia harus melakukan pengumpulan data melalui cara-cara yang realistis 4. Peneliti harus mampu menggali pola-pola dan karakteristik-karakteristik hubungan berdasarkan data yang ada 5. Peneliti harus membuat interpretasi atas hasil pengumpulan datanya 6. Peneliti juga mengonseptualisasikan hasil penyelidikannya C. Pokok –Pokok Pikiran Manford Kuhn Secara umum pokok pikiran Manfor Kuhnlebih bersifat mikro dan empiris/kuantitatif. Ada 4 hal yang dikemukakan oleh Kuhn : 1. Objek sasaran Obyek sasara bisa mencakup semua aspek realitas, dapat berbebtuk benda, kualitas, peristiwa, atau keadaan 2. Rencana tindakan 3. Orientational other 4. Konsep diri D. Pokok –Pokok Pikiran Kenneth Burke